
Alessa bukanlah wanita yang akan duduk manis apabila seseorang tengah merecoki kehidupan pribadinya. Sekali seseorang tersebut memulai, Alessa akan memberi kejutan bertubi-tubi. Phei misalnya... Alessa sering menguncang permasalahan kepada Phei beserta anak-anaknya, tanpa rasa belas kasihan.
Lalu, detik ini... Christa... jangan tanya apa yang bisa Alessa lakukan. Untuk sekarang, bagi Alessa dia memberi kejutan kecil kepada wanita sialan itu. D’Royal Hotel sangat berarti bagi Christa, tentu sangat mudah bagi Alessa menghancurkan bangunan kuno yang katanya amat berarti untuk Christa dan keluarga. Namun, Alessa memilih menjual tanah tersebut kepada pria berkebangsaan asia. Terbukti, Christa kesetanan mendengar kabar gembira itu, dan Alessa tersenyum puas.
Nickholas tersenyum tipis menyaksikan kesenangan sang istri. Sedikitpun dia tidak mencoba menghentikan Alessa, karena dia tahu, semakin dihentikan, Alessa akan semakin menjadi-jadi. Lagipula, Nick merasa perlakuan Alessa masih dibatas wajar, dan memang dia sendiri tidak berniat melarang sang istri. Nick kesal dengan sikap Christa yang menyebarkan gosip tersebut, seharusnya Christa tahu bagaimana hubungannya dengan Alessa sebenarnya.
“Berhenti menatapku seperti itu!” ucap Alessa bernada kesal.
“That’s my hobby!” elak Nick santai. Alessa memuat bola matanya malas.
“Aku tertarik bertemu dengan istrimu itu, bagaimana reaksinya? Pasti menyenangkan.” Nick menggeleng, terdengar ganjal di telinganya mendengar ucapan Alessa ini.
“Sampai mana proses perceraian kalian?” tanya Alessa tiba-tiba berubah datar. Nick terdiam sejenak, netranya tak lepas menatap sang istri lekat.
“Christa masih menolak hadir di sidang pertama. Aku meminta pengacaraku menjadwalkan ulang untuk itu,” jelas Nick.
“Jika gagal lagi?” pancing Alessa.
“Aku terpaksa memaksanya,” tekadnya.
“Kenapa tidak kau paksa sedari awal saja? Apa yang kau tunggu?” Nick menggeleng.
“Tidak ada yang kutunggu. Aku menghargai Christa dan keluarganya yang sudah membantuku mengelola perusahaan Bateline. Bagaimanapun itu, Christa pernah hidup bersamaku dan mendukungku.”
Begitukah? Christa ada di samping Nick di saat ia membutuhkan dukungan, sedangkan Alessa? hatinya merasa kecil mendengar suara hatinya sendiri.
“Kau memiliki banyak kelebihan di matanya, Alessa. Semua orang tahu, kau pemenang hatinya.” Kalimat Katryn kembali menyapa ingatannya.
“Tolong jangan salah paham, Baby. Aku menghargai mereka yang setia pada orang tuaku, Christa dan keluarganya termasuk di dalam itu,” ucap Nick memberi pengertian. Alessa mengangguk paham.
“Aku mencoba memahaminya, Nick.” Nick tersenyum, ia segera menghampiri Alessa yang tengah duduk di kursi pantri, lalu memangut bibir sang istri.
“Kalian menjijikan, di mana-mana berciuman!” komentar Noura kesal, dia baru saja beniat mengambil buah dan menyaksikan tindakan kedua insan itu.
“Kakakmu terlalu agresif, Nou. Jangan salahkan aku,” elak Alessa.
“Ya, dia maniak sekali! Malah aku pernah memergoki dia solo meneriaki namamu,” sahut Noura kelewatan santai membocorkan rahasia sang kakak.
Kemudian melanjutkan langkahnya guna mengambil apa yang ia butuhkan. Sementara Nick sendiri, menatap tajam sang adik dan Alessa melirik Nick sambil menahan tawa.
“Sebegitu inginnya kau bercinta denganku, Husband?” goda Alessa mengelus paha Nick secara abstrak.
“Ingin tahu lebih, Alessa?” tawar Noura mengabaikan tatapan tajam Nick.
Noura berani karena ada Alessa di sini, jadi dia tidak perlu khawatir Nick akan melakukan sesuatu. Noura bersemangat kali ini, kakaknya tidak dapat berkutik sebab Alessa terus saja menggoda di bawah sana. Walaupun Noura tidak melihat langsung, raut nelangsa sang kakak menjelaskan semuanya.
“Apa?” tanya Alessa antusias.
“Shut up your fucking mouth, Sister!” desis Nick dengan sirat ancaman.
