
“Mengapa ada wanita lain di dalam hidupmu?” Ya, itulah yang Alessa tanyakan. Dengan kata lain, Alessa mempertanyakan mengapa Nick menikahi Christa.
“Mungkin, jawaban ini akan terdengar konyol di telingamu,” ucap Nick dan menarik nafas dalam.
“Dulu, Papa Christa menjalin persahabatan dengan Papaku. Sejak di dalam kandungan, para orang tua menginginkan kami memiliki hubungan yang lebih. Sangat konyol memang, sampai pada Fernand merebut semua kekuasaaan Bateline dan mengambil aku secara paksa, papa dan mama rupanya sudah membuat surat pengalihan harta atas nama Christa yang hanya diketahui Papa Christa dan kuasa hukum mereka.”
“Harta itu tidak semata diberikan kepada Christa―”
“Hanya menjaga dan kemudian diberikan kepada hak waris dengan syarat adanya pernikahan sebagai pengalihan harta,” potong Alessa menebak kelanjutannya. Nick berdehem, tidak berani menatap netra Alessa yang kini mengerling padanya.
“Hak waris itu sudah kau dapatkan, bukan?” Nick mengangguk.
“Lalu, kau masih mempertahankan pernikahanmu dengannya? Atau ada syarat yang mengharuskanmu menjalani rumah tangga itu sampai akhir hayat?” sarkas Alessa dingin.
“Tidak. Aku sedang mengurus perceraian kami, sedikit sulit karena Christa meminta waktu.”
“Waktu untuk membuatmu mencintainya?” Keterdiaman Nick mengkonfirmasi bahwa dugaan Alessa benar.
“Apa kau mempunyai rasa padanya?” selidik Alessa.
“Jujur saja. Aku tidak bodoh dalam melihatnya,” lanjut Alessa.
“Menyayanginya dalam arti saudara. Rasa untuk memilikinya, tidak. Menyayangi layaknya sepasang kekasih, tidak. Hanya menyayanginya sebagai saudara, sama seperti Noura, tidak ada lebih,” tandas Nick jujur tanpa ia tutupi.
“Well. Apa kau mempertimbangkan permintaannya?” Nick menggeleng tegas.
“Sejak kita bertemu di markas utama, aku sudah mengurus surat cerai. Sulit karena pada dasarnya kami tidak memiliki masalah apapun dalam rumah tangga, ditambah dengan keinginan Christa yang terus bersama. Jika Christa bekerja sama, akan mudah untuk kami bercerai,” beritahu Nick pelan.
“Ya, kelihatan sekali dia mencintaimu,” komentar Alessa seolah tak peduli. Padahal di dalam hati dia merutuki wanita itu.
“Dia mengakui itu,” aku Nick.
Alessa menyipitkan matanya, jujur sekali pria ini! Memang tidak terdengar sombong, Alessa pun tahu pria ini berusaha terbuka sedalam-dalamnya.
“Suami-istri harusnya bercinta, kau dan dia?”
“A couple time, yes.” Nick berat mengatakan ini.
“Berapa kali?” Alessa menuntut jawaban.
“Dua. Itu tidak disengaja, pada saat itu aku mabuk,” Nick mencoba menjelaskan sekaligus membela diri.
“Dua kali tidak sengaja dalam keadaan mabuk, huh?” sinis Alessa.
“No.”
“So, kau melakukannya di saat kau sadar betul wanita itu adalah istrimu?” Alessa menekan kata istri di nadanya. Nick menghela nafas gusar.
“Ya.”
“Apa?” Alessa bertanya demikian, sebab dari suara Nick terdengar berat, seperti ingin menyampaikan sesuatu, tetapi ia tahan.
“Aku membayangkan itu adalah kau, tetapi feel-nya berbeda.”
“Jelas aku dan dia berbeda, Bangsat! Feel berbeda yang kau katakan sama-sama bisa memuaskanmu! Bukan, begitu?!” bentak Alessa kesal.
“Ceritakan bagaimana bisa kau bertemu Noura dan Uncle Gef!” titah Alessa mengubah pembicaraan mereka.
“Setelah mendapat informasi dari Allard, aku mulai menyelidiki kebenaran tersebut. Tak lama, Gef menemuiku dan menceritakan semuanya. Gef pula yang membawaku bertemu Noura, aku tidak menyangka memiliki seorang adik. Kukira, hanya imaginasiku semata,” cerita Nick.
Alessa mengangguk paham, dulu pun Nick pernah bercerita tentang seorang bayi perempuan cantik yang pernah ia temui, akan tetapi Nick tidak yakin apakah dia pernah bertemu secara nyata atau tidak.
“Noura tinggal di mansion ini, Gef yang mengurus serta mendidik sejak kecil.”
“Mansion ini, apakah tempat di mana Fernand menculikmu?” tanya Alessa.
“Bukan. Kebetulan mansion ini sudah jarang ditempati, orang tuaku senang tinggal di tempat yang ramai penduduk.” Alessa kembali mengangguk paham, Mansion Bateline memang jauh dari penduduk lain.
Otaknya kembali memutar percakapan mereka tiga hari yang lalu. Walau Nick sudah menjelaskan keseluruhannya, ada satu yang sampai saat ini belum bisa Alessa terima, pernikahan Nick dengan wanita itu. Syukur saja Nick tidak memaksa kehendaknya untuk Alessa tinggal di mansion itu.
“Memikirkan adegan bercintamu, huh?” Alessa memutar bola matanya malas.
“Diam kau!” Jeff tertawa geli.
“Ngomong-ngomong, sudah lama kita tidak berbincang,” ucap Jeff serya menopang dagungnya serta mengerling pada Alessa.
“Kau saja yang sibuk!” timpal Alessa/
“Ya, aku bukan kau yang tidak punya pekerjaan!” ejek Jeff remeh.
Alessa tahu betul kemana arah pembicaraan pria ini. Sejak hamil, Alessa jarang menghabiskan waktu di luar gedung. Entah perintah Allard ataupun perintah dari Anthony, dia pasti akan bekerja dari rumah. Siapa lagi kalau bukan Nick pelakunya. Alessa tidak perlu repot-repot mencari tahu bagaimana Nick melakukan itu, jelas ada hubungannya dengan orang dalam.
“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Alessa mengalihkan pembicaraan.
“Sebenarnya aku lebih ingin tahu tentangmu.” Bukannya menjawab, Jeff menatap Alessa dalam penuh ingin tahu.
“Tidak penting bagi urusanmu!” sengit Alessa, Jeff berdecak.
“Memang tidak ada pentingnya. Aku berkata, aku ingin tahu tentangmu!” ulang Jeff lebih keras.
“Kau berbaikan dengan dia?”
“Ayolah, Alessa. Biasanya kau bercerita padaku,” bujuk Jeff melihat keengganan wanita dihadapannya ini.
“Tidak sepenuhnya berbaikan,” jawab Alessa akhirnya.
“Karena wanita bernama Christa itu?” tebak Jeff mengerutkan dahinya.
“Kau pikir saja!” balas Alessa cuek.
“Menurutku, selagi Tuan Nick memilih dan kembali padamu, itu tidak masalah. Kulihat Tuan Nick sangat peduli padamu, terpenting dia mencintaimu bukan wanita itu ataupun wanita lain.”
“Terdengar membela kaummu!” komentar Alessa sengit.
“Tidak sama sekali. Beberapa kali aku memergoki dia memperhatikanmu, baik itu tengah bersama Christa atau bukan,” ucap Jeff dengnan argumennya.
“Hanya satu wanita yang akan diprioritaskan oleh seorang pria, Alessa. Selagi wanita itu penting bagi si pria, dia pemenangnya!” Jeff memberi petuah.
“Jeff... jujur, apa kau tahu Nick masih hidup?” tanya Alessa mengitimidasi. Jeff menghela nafas.
“Sama sekali tidak! Kau tahu bagaimana Father, dia tidak akan sembarangan memberitahu, sepenting apapun dan sepercaya apapun terhadap orang itu,” jawab Jeff jujur.
“Ya, aku tahu. Peter tahu tentang kejadian itu.”
“Peter? Si kontraktor itu?” Alessa mengangguk membenarkan.
“Bisa jadi dia berada di tempat kejadian,” pendapat Alessa. Jeff tampak memikirkan sesuatu.
“Aku ingat, Peter ada di tempat itu. Pertanyaannya, mengapa dia di sana? Apa tugas dia di sana?”
“Membawa Nick ke tempat yang lebih aman!” jawab Alessa.
Nick bercerita bukan? Bahwa Allard membantu, dipastikan Peter yang dipercaya untuk membawa Nick.
“Masih tidak tertebak olehku, Father menembak, lalu menyelamatkan Tuan Nick. Sungguh plot twist sekali,” komentar Jeff.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Jeff.
“Allard banyak mempertimbangkan dari segala sisi. Dua hal yang aku tahu, Allard mengetahui tindakan Nick didasari oleh paksaan serta ancaman Fernand. Kedua, aku tidak yakin betul, Allard mempercayai Nick? Dilihat dari sebelumnya, Nick sering mengunjungi Allard, entah apa yang mereka lakukan. Kita semua tahu, Allard tidak akan mau sering dikunjungi jika bukan orang kepercayaannya,” jelas Alessa panjang lebar.
“Aku setuju. Father paham suamimu pasti akan berpihak padanya, hanya saja keadaan yang tidak memungkinkan. Dari sisimu juga kuyakin menjadi pertimbangan Father, dan juga permintaan Mother,” ucap Jeff.