The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 45. Stop for A While



“Di sini kau rupanya, Perebut!” seru seorang yang begitu Alessa kenali, Phei.


“Perebut yang sebenarnya adalah kau, Phei!” balas Alessa santai, tidak tersinggung.


“Jelas-jelas kau lah seorang perebut suami orang, ternyata suamimu itu sudah lama menikah dan menjadikan kau istri keduanya, siapa yang perebut sekarang, huh? Kau!” balas Phei tak mau kalah.


Alessa terdiam sejenak, berita hoax tersebar lagi? Pikirnya.


“Terserah apa katamu!” Alessa malas meladeni ucapan Phei. Dia di sini menunggu Shee dan Dyandra, entah di mana kedua manusia berprofesi model itu hingga dia bertemu wanita ular ini.


“Kau sama seperti ibumu, perebut!” Alessa gelap mata seketika, dengan sekali kedipan, ia sudah mengebrak meja kasar.


“Perebut sepertimu sangat tidak tahu diri, Phei! Jika ibuku perebut, dia tidak pernah sekalipun berpikir untuk memusnahkanmu! Berkebalikan denganmu, kau membunuh ibuku agar kau bisa menikahi suami ibuku! Jelas di sini siapa yang perebut, kau, Phei! Sekalipun aku perebut, aku tidak mengharapkan harta suamiku, tetapi cintanya! Dan kau, kau mengharapkan keduanya, betapa egoisnya dirimu!” hardik Alessa.


“Sedari dulu aku diam, karena aku menghargai ayahku. Aku senang dia menceraikanmu di saat dia tidak memiliki apa-apa, yang dia punya hanya aku dan Lucas!” telak Alessa.


Wajah Phei memerah malu, semua orang di kafe tersebut memandang mereka ingin tahu. Terlebih Alessa yang kini muncul di depan publik. Puas melemparkan kalimat menusuk, Alessa berjalan keluar dan mengajak kedua temannya yang sudah ikut menonton untuk pindah dari lokasi tersebut. Tanpa membantah, Shee dan Dyandra patuh mengikuti Alessa.


“Kurasa, ada yang berbeda darimu,” komentar Shee pertama kali setelah mereka duduk di sebuah restoran.


“Apa?” tanyanya dengan ekspresi tidak peduli.


“Tubuhmu lebih berisi, lebih sexy kelihatannya.”


“Ya. Kau hamil?” tembak Dyandra langsung terdengar gembira. Alessa menatap keduanya penuh perhitungan.


“Oh, jangan menatap kami seperti itu. Dyandra tengah hamil juga, dia bercerita panjang mengenai tanda-tanda wanita hamil, sedari tadi dia menduga kau hamil,” jelas Shee jengah ditatap demikian.


“Kau hamil?” tanya Alessa pada Dyandra, wanita itu mengangguk antusias.


“Lima minggu,” jawab Dyandra memberitahu tanpa diminta.


“Kau sendiri?” tanya Dyandra balik.


“12 minggu,” ungkap Alessa setelah berpikir panjang.


Alessa pikir salah satu mereka akan bertanya lebih lanjut tentang ayah dari anak yang ia kandung ini, akan tetapi tidak. Pada dasarnya, Alessa mau berteman dengan kedua manusia ini karena keduanya paham betul artinya menghargai privasi seseorang. Lagipula, mereka bisa menduga-duga dari berita yang tersebar luas di media saat ini, bukan? Bagi Alessa, ketika seseorang menghargaimu, dia jauh lebih baik dibanding dia yang bersikap baik tanpa cela, tetapi membicarakanmu di belakang.


“Ngomong-ngomong, Pak Bos bermaksud mengundangmu sebagai model di acara festival negara bulan depan—”


“Itu tidak akan terjadi, Suami Vanessa melarang,” potong Shee yang notabene-nya adalah istri pak bos, Savas.


“Aku sungguh tidak menyangka, kau bisa menarik perhatian seorang Nickholas, how’s cool that!” puji Shee.


“Kalian tidak menganggapku sebagai pelakor?” pancing Alessa, kedua menggeleng.


“Savas sedikit tahu tentang kalian, dari awal pun kau sebetulnya diistimewakan. Apa kau sadar itu?” tanya Shee, Alessa menggeleng.


“Jujur, aku sempat cemburu, kukira Savas menyukaimu. Tapi, aku salah, Mr. Bateline dan Savas cukup dekat, tidak heran Savas menghargaimu sebagai orang terdekat Mr. Bateline,” ungkap Shee.


“Apa Nick meminta suamimu memudahkan pekerjaanku?” Shee menggeleng keras.


“Savas melihat kinerjamu dan kau mampu memenuhi ekspetasinya,” aku Shee.


“Kami memanggilmu Mrs. Bateline saja bagaimana?” goda Dyandra mengubah topik.


“Ya, Dyandra benar. Secara kau adalah istri dari seorang Nickholas Bateline, pria yang diincar wanita-wanita di muka bumi ini!” sambung Shee agak berlebihan di mata Alessa.


...***...


“Tuan Anthony meminta Anda untuk menemuinya, Nyonya.” Alessa yang tengah berbincang bersama Noura seketika terdiam.


“Darimana dia mengabarimu, Uxel?” Uxel menunjukkan pesan yang ia terima pada Alessa.


Alessa mengangguk sekali, dia segera bersiap menemui Anthony. Adanya pertemuan ini Alessa rasa berkaitan dengan berita yang heboh tentang dirinya. Dia tidak kaget sama sekali, malah dia menunggu panggilan ini, Alessa paham pemberitaan ini berdampak pada atensinya sebagai seorang mata-mata.


Sesampainya di kantor, Alessa bertemu dengan team-nya, yang sengaja menunggu kedatangan Alessa. Kelihatan sekali mereka telah mengetahui hukuman apa yang akan Alesa terima dari pemberitaan tersebut. Alessa dapat menebak sedikit, tetapi selebihnya hanya Anthony yang memutuskan.


“Aku akan menemui kalian nanti,” ucap Alessa dan berlalu dari hadapan team-nya.


“Kau tunggu di sini,” ucap Alessa pada Uxel sebelum memasuki ruangan Anthony.


“Selamat siang, Alessa.” sapa Anthony.


“Siang,” balas Alessa singkat.


“Kau tampak biasa, kuyakin kau tahu maksud undanganku siang ini,” ungkap Anthony.


“Langsung intinya saja, Anthony.” Anthony mengangguk, bibirnya tersenyum tipis.


“Tersebarnya pemberitaanmu, membuat agent kita dilirik oleh petinggi negara. Itu baru petinggi yang dipastikan menutup mulut tentang pekerjaanmu sebenarnya, lalu bagaimana dengan masyarakat umum?” Anthony menatap Alessa lekat, yang dibalas Alessa sama lekatnya. Kemudian, Anthony menghela nafas.


“Masyarakat ingin tahu tentangmu, bahkan mereka mencari tahu semua berkaitan tentangmu. Katakan nama aslimu tertutup rapat, tapi bagaimana dengan wajahmu yang tersorot dimana-mana? Itu jelas buruk untukmu sebagai mata-mata terbaik kami,” desah Anthony.


“Setelah banyak pertimbangan, kami memutuskan agar kau diberhentikan sementara waktu sampai batas yang belum ditentukan. Ini juga demi nama baik White Agent, kita tidak bisa membahayakan teman-teman yang lainnya. Selagi beritamu masih tersorot luas, itu akan menyulitkanmu dalam menjalankan tugas, terlebih saat ini kau tengah mengandung,” tambahnya. Alessa secepat kilat menatap Anthony tajam, darimana dia tahu? Anthony tersenyum kecil.


“Kau dan aku adalah bagian Klan Hellbert, Alessa...” ujar Anthony. Sekarang Alessa tahu, campur tangan Nick tertuang di sini.


“Jika pemberitaan itu menghilang, apa aku bisa kembali bekerja?” Anthony mengangguk.


“Tentu, Alessa... kau adalah mata-mata terbaik yang kami miliki. Nantinya kau bisa kembali setelah permasalahanmu selesai,” jawab Anthony.


“Oh, ya... dewan petinggi memberimu hak istimewa, artinya kau dapat bekerja dari jarak jauh dan tunjanganmu akan diberi full tanpa terkecuali,” jelas Anthony, Alessa mengangguk paham.


Semangat Alessa patah, perkataan Antony bahwa dia dapat bekerja secara jarak jauh, adalah makna lain dari dia tidak bisa melaksanakan tugasnya langsung ke lapangan, hanya sebatas mengawasi di balik layar.


“Baik, aku mengerti,” terima Alessa.


“Kami menunggumu kembali, Alessa.”


“Ya. Terima kasih, Anthony...” ucap Alessa kemudian bangkit, yang diikuti oleh Anthony dan mereka saling menjabat tangan.


“Aneh rasanya kau akan berhenti sementara waktu, tidak ada lagi Alessa yang menentangku terang-terangan,” komentar Anthony berat.


“Kau pasti senang karena itu!” balas Alessa.


“Tidak ada yang menyenangkan selagi tidak ada yang membantah perintahku. Kau satu-satunya orang yang berani melakukan itu,” ucap Anthony tak mau kalah.


“Aku pergi!” pamit Alessa malas meladeni kalimat sang pemimpin.


“Kita langsung pulang, Nyonya?” tanya Uxel ketika Alessa membuka pintu.


“Sebentar, aku menemui teman-temanku terlebih dahulu.” Uxel mengangguk dan memilih menunggu di depan pintu lift.