The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 53. Guilty



Terkadang, Alessa penasaran bagaimana cara seseorang memasak hingga dapat memanjakan lidah. Namun, ketika dia turun tangan langsung, moodnya memburuk. Alessa bukan seperti wanita lainnya yang menyenangkan pasangannya dengan memasak. Baginya, ada hal yang lebih hebat menyenangkan pasangan daripada memasak, yang tidak bukan adalah permainan di atas ranjang.


“Silakan, Nyonya...” ucap Mara menghidangkan makanan di depannya.


“Terima kasih, Mara...” balas Alessa tersenyum tipis.


“Mara, kenapa kau menghidangkan kopi pada Nick? Sudah kukatakan hidangkan teh saja, dia sedang mengurangi kopi, tidurnya berantakan sebulan belakangan ini,” ucap Christa tiba-tiba datang mengomeli Mara.


“Maaf, Nyonya. Tuan Nick yang meminta, saya tidak berani membantah,” ucap Mara menunduk.


“Lain kali hidangkan teh, jangan kopi lagi!” titah Christa.


“Baik, Nyonya.”


Sejauh ini, Alessa tahu bahwa Nick suka mengosumsi kopi di pagi hari. Dulu Alessa memberi jatah kopi seminggu dua kali di pagi hari, secandu itu Nick dengan kopi. Akan tetapi, Alessa tidak pernah tahu tidur Nick bisa berantakan hanya mengonsumsi kopi.


“Alessa, kau sedang makan apa?” Christa bertanya padanya.


“Kau bisa melihat sendiri.”


Christa tanpa diberi izin duduk di samping Alessa, kemudian memerintahkan Mara meninggalkan mereka. Alessa menjadi tahu bahwa Christa itu bossy, tipe wanita yang menyebalkan. Sekilas, dia tampak anggun dan penurut, tetapi di sini dia menunjukkan sifat aslinya.


“Bisa kita berbicara sebentar?” tanya Christa basa-basi.


“Bicara saja, tidak ada yang melarangmu,” ucap Alessa cuek, lalu menyuapkan sesendok bubur.


“Tentang Nick, apa kau berniat kembali pada dia?” ujar Christa terdengar ragu.


“Tidak.”


“Lalu, kau berada di sini?” Alessa menatap Christa tajam, apa maksud wanita ini?


“Tanyakan pada suami tercintamu itu, Christa!” Chrita menghela nafas.


“Kulihat, kau berniat kembali pada Nick. Jika tidak, kau akan mencari cara kabur dari mansion ini,” balas Christa pelan, nadanya netral.


“Sebagai sesama wanita, aku mengerti kau berharap Nick menjadi milikmu seorang—“


“Kau tengah menceritakan dirimu yang berharap pada pria itu, huh?” potong Alessa berang.


“Urusi saja hatimu, tidak perlu berbicara sesama wanita, karena ada saatnya wanita lain tidak mengerti perasaanmu, Christa!” seru Alessa.


“Ya, kau benar. Aku pun tidak mengerti mengapa kau mengkhianati Nick? Kau menyaksikan dengan mata kepalamu Nick hampir merenggang nyawa, tetapi kau tidak melakukan apapun selain diam,” timpal Christa memancing gemuruh di dada Alessa, yang mampu Alessa tutupi dengan senyuman kecil.


“Ya, karena seseorang yang tidak bisa memegang ucapannya pantas lenyap dari hidupku!” balas Alessa tajam.


Kemudian Alessa membanting sendok hingga mangkuk berisi bubur tumpah tersisa, dan Alessa berbalik pergi. Di sana Nick berdiri menatap keduanya datar, Alessa tak peduli, dia melewati Nick begitu saja. Sedangkan Christa, menunduk takut akan tatapan leser Nickholas tersebut.


Alessa berjalan cepat menahan sesuatu dalam dirinya yang ingin meledak. Seketika ingatan itu memaksa masuk, reaksi tubuh Alessa gemetaran. Kepanikan ini tak asing baginya, dan Alessa selalu tak siap menghadapi dirinya sendiri.


Pintu kamar ia banting dan menguncinya rapat. Alessa duduk di atas ranjang seraya menautkan kedua tangannya, memaksa ingatan itu hilang dari kepalanya. Fokus Alessa mulai terpecah, tubuhnya semakin gemetar hebat tak terkendali. Alessa benci seperti ini, dia lemah!


Pandangannya berpindah ketika pintu kamar terbuka, Nick masuk. Oh, tentu dia bisa masuk, sidik jari berguna membuka pintu sialan itu. Alessa menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung.


Nick mendekat, memperhatikan sang istri. Tatapan mereka beradu, Nick tidak dapat dibohongi, mata Alessa sayu menahan sesuatu. Mendekat, Nick berlutut di depan Alessa dan mengambil tangan Alessa lembut. Alessa sempat menolak, namun Nick berhasil menggengam tangannya.


“It’s okey, Alessa. Jangan ditahan,” ujar Nick pelan. Alessa masih menahan, tubuhnya semakin bergetar tanpa ia inginkan.


“Aku butuh obat,” cicit Alessa.


“Tidak, kau tidak butuh.” Alessa menatap protes.


