The Girl Is Mine

The Girl Is Mine
Masih alergi



[ Kesekolah aja sendiri, jalan


sama aku' kan kamu alergi ]


Tanaya menghela nafas panjang, ini sudah pesan yang kedua puluh delapan kali Byan mengirim padanya setiap hari, ternyata ucapannya saat itu benar-benar membuat Byan ngambek berkepanjangan, tak bisa dibayangkan, dua hari lagi genap sudah sebulan.


"Kak, kita barengan lagi ya,"


Ranaya sedikit terkejut, ia mengunci pintu rumahnya dan berjalan menghampiri adiknya yang berdiri didekat mobilnya "lagi?" tanyanya singkat.


Tanaya hanya mengangguk pelan "udah berapa minggu kalian gak pernah jalan bareng, disekolah dia jauhin kamu juga?" tanya Ranaya sedikit penasaran.


"Cuma gara-gara aku bilang kadang alergi jalan sama dia kak, dia marah. Padahal aku ngomong kayak gitu juga karena dia nuduh aku suka jalan sama cowok lain, emangnya aku cewek apaan." Tanaya memutar bola matanya jengah.


"Disekolah?" tanya Ranaya masih penasaran dengan pertanyaan awalnya.


"Enggak Kak, dia biasa aja seolah gak terjadi apa-apa." adu Tanaya segera mendapat usapan dari sang kakak.


"Coba minta maaf, jangan egois ..., dia salah kamu juga salah, ayo mengalah." ajar Ranaya sebelum masuk duluan ke mobil.


*


*


*


*


"Pokoknya dikelas ini, jangan coba-coba ngasih tau kedatangan Eman sama Tanaya, mengerti?!"


Seisi kelas hanya mengangguk ragu ketika Zean mengutarakan permintaan itu, kenapa kedatangan Eman dirahasiakan, toh juga cepat atau lambat pasti akan tau.


"Udah?" tanya Byan menatap para sahabatnya.


"Beres," jawab ketiganya serempak.


"Gue mau Tanaya gak usah keluar-keluar kelas dulu sampe jam pulang, gue gak mau Eman sampai bertemu dengan Tanaya dan ingat semuanya, trus ngerusak hubungan gue sama Tanaya." tutur Byan menatap sahabatnya serius.


"Itu Tanaya." Afdi menunjuk arah belakang Byan dengan dagunya.


Tampak Tanaya berjalan dipapah Amanda dengan mata tertutup, ketika berpapasan dengan Byan dan teman-temannya, Amanda mengacungkan jempolnya dan dibalas anggukan oleh Byan.


Waktu Eman disekolah ini hanya tinggal dua bulan, ditambah Eman lupa ingatan membuat ia dapat kesempatan untuk menyembunyikan Tanaya sebisa mungkin.


Ia yakin tak begitu keras saat membogem wajah Eman saat itu, aneh bisa sampai lupa ingatan "fisiknya lemah." ejek Byan terkekeh.


"Tadaaaaa!" pekik Amanda membuka sapu tangan yang menutupi mata Tanaya.


"Mana suprisenya?" tanya Tanaya bingung. Tadi waktu digerbang Amanda bilang akan ada sesuatu yang hebat, dimana? Ia juga mau lihat.


"Ini kejutannya, baju aku baju baru." ucap Amanda riang, namun sedetik kemudian langsung duduk dengan wajah datar.


"Sakit kali ya." gumam Tanaya duduk ragu, ia tidak yakin Amanda masih sehat.


Ketika jam istirahat, Amanda terus menahan Tanaya yang hendak jajan, meski bersikeras, Amanda tetap menolak dan menahan Tanaya demi mewujudkan permintaan Byan dan juga pacarnya, Zean.


"Gue laper Man, plis deh. Lo jangan gila kayak gini!" bentak Tanaya yang mendapat gelengan dari Amanda.


Tanaya memutar bola matanya, namun tak lama dari itu, beberapa perempuan dikelas mereka menghampiri meja mereka dan meletakkan berbagai macam makanan yang dibeli dari kantin.


"Kalian dua bulan ini terpilih jadi ratu kantin, jadi dapat makanan gratis plus diantarkan, tapi syaratnya kalian gak boleh menginjak kantin, paham?" terang Gaby kemudian menjauh.


"Banyak banget," heran Amanda melotot.


"Emang ada peraturan kayak gitu?" batin Tanaya tak percaya.


"Udah buruan makan, tadi katanya lapar!"


Byan yang melihat dari jendela tersenyum tipis, ia kemudian segera pergi dan memastikan bahwa Eman tidak akan melewat kelas Tanaya, tak akan ia beri celah sedikitpun untuk Eman merusak hubungan mereka.


"Makasih Man," Tanaya melambaikan tangannya pada mobil Amanda yang perlahan menjauh.


Ia berjalan memasuki rumahnya, ia segera menuju kamarnya dan langsung menjatuhkan diri diatas kasur.


"Plis deh Nay, cowok kamu ngapain sih?!"


Tanaya terduduk, ia menatap bingung pada kakaknya yang terus menginjak-injak lantai dengan kasar.


"Kamu tau, tiga orang didepan suruhan Byan ngotot masang cctv disemua sudut rumah ini." terang Ranaya dengan wajah kesal.


"Ini semua ide Byan!"


"Kita' kan juga butuh privasi, masa dikamar kakak juga disuruh dipasang." omel Ranaya dengan kesal.


"Bentar Kak," Tanaya mengambil ponselnya dan kemudian segera menghubungi Byan yang ia rasa sekarang membuat Omar dirumahnya.


[Ya, halo]


"Ini kerjaan kakak, masang cctv dirumah aku?"


[Kenapa? Keberatan?]


"Kakak gila ya, kadang aku suka buka baju kalo dikamar. kak Ranaya juga, ngapain dikamar dia juga dipasang!" kesal Tanaya yang diangguki oleh Ranaya.


[Khusus kamar Kaka Ranaya, itu punya Rafa, Rafa yang minta]


"Apa?"


Ya, Ranaya yang mendengarnya memang kaget sebentar, tapi sedetik kemudian ia malah tersenyum-senyum sendiri.


"Ni sumpah ya, kalian berdua gila kali ya? Ini tuh rumah cewe, ambil kesempatan dalam kesempitan, gimana kalo aku gak sengaja buka baju atau bahkan ..., Ih Kak Byan!"


[Aku juga udah kirimin orang yang bakal ngikutin kalian berdua kemanapun kalian pergi, itu semua ide kak Rafa, aku ikut aja,]


"Omaigat, so sweet!" pekik Ranaya menjatuhkan tubuhnya dikasur, berguling-guling kesenangan yang membuat Tanaya terus menggeleng tak percaya.


[Yaudah, matiin gih, nanti kambuh lagi alerginya kalo nelpon kakak.]


Tut!


"Kalian semua gila!"