The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 56. Lucas’s Past



...Happy reading! ✨...


...---...


Nickholas meminta Alessa, Emrick dan Lucas berkumpul di ruang kerjanya. Kekesalan Alessa masih belum mereda hingga detik ini, tetapi karena paksaan Nickholas, dia setuju ikut ke dalam pertemuan sekarang. Sedari tadi Alessa mengunci mulut, sedangkan Nick dan Emrick berbincang masalah Phei.


“Pilihanmu membawa kasus ini kepada berwajib atau membiarkan wanita itu berkeliaran bebas? Saranku, menjebloskan dia ke dalam penjara adalah langkah aman. Kebebasan Phei akan berbahaya bagi Alessa,” jelas Nick.


“Jika kau berniat membebaskan Phei, aku sendiri yang akan mengurus kasus ini,” lanjutnya.


“Bagaimana dengan bukti-bukti? Kau dapat berbicara, tetapi ketiadaan bukti mengalahkan asumsimu,” ucap Emrick.


“Alessa memiliki seluruh bukti pembunuhan mama, beserta perselingkuhan Phei!” sahut Lucas.


“Adanya bukti perselingkuhan itu, papa bisa menggugat dia!” sambungnya.


“Bukti rekaman yang lainnya ada bersamaku. Semua bukti ini dapat memberatkan hukumannya,” ucap Nick.


“Rekaman apa yang kau miliki selain rekaman kemarin?” tanya Alessa menarik perhatian ketiga pria itu.


“Ancaman pembunuhan Lucas, dan rekaman lain yang berhubungan dengan perencanaan melukaimu,” jawab Nick.


“Kau, Lucas ... bisa menjadi saksi utama dalam kasus ini,” imbuh Nick, Lucas mengangguk setuju.


“Kenapa dia yang menjadi saksi utama?” tanya Alessa.


“Karena Lucas sering mendapat ancaman secara langsung,” jawab Nick. Alessa seketika teringat ucapan Lucas yang pernah mengatakan dia diancam oleh Phei.


“Kau mengetahui banyak sepertinya,” komentar Alessa sinis.


“Aku setuju kasus ini masuk ke ranah hukum,” ucap Emrick tanpa keraguan.


“Bagus. Pengacaraku akan segera menindak-lanjuti kasus ini,” balas Nick.


“Lucas, we need to talk!” ujar Alessa dan beranjak keluar dari ruangan tersebut.


“Oh, Dude... kau harus mengatakan semua pada Alessa,” intruksi Nick. Lucas menghela nafas, kemudian menyusul Alessa.


Mereka berbicara di ruang keluarga yang tertutup, Lucas duduk tepat di samping Alessa.


“Di sini, ada hal yang tidak aku ketahui, benar?” Lucas mengangguk tanpa ragu.


“Ini berkaitan dengan beberapa hal yang tidak bisa kau ceritakan padaku?” Lucas kembali mengangguk.


“Kau tahu satu halnya, hubunganku dengan Lucian,” jawab Lucas, Alessa mengangguk.


Lucas menarik nafas, lalu membuangnya kasar. Sedikit bingung, darimana dia harus bercerita lebih dulu? Alessa diam memberi waktu sang kakak agar tenang.


“Phei seringkali mempengaruhi cara berpikirku, dia selalu berkata bahwa kau tidak pernah menganggapku sebagai seorang kakak. Jauhnya dirimu mengenyam pendidikan dan seolah tidak mempedulikan kami, membuktikan ketidak-cintamu pada keluarga. Aku percaya sebab keadaan mendukung kalimat Phei,” buka Lucas pertama.


“Kau ingat ‘kan? Sepeninggalan mama, kau bersikap acuh tak acuh pada semua orang, termasuk aku dan papa. Ketika kau menjelaskan mengapa kau bersikap buruk pada Phei, jujur aku tidak terima, karena dimataku dia adalah pengganti mama. Selama itu pula, sepenglihatanku, Phei adalah wanita baik-baik nan tulus pada keluarga kita,” lanjut Lucas seraya mengenang masa lalu di dalam ingatannya.


