
Setelah cukup lama diberi waktu renggang, siswa-siswi PLTS kembali dikumpulkan ditengah lapangan, setelah membagikan beberapa pengunguman, akhirnya mereka diperbolehkan untuk pulang.
"Gue coba ajak pulang bareng deh." batin Eman memantau Tanaya yang hendak pulang.
Eman hendak menghampiri Tanaya, namun Nina tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya ke arah yang berlawanan.
"Kita dipanggil Bu Pur." kata Nina sembari melahap roti ditangannya.
Eman menoleh ke arah Tanaya yang semakin menjauh, ia menghembuskan nafas panjang "mungkin lain kali," lirihnya pelan.
"Hah?" tanya Nina yang tak jelas mendengar.
"Gak."
****
Tanaya mampir disalah satu Indomaret dekat sekolahnya, ia hendak membeli roti tawar dan beberapa minuman serta cemilan untuk menemaninya di rumah.
Cukup lama ia mondar mandir mencari makanan yang tepat, memakan sepuluh hingga lima belas menit di dalam sana.
Secara kebetulan Eman juga mampir ke sana untuk membeli pembalut pesanan kakaknya.
Eman masuk dan langsung mengambil salah satu merk pembalut yang sudah ia hafal letaknya, ini bukan yang pertama kali ia membeli pembalut untuk kakaknya.
"Eh, dia disini," gumamnya dengan seutas senyuman.
Eman cepat-cepat membayar dan menyusul Tanaya yang sudah berada diluar Indomaret, Eman berjalan disamping Tanaya dan mulai menyapa gadis itu.
"Siswi Sinar purnama' kan?" tanya Eman basa-basi, padahal jelas ia tahu Tanaya sekolah disana juga, bahkan ia juga menyukai Tanaya.
"Kak Eman ya?" tanya Tanaya berhenti sembari menatap Eman yang ikut menghentikan langkahnya.
"Iya, pulang sama siapa?" tanya Eman seramah mungkin.
"Dia bukannya cowok yang sengaja ngasih nama dia sendiri, dia pengen ngejebak gue dengan muka polosnya," batin Tanaya terdiam agak lama.
"Sendiri kak, aku buru-buru kak, jalan kaki juga, aku duluan yaa." pamit Tanaya tersenyum tipis.
"Kakak anterin yaa?" Eman mengejar Tanaya yang mengambil langkah meninggalkannya.
"Aku jalan aja kak, biar sehat." Tanaya tetap berjalan tanpa menatap Eman yang terus mengikuti langkahnya.
"Kakak anterin aja." Eman merampas kresek belanja milik Tanaya sehingga membuat perempuan itu menghentikan langkahnya.
"Ketua OSIS macam apa saya kalo membiarkan adik kelasnya berjalan sendirian dengan barang yang banyak ditengah matahari seperti ini?" tanya Eman menyatukan kresek berisi pembalut ke dalam kresek belanja milik Tanaya.
"Yuk," sambungnya menyambar tangan Tanaya dan menariknya ke mobil miliknya.
"Maaf ya kak, jadi ngerepotin." ucap Tanaya saat mobil Eman perlahan melaju diatas jalanan.
"Gak papa, kasih tau aja ya ke arah mana rumah kamu." tutur Eman dan ditanggapi dengan anggukan kecil dari Tanaya.
8-9 menit mereka sudah sampai dikediaman Tanaya, keduanya turun bersamaan.
"Sini kak." ucap Tanaya meraih kantung belanjanya dari tangan Eman.
"Makasih ya kak, sekali lagi maaf ngerepotin, kakak hati-hati yaa," Tanaya tersenyum manis pada Eman yang menahan rasa bahagianya.
"Besok mau kakak jemput?"
"Gak usah kak, Tanaya naik taksi aja." tolak Tanaya cepat.
"Yaudah, kakak duluan ya." Tanaya hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Gue gak tau dia punya niat apa sama gue ..." batin Tanaya memasuki rumahnya.
Eman kini telah sampai dirumahnya, ia tak bisa menahan senyumnya untuk apa yang terjadi hari ini, ia bersiul ria menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai atas.
"Pembalut gue mana, Man?"