
Keesokan paginya, Tanaya bangun dari tidurnya, ia melihat dirinya yang acak-acakan namun baju yang ia pakai masih utuh seluruhnya.
Sedetik kemudian ia menangis pelan saat sadar ia bukan di kamarnya, berarti apa yang ia ingat semalam adalah kenyataan, ia telah kehilangan mahkotanya.
"Sarapan lo ada dimeja, itu seragam lo, mandi dan cepat sekolah, gue cabut duluan." Byan yang keluar dari arah dapur berucap tanpa menatap Tanaya.
"Kenapa lo jahat?" tanya Tanaya pelan namun masih bisa Byan dengar.
"Gue gak jahat, lo sendiri yang setuju' kan?" Byan memutar bola matanya malas.
"Kalo gue hamil, lo mau tanggung jawab?" tanya Tanaya mengusap air matanya.
"Kalo lo mau jadi yang kedua?" balik tanya Byan membuat Tanaya memejamkan matanya dalam-dalam.
"Oke, gua cabut." tutur Byan bangkit dari duduknya.
"Kalo sarapan lo tetap utuh dan gak habis, gue gak akan segan-segan melucuti lo malam ini, lagi." ancam Byan sebelum benar-benar keluar dari apartnya.
Tanaya turun dari kasur, iya masih punya kesempatan 10%, semoga saja ia tidak akan hamil seperti yang ia takutkan selama ini. Walaupun ia sudah tak perawan itu tak separah jika nanti ia hamil tanpa pertanggungjawaban.
Tanaya mandi dan memakai pakaian yang disediakan Byan, pemuda itu juga bahkan menyiapkan sepatu baru lengkap dengan kaos kaki.
Tanaya melahap habis makanan yang tersedia, setelah itu ia buru-buru keluar karna ia tak tau ini letaknya dimana dan mana arah ke sekolahnya.
Ternyata saat berada diluar gedung itu, ia melihat bangunan sekolahnya yanh terletak lumayan dekat dari tempat ia berdiri, ia segera berjalan santai walau fikiran ya sudah kacau sekarang.
"Ponselku?" Tanaya mematung ditempatnya, ia semalam membawa selempang tas berisi dompet dan ponselnya "pasti disembunyikan laki-laki itu. Bagaimana ini, aku tak berani menemuinya lagi, kuharap juga tidak bertemu dengannya lagi." resahnya semakin panik.
Namun ia tetap berjalan, ia kesekolah tanpa membawa sepeser uang, bahkan tidak membawa tas apapun, untungnya proses pembelajaran dimulai minggu depan jadi tak masalah ia tak membawa peralatan belajar.
Disisi lain, Eman menatap foto yang telah dipost Tanaya di Instagram, terlihat Tanaya mencium pipi Byan dengan mulus, rasanya ia juga tak percaya bagaimana bisa Tanaya mendapatkan nama Byan dan malah Nirana yang mendapatkan namanya.
Ditambah kenapa Tanaya berhasil mengecup pipi Byan padahal harusnya Byan marah besar, apa mereka sepasang kekasih? atau saudara? atau sahabat? kenapa bisa?!
Tanaya memasuki salah satu kelas yang sudah cukup ramai, semalam mereka telah dibagi dan sudah mendapat kelas masing-masing, Tanaya berada di kelas X IPA², ia mengambil kursi ketiga dari depan bagian dinding, ia memilih menenggelamkan kepalanya dibalik lengannya.
Byan, pemuda itu sedang bersama teman-temannya di kantin, asyik menikmati makanan sembari sesekali mengobrol dan tertawa.
Ting!
Byan menatap layar ponsel Tanaya yang ia letakkan di meja, ia beralih pada ponsel itu yang baru saja menerima pesan dari seseorang.
Kak Nanay♡
[Besok kakak pulang, masakin
makanan ya, yang banyak!]
Byan mematikan daya ponsel Tanaya, nanti jika tak dibalas, pasti kakaknya itu menelepon dan sibuk mengganggunya, sebaiknya di nonaktifkan saja.
"Dari cowonya?" tanya Revan menatap Byan.
"Dari kakaknya." balas Byan mengupas kacang kemudian memakannya.
"Pasti lebih hot dari adiknya, boleh gak sih gue juga lakuin yang lo lakuin ke kakaknya?" tanya Zean dengan mimik wajah serius.
"Lo gak bisa cari lapak selain lapak yang gue taksir?" tanya Byan sengit.
"Lo naksir?" goda Afdi tersenyum menatap Byan.
"Maksud gue, bisa gak sih dia gak usah ngurusin apa yang udah duluan gue incar? dia sering banget gue suka motor ini trus gue beli, dia juga beli, gue beli jaket ini, dia juga beli! suka banget ngikutin gaya orang!" terang Byan panjang lebar.
"Ntah itu, sampe Byan ngancurin hidup orang, dia juga ikutin." timpal Afdy julid.