“Lebih puas mana? Aku atau baby doll itu, Sayang?” Alessa kembali menggoda Nick setelah tawanya mereda.
“Of course, you!” jawab Nick kesal.
“Aku tidak menyangka, kau memiliki fetish yang aneh!” komentar Noura geli.
“Diam, Noura! Kau akan tahu akibatnya nanti!” ancamnya tidak main-main.
“No. Kau tidak boleh melakukan apapun pada Noura!” balas Alessa serius.
“See, Mr Bateline? Alessa berpihak padaku!” pamernya jumawa. Alessa hanya tersenyum mendengarnya.
...***...
Selesai sesi bercinta yang menghabiskan waktu berjam-jam, Alessa dan Nick duduk bersantai di balkon kamar. Pukul sudah menunjukkan tengah malam, akan tetapi Alessa tidak dapat memejamkan matanya. Ingin sekali dia menegak segelas wine, sayangnya Nick melarang hingga membuat Alessa jengkel.
“Sekali saja,” pinta Alessa.
“Alessa ... kau tengah hamil,” peringat Nick jengah, Alessa menghela nafas.
“Berbagi padaku. Apa yang kau pikirkan?” tanya Nick lembut, tahu betul bahwa sang istri bukan tanpa alasan menginginkan minuman kenikmatan itu.
“Sebenarnya, kau menganggap wanita itu benar-benar sebagai istrimu atau hanya sebatas adik—seperti yang kau katakan sebelumnya?” Alessa memutuskan berbicara jujur.
“Aku mengerti, sulit bagimu untuk percaya. Alessa... aku menikahi Christa pure karena mempertahankan apa yang menjadi milik keluargaku. Sangat konyol atas syarat mereka janjikan, aku tahu itu. Tapi, aku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku berjanji akan menyelesaikan perceraian bersama Christa,” janji Nick bersungguh-sungguh.
“Nick yang aku kenal lemah kepada orang yang katanya mengasihi dan menyayanginya. Kita sama-sama mengingat, kau selalu memihak pada Keluarga Fernand, bahkan kau pernah mengiyakan tawaran mereka untuk mencelakai orang-orang yang tidak bersalah. Katanya mereka menyayangimu, tapi nyatanya tidak...” ungkap Alessa memandang mata Nick berani.
“Aku seolah sudah tahu bagaimana masa depan ini, Nick. Bedanya, Christa memiliki rasa cinta itu yang benar adanya. Kau pasti sulit menyelesaikannya dengan cepat,” sambung Alessa. Alessa bukan meremehkan Nick, hanya saja Alessa mengenal pribadi sang suami.
Nickholas memang dingin dan kejam. Namun, sisi pribadinya yang satu ini menurut Alessa menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Alessa tahu banyak yang menyayangi seorang Nickholas, ketika hatinya membalas rasa sayang itu, Nick akan menganggap seseorang itu penting untuknya. Dan parahnya, orang tersebut memanfaatkan pribadi Nick ini untuk keuntungannya. Kata hati Alessa, Christa di depan sana pasti melakukan satu yang membuat Nick menunda perceraian itu.
“Egoku masih pada tahap bawah, Nickholas... Aku berusaha memahami kondisimu, dan aku pun mengikuti keinginan hatiku saat ini. Bisa saja aku mengikuti pemikiranku, jikalau iya, aku tidak yakin bisa bersamamu untuk kedepannya, aku memilih Joe untuk masa depanku dan akan berjanji melupakanmu,” jelas Alessa panjang lebar.
Walaupun banyak alasan mengapa Nick memalsukan kematiannya dan kembali hadir dihadapannya bersama seorang istri bernama Christa. Bukan berarti Alessa baik-baik saja. Dia berada di detik ini bersama Nick atas keyakinan yang Katryna katakan padanya.
“Sekali aku peduli padanya, kau akan melepaskanku. Aku selalu ingat perkataanmu itu,” sahut Nick membalas tatapan mata sang istri seraya menggenggam tangannya.
“Aku tidak mau itu, aku ingin bersamamu selamanya, bersama bayi ini...” Nick mengelus perut Alessa.
“Bila ingin bersama kami, cepatlah selesaikan permasalahanmu dengan dia,” pinta Alessa.
Ada yang menganggap Alessa egois? Silakan! Alessa tidak peduli sama sekali. Dia mempertahankan apa yang selama ini menjadi haknya, Nick adalah suami Alessa sejak dulu, Christa pendatang, bukan pemilik asli. Sekalipun nantinya Nick memilih Christa, Alessa tidak akan pernah mengizinkan keduanya mendekat. Artinya, Alessa melepaskan Nick dalam hidupnya.