Detik berikutnya Alessa membiarkan tubuhnya bereaksi bebas, gemetar dan tangisnya pecah detik itu pula. Alessa berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Nick, tetapi Nick menahan kuat. Alessa memberontak keras, Nick akhirnya melepaskan genggamannya. Raungan rasa bersalah terlontar dari bibir Alessa, itu menyakitkan bagi Nick. Tak sanggup menyaksikan Alessa meraung-raung, Nick mendekat menaiki ranjang dan membawa Alessa ke dalam pelukannya.


“Maaf, Nick... maafkan aku...” lirih Alessa seraya segugukan. Nick mengecup puncak kepala sang istri dan membisikan kata maaf di telinganya.


Nick tentu marah dikarenakan Christa mengucapkan kalimat itu yang menyebabkan trauma itu kembali hadir. Rafael mengatakan, Alessa kemungkinan besar trauma dalam rasa bersalahnya. Itu mengapa reaksi tubuhnya terkadang gemetar mengingat kembali kejadian di masa lampau, atau yang lebih parahnya Alessa panik dan setres secara bersamaan.


“I am sorry, Alessa... aku punya kontribusi besar membuatmu seperti ini,” bisik Nick.


“Kau tidak salah, salahku yang menghancurkan kepercayaanmu,” sambung Nick.


“Nick, aku ingin kita berpisah,” lirih Alessa antara sadar atau tidak.


“Tidak, Baby. Jangan mengatakan itu,” balas Nick dengan mata berkaca-kaca.


“Istirahatlah,” pinta Nick.


Alessa lebih tenang sekarang, perlahan kegelapan membawanya memasuki alam mimpi. Nick mengatur tubuh Alessa agar lebih nyaman, lalu menyelimuti tubuh sang istri. Setelah ini, dia harus membereskan urusannya bersama Christa.


...***...


“Kau mengingkari janjimu, Nick!” berang Christa.


“Perjanjianmu, sekalipun tidak kuiyakan, Christa.” tutur Nick tenang.


“Aku tidak mau tau, amankan keluargaku. Maka, akan aku tanda-tangani surat cerai itu!” putus Christa menatap Nick tajam.


“Pada akhirnya, kau kembali mencari alasan lain agar perceraian kita tertunda, bukan begitu?” sela Nick.


“Keputusan perceraian ini, sejak awal adalah kesepakatan kita, Christa. Tapi, apa? Kau terus mencari alasan untuk membatalkannya,” lanjut Nick.


“Jangan meremehkanku. Selama ini aku menghargaimu karena rasa terima kasih atas kesetian keluargamu pada keluargaku. Aku bisa menyeleseikan ini dengan caraku, bahkan jauh lebih kejam dari apa yang kau bayangkan,” tambah Nick penuh penekanan.


“Keluargaku dipertaruhkan oleh musuhmu! Bagaimana aku bisa tenang, jika mereka mengincar nyawaku? Itu ulahmu, dan kau juga harus melindungi kami! Kau ingin segera bercerai karena ingin melepas tanggung jawabmu, bukan? Jangan kira aku tidak tahu itu, Nickholas!” bantah Christa.


“Kenapa aku menyelamatkanmu kemarin? Karena aku bertanggung jawab atas penculikan itu! Aku menjaga keluargamu sampai detik ini! Jika bukan aku, keluargamu sudah lenyap sejak kemarin-kemarin, Christa! Jangan mendikteku!” balas Nick geram.


“Perceraian sudah menjadi kesepakatan kita bersama, jauh sebelum musuhku tahu keberadaanmu! Jadi, tanda tangani itu, sebelum aku menggunakan dengan caraku!” ancam Nick tidak main-main. Christa menatap Nick penuh harap.


“Tidak, aku ingin bersamamu,” ucap Christa melemah.


“Aku tidak peduli dengan musuhmu atau Alessa sekalipun. Aku hanya ingin tetap bersamamu,” sambungnya.


“Oh, begitukah? Kau tidak peduli pada Alessa, tapi kau berusaha menyingkirkannya dari hidupku? Betapa menyedihkannya dirimu!” komentar Nick pedas.


“Kenapa aku tidak bisa mendapatkan cintamu? Kenapa wanita itu? Dia mengkhianatimu, Nickholas! Alessa yang menyebabkan kau hampir terbunuh!” teriak Christa, raut wajah Nick mengereras.


Gef menyaksikan bertengkaran keduanya waswas, ia paham Nick menahan emosi dan tidak segan untuk melayangkan tamparan.


“Jangan menyebut nama Alessa dalam pembahasan ini, kau tidak berhak berkomentar apapun tentang istriku. Tutup mulutmu, kau tidak tahu apapun tentang kami!” peringat Nick dan berbalik pergi. Christa berteriak marah, tetapi beberapa penjaga menghalanginya.


“Paksa dia menandatangani surat itu! Jika belum juga, lakukan yang kuperintahkan!” titah Nick pada Gef seraya berjalan keluar.


“Baik, Tuan.”


“Tetap amankan keluarganya! Perhatikan setiap pergerakan Christa, tidak menutup kemungkinan dia merencanakan sesuatu yang merugikan,” peringat Nick.


“Baik, Tuan. Akan saya laksanakan!”


“Satu lagi, Gef. Awasi Patra, dia mengenal Christa.” Gef mengangguk mengerti.