“Perlahan, pengaruh ucapan Phei tidak selaras di pikiranku di saat kau sering mengirim surat secara diam-diam. Setiap ucapan Phei kusaring kembali, jika benar kau tidak menyayangiku, kau tidak perlu repot-repot mengirim surat yang hanya berisi menanyakan kabarku dan papa,” sambung Lucas lagi.


“Pertentangan itu semakin menjadi-jadi, ketika Phei tahu kau mengirim surat-surat tersebut. Katanya, kau hanya ingin memata-matai keluarga bahagia ini dan menghancurkannya. Aku tidak percaya, dan dia marah besar karena aku menentang omongannya.” Sekilas, Lucas terdiam meresapi ingatan tersebut.


“You know? Dia pandai membujuk, itu kenapa aku selalu luluh padanya,” aku Lucas dan kembali terdiam cukup lama.


“Bertahun-tahun hidup bersama mereka, aku tidak bisa menempatkan perasaanku pada seharusnya. Aku menyukai Lucian, diam-diam kami menjalani hubungan di belakang semua orang. Puncaknya Lucian hamil, Phei mengetahui hubungan kami sudah terjalin lama. Saat itu dia marah besar hingga menggunakan kekerasan,” cerita Lucas.


“Papa tahu kehamilan itu?” tanya Alessa.


“Tidak. Phei menutupi fakta itu dengan sangat baik, akan tetapi dari sanalah dia mulai menunjukkan taring. Dia berubah, tidak pernah lagi memperlakukanku sebagaimana sebelumnya. Dari kejadian itu juga, dia membatasi pergerakanku dan memerintahkanku ini-itu tanpa sepengatahuan papa,” jawab Lucas panjang lebar.


“Dua bulan kehamilan, Lucian jatuh dari tangga. Aku hampir gila karena Phei tidak mengizinkan Lucian keluar guna menyelamatkan mereka. Pada ujungnya, dia keguguran,” tambah Lucas.


“Semakin lama, Phei semakin sering menyerangku secara fisik ataupun verbal, termasuk menghinamu dan mama. Aku berontak, aku tidak suka wanita itu menjelek-jelekan orang yang aku sayang, tapi dia mengancamku akan menyakiti putrinya,” sambung Lucas.


“Kau percaya ucapannya?” Lucas menggeleng.


“Pada awalnya, tidak. Aku merealisasikan omonganku, aku meninggalkan rumah. Kau tahu apa yang dia lakukan pada Lucian?” ucap Lucas


“Menyiksa putrinya sendiri,” jawab Alessa, Lucas mengangguk membenarkan.


“Ancaman itu bermacam-macam, bahkan dia mengancam akan menyakiti papa dan para pelayan di rumah. Aku hanya bisa bertahan agar tidak ada yang terluka,” ujar Lucas pelan.


“Ancaman itu bermacam-macam, dari Lucian, Anela, bahkan papa sendiri. Aku bertahan, aku tidak mau ada yang terluka.”


“Lucas, perasaaanku saja atau apa, kau mengulur waktu menceritakan yang bukan inti sebenarnya,” ucap Alessa malas.


Sedari tadi menyimak segala pengakuan Lucas, tetapi Alessa rasa inti yang ingin didengar olehnya, tidak disebutkan sama sekali.


“Aku tidak bisa menceritakannya, Alessa...” lirih Lucas.


“Tapi, kau menceritakannya pada Nick!” bantah Alessa kesal.


“Tidak. Aku meminta dia mencari tahu dan menutup semuanya,” jawab Lucas.


“Kau ingin memberitahu atau tidak?” tanya Alessa tegas.


“Melenyapkan?!” teriak Alessa tak kuasa menahan teriakannya, Lucas menatap sang adik serba salah.


“Benar-benar gila! Wanita itu, benar-benar sakit jiawa!” maki Alessa.


“Kau mau melakukannya karena diancam?” Lucas mengangguk membenarkan.


“Apalagi?” tuntut Alessa.


“Mengumpul wanita perawan untuk diperdagangkan,” jawab Lucas.


“Sakit jiwa! Wanita biadab!” erang Alessa.


“Kau sangat bodoh, Lucas! Kenapa tidak memberitahuku?” Lucas menggeleng.


