The Girl Is Mine

The Girl Is Mine
Menjadi korban selanjutnya



Seisi IPA² kini tengah heboh melihat kedatangan Byan sertabpara sahabatnya, ketampanan yang begitu tinggi membuat mereka langsung menjadi sorotan, bahkan dari kelas sebelah ikut mengintip dari jendela ketika Byan memasuki kelas itu.


"Yang namanya Reni, mana?" tanya Zean mengangkat suara.


Reni yang mendengar ia dicari oleh pemuda-pemuda tampan begitu senang, ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi "saya kak." Reni memberikan senyumnya.


"Seret dia." Revan berucap sembari berjalan menghampiri Reni yang seketika senyum manisnya memudar, kini ia sadar panggilan itu bukanlah hal yang positif.


Zean mengikuti Revan untuk menghampiri kursi Reni, suasana yang tadi heboh seketika menegang, ditambah dengan kasarnya Revan menarik lengan Reni hingga bajunya tersangkut dimeja bahkan robek karena tak sempat melepaskannya.


"Yang butuh hiburan gratis, langsung aja ke kantin." Afdi mengikuti langkah para sahabatnya yang sudah keluar dari kelas itu. Mendengar penuturan Afdi, mereka berbondong-bondong mengikuti keempat pemuda itu dari belakang.


Amanda tampak mondar mandir didepan kelasnya, ia tengah menunggu Tanaya yang tadinya izin untuk ke kamar mandi, tapi tak kembali juga, ia kan ingin menyaksikan kelakuan pemuda itu pada Reni, ia tak mau ketinggalan berita, tapi jika ia pergi, kelas akan kosong, pasti Tanaya akan bingung saat kembali.


Melihat Tanaya dari kejauhan, Amanda langsung berlari menghampirinya "Lo lama banget sumpah, yuk ke kantin, buruan!" tekan Amanda menarik Tanaya.


"Kita' kan tadi udah ke kantin." ucap Tanaya disela-sela seretan Amanda.


"Reni dibawa kakak kelas, diseret kasar, gak tau apa masalahnya tapi dia dibawa ke kantin." terang Amanda yang masih terus berlari.


sesampainya di kantin, Tanaya dan Amanda susah payah menerobos kerumunan orang-orang supaya berada di depan, Tanaya hanya menurut ketika Amanda menyeretnya hingga terdengar makian dari orang-orang yang mereka sela.


"Maaf kak, itu gak disengaja." Reni berujar lemas, ia kini sudah terduduk di lantai dengan rambut berantakan serta bajunya yang lusuh dan kotor, lehernya merah dan matanya mengeluarkan air mata.


"Kenapa? kenapa?!" tanya Amanda yang sibuk bertanya pada orang-orang yang ada disana.


"Tuh cewek nyebarin foto Byan yang dicium perempuan pada saat MOS." terang salah satu laki-laki dingin.


Tanaya yang mendengarnya melotot, bukankah itu harusnya fotonya?


Byan menerima gunting dari tangan Revan, ia berjongkok di depan Reni, ia memasang senyum manisnya, kemudian meraih ujung baju Reni lembut.


Reni yang melihatnya semakin ketakutan "jangan kak, saya mohon." Reni menatap Byan sendu, tak bisakah ini semua berakhir, ia sudah menanggung malu yang tak berkesudahan.


Byan melempar gunting itu ke lantai, ia menyeringai dan meletakkan tangannya dikerah baju Reni, dengan kasar ia merobek bajunya hingga semua kancingnya lepas, bersamaan dengan hal itu, Byan mendapat pukulan cukup kuat diwajahnya.


Semua orang terkejut, Amanda yang melihat Tanaya meninju Byan segera melihat kesamping, ia yakin tadi Tanaya masih ada disampingnya.


"Elo, kurang ajar banget ya!" bentak Tanaya menatap tajam pada Byan yang memegangi pipinya, ia membawa tangan Reni untuk menutupi tubuhnya karna baju itu sudah robek, untung belum sempat menunjukkan bagian dibalik baju Reni.


"Gue gak tau apa masalah lo sama dia! Lo gak bisa selesaikan pake kepala dingin atau ngomong empat mata, gak usah dipertontonkan kayak gini!" Tanaya kembali membentak Byan yang berdiri seraya tersenyum melihat ia dibentak orang lain selain ibu ayahnya.


"Lo lupa, lo juga ada urusan sama gue?" Byan menatap Tanaya yang masih melayangkan tatