
Mendengar langkah kaki mendekat, Alessa segera berjalan ke salah satu pintu ruangan terbuka. Setelah langkah tersebut menjauh, Alessa berniat keluar melanjutkan pencarian, tetapi niatnya ia urungkan saat mendengar rintihan anak kecil dari sebuah lemari. Tanpa menunggu lama, Alessa membuka dan mendapati seorang gadis delapan tahun di sana.
“Hai, kau baik-baik saja?” tanya Alessa lembut, gadis itu menggeleng.
Sedetik kemudian, gadis itu tersenyum menyeramkan, tidak ada bentuk tangisan di wajahnya. Baju acak-acakan serta darah mengalir di beberapa bagian tubuh. Alessa mengernyit melihat ekspresi anak ini yang tidak wajar, satu pemikiran dapat ia simpulkan.
“Apa mereka melakukan sesuatu kepadamu?” tanya Alessa lembut, anak ini mengangguk.
“Apa yang mereka lakukan?”
“Menyentuhku.” Alessa menggeleng prihatin, seusia gadis kecil ini seolah mengerti arti kata menyentuh. Bagaimana bisa ada manusia di dunia ini yang tega memperlakukan anak-anak di bawah umur sekeji itu?
“Kau mau ikut denganku?” Gadis itu menggeleng.
“Kenapa?”
“Mereka akan membunuhku.”
Alessa benar-benar tidak dapat mengekspresikan diri, gadis kecil malang ini mengatakan kalimat tersebut dengan tenang. Dia yakin, gadis ini melewati banyak kesadisan dan dipaksa dewasa sebelum umurnya.
“Aku berjanji akan melindungimu. Mereka tidak bisa membunuhmu selama kau disisiku,” ucap Alessa. Entah mengapa dia mengucapkannya, itu berlalu begitu saja.
“Kau berjanji?” Gadis itu menatap Alessa penuh harap.
“Ya, aku berjanji.”
“Siapa namamu?” tanya Alessa.
“Keilana.”
“Baik, Keilana. Sekarang ikut aku dan jadi anak baik, okey?” pinta Alessa, gadis itu mengangguk.
Alessa menggandeng tangan Keilana, mengendap perlahan-lahan. Dari informasi yang ia dapat melalui earpiece, mereka mendapatkan anak-anak tidak di dalam satu ruang yang sama. Alessa memberi peringatan, bisa saja ini jebakan.
“Alessa.” Blue memanggil Alessa, kebetulan dia dan Alessa bertemu.
“Kau menemukan anak-anak juga?” tanya Blue yang juga mengandeng seorang anak laki-laki.
“Ya.”
“Kita tidak dapat membawa anak-anak ini bersama. Bagaimana jika nanti mereka melihat sesuatu yang tidak seharusnya anak seusia mereka lihat,” ucap Blue, Alessa mengangguk membenarkan.
“Mereka menahan anak-anak di tempat-tempat berbeda. Kau mendapatkan informasi dari mereka yang berada di ruang bawah tanah?” tanya Blue serius.
“Ya. Mereka menemukannya, puluhan anak di sana,” jawab Alessa.
“Berapa jumlah jika ditotalkan?”
“100 lebih.”
“Hai, siapa kalian?” teriak seseorang di ujung sana.
“Blue, bawa anak-anak ini. Tugaskan yang lainnya untuk menjaga anak-anak di lokasi aman,” perintah Alessa seraya menyerahkan tangan Keilana kepada Blue.
“Hati-hati, Alessa.”
“Kau juga,” ucap Alessa terakhir kali dan menghadapi seorang pria berbadan besar.
Namun, Alessa memilih diam beberapa sesaat. Dia menunggu pria itu berjalan ke arahnya, sesampai pria itu berharak dua meter, Alessa tersenyum.
“Kutebak, kau adalah Yero. Benar, kan?” Pria itu tampak terkejut, Alessa semakin melebarkan senyumnya.
“Siapa kau?”
“Bukan siapa-siapa. Hanya saja, aku akan menghabisimu jika menghalangi langkahku,” peringat Alessa.
“Benarkah? Kukira kau membunuhku setelah aku mengobrak-abrik tubuhmu. Oh, atau aku membunuhmu setelah itu saja?” Pria itu mengucapkan dengan nada meremeh.
Alessa menghela nafas, batinnya cukup terhina. Tidak menunggu lama lagi, Alessa melempar pisau kecilnya tepat di jantung pria itu yang saat ini melotot kaget dan terjatuh ke lantai.
“Badanmu saja yang besar, pemikiranmu yang kecil!” Alessa melanjutkan langkahnya.
“Kami dikepung, ruang bawah tanah!” ucap seseorang lewat earpiece.
Sepuluh meter dari Alessa berdiri, Greisy, William, dan dua orang Agent Serbia—yang entah siapa namanya—dikepung oleh sepuluh pria. Kira-kira di belakang tim-nya, kurang lebih 15 anak mereka lindungi.
“Siapa ketua kalian? Berani sekali membantu anak-anak itu kabur!” teriak seseorang.
“Kalian ingin menghantarkan nyawa kemari?” remehnya.
“Bukan nyawa kami, tapi nyawamu yang ingin kami hantarkan!” seru William.
“Kau pasti ketuanya,” tunjuk seseorang tersebut.
“Aku ketuanya,” ucap Alessa datar, tak gentar ia melewati mereka hingga berdiri tepat di depan pria yang berbicara tadi.
“Kau mencariku?” Pria itu tersenyum sombong mendengar ucapan Alessa.
“Ya. Berikan anak-anak itu padaku, maka kalian semua kubebaskan!”
“Bagaimana jika aku katakan tidak?” ucap Alessa menantang.
“Pilihan salah!”
“Make it clear, lepaskan mereka semua, maka tidak ada pertumpahan darah di sini. Aku sedang malas meladeni kau atau pun bawahanmu,” tawar Alessa dengan wajah malas.
Pria itu tertawa lepas, sedangkan mood Alessa semakin tidak bagus mendengar tawa mengejek pria di depannya ini.
“Tangkap wanita ini,” titah pria itu pada bawahannya.
Gesit, Alessa mengindar dan beberapa kali melayangkan pukulan. Dua menit kemudian, dua bawahan terkapar di bawah kaki Alessa. Dua orang lagi maju, guna mempersingkat waktu, Alessa langsung mengayunkan pisaunya melumpuhkan pergerakan keduanya.
Alessa tidak tahan, dia mengeluarkan pistol. Dalam hitungan lima detik, lima orang tumbang. Sayangnya, Alessa kehilangan fokus saat suara teriakan anak perempuan menggema dan matanya terpaku pada perut anak tersebut mengeluarkan darah.
“Alessa, fokus!” teriak William mengalihkan Alessa.
Namun, satu tembakan berhasil bersarang di bahunya. Alessa masih datar, membiarkan bahunya terluka. Ia memuntahkan anak pelurunya ke satu orang yang menembaknya.
“Kuakui, kalian memang hebat. Aku menyerah, kalian bisa membawa anak-anak itu!” ucap pria itu, tinggal di seorang di sana tanpa bawahan.
Alessa tidak percaya begitu saja, tetapi dia memerintahkan Greisy dan kedua Agent Serbia membawa anak-anak itu.
“Tinggalkan tempat ini,” perintah pria itu.
“Kau berjalan di depan kami,” ucap Alessa tidak mudah percaya.
“Oke.” Sang pria berjalan, Alessa dan William mengikuti dari belakang.
“Apa rencananya?” bisik Wiliam bertanya.
“Kau tahu apa dipikiranku, Wil.” Tepat Alessa menyelesaikan ucapannya, pria itu berbalik menodongkan pistol seraya berjalan mundur sebanyak empat langkah.
Dor
Dor
Dor
Tiga tembakan lolos, baik Alessa dan Wiliam berhasil menghindar. Tahu musuhnya lihai menghindari tembakan, pria itu mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya, sebuah gas kecil dan menyemprotkannya. Suasana agak berkabut dan bau tak sedap tercium menyengat di hidung mereka.
“Gas beracun,” batin Alessa. Segera ia menahan nafas, dan detik itu lah pria itu menggunakan kesempatan menembak Alessa.
Wiliam berada di belakang menahan tubuh Alessa. Ia segera membawa Alessa ke dalam gendongan dan berlari cepat meninggalkan tempat yang sudah tercemar gas beracun.
“Astaga, apa yang terjadi?” teriak Blue histeris.
Wiliam meletakkan Alessa di tanah, lalu ia sendiri mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Menahan nafas selama lebih dari dua menit sungguh menyesakkan ditambah mengendong Alessa. Mengerti kondisi, Lewis memberi arahan. Ini lah yang menjadi kelebihan Lewis, cepat tanggap dalam kondisi genting.
“Blue, ayo. Biar Greisy menangani mereka,” ucap Lewis.
“Lewis, aku akan membantu mereka. Pergilah dulu temani anak-anak,” pinta Blue, Lewis mengiyakan permintaan gadis itu.
Alessa tersenyum walau pernafasan dan tubuhnya sakit luar biasa. Alessa berterima kasih, tim-nya mengambil alih tanggung jawabnya.
“Alessa, jangan pejamkan matamu,” ucap Blue.