“Phei membaca setiap surat yang akan aku kirim padamu,” ucap Lucas.


“Bagaimana bisa aku tidak tahu?!” tanya Alessa pada dirinya frustasi.


“Kau melacakku dari dunia digital, tidak dari dunia nyata,” sahut Lucas benar adanya, Alessa menghela nafas.


Itu fakta, Alessa tidak pernah mencaritahu tentang Lucas atau sang papa, dia hanya menyewa orang untuk menjaga keduanya dari jarak jauh. Kemudian, dia hanya mengawasi pergerakan Phei, tidak secara keseluruhan. Terpenting bagi Alessa, wanita itu tidak merecoki kehidupannya. Sejauh ini, Alessa memahami, Phei tidak akan menyakiti Lucas ataupun Emrick.


Sebegitu tidak pedulinya kah aku? Batin Alessa merasa bersalah.


“Bagaimana cara kau membunuh teman-temannya?” selidik Alessa.


“Pada acara-acara besar, menggunakan pil perangsang dan menuntunnya berjalan dari atap,” jawab Lucas.


“Polisi tidak mencurigaimu?”


“Phei mengurus itu,” jawab Lucas.


“Lalu, wanita-wanita itu?” tanya Alessa lagi.


“Sama seperti teman-temannya, memberi pil perangsang. Aku tidak berani melawannya, karena dia memegang ketiga bukti pembunuhan dan aksesku pada perdagangan wanita,” ucap Lucas.


“Kesaksianmu akan menyeret namamu, Lucas!” gelisah Alessa.


“Itu adalah konsekuensi yang harus aku tanggung. Setidaknya pembelaanku nantinya meringankan hukumanku,” sahut Lucas tersenyum.


“Lucas...” rengek Alessa kesal pada dirinya.


“Aku tidak bisa berbuat apapun untuk membelamu!” kesal Alessa.


“Tidak apa, Alessa. Suamimu membantu banyak untuk itu,” balas Lucas. Alessa tidak dapat berucap, dia memeluk Lucas erat.


“Maaf aku memperlakukanmu buruk beberapa hari ini,” sesal Alessa, Lucas terkekeh.


“Benar kata Nick, kehamilan ini membuatmu manja,” komentar Lucas.


“Aku tidak manja!” sergah Alessa.


“Ya, kau tidak manja.”


“Ngomong-ngomong, Lucas... Noura menganggumimu, sejak kemarin dia terus bertanya tentangmu,” ucap Alessa di sela pelukan mereka.


“Nick memperingatiku soal itu, padahal aku tidak melakukan apapun pada adiknya itu,” balas Lucas tak habis pikir.


“Kau tidak berniat menjalin hubungan dengan Noura? Aku lebih suka dia dibanding anak ****** itu!” Lucas tertawa, tidak tersinggung sama sekali.


“Kau tidak tersinggung?” Lucas menggeleng.


“Faktanya, aku sering membalas dendamku pada Lucian,” jawab Lucas.


“Wait, dendam?” Lucas mengangguk.


“Ya. Dia sering mengataimu dan mama, jadi aku memperlakukan anaknya bagaikan ******,” ucap Lucas, Alessa menggeleng takjub.


“Bahkan di saat kau menyayangi putrinya lebih dari seharusnya?” sinis Alessa, Lucas terdiam tidak dapat menjawab.


“Aku tidak menyangka, ternyata kau sebangsat itu!” komentar Alessa.


“Hatimu tidak mengalami pergejolakkan? Secara kau mencintainya,” ucap Alessa penasaran.


“Cinta dapat membuatmu membenci seseorang, Alessa...” balas Lucas dengan makna.


“Dia berkhianat,” ucap Alessa menyimpulkan maksud Lucas.


“Iya, aku mencintainya. Sayangnya aku mencintai fisiknya, bukan hatinya!” aku Lucas.


“Dia berhubungan dengan pria lain, jadi aku tidak pernah memberi hatiku untuknya lagi,” tutup Lucas.


“Pria tahu bagaimana menepatkan dan siapa yang diprioritaskan hatinya,” komentar Alessa.


“Tapi, kau tetap dikategorikan pria bangsat, Lucas!” sambung Alessa menatap sang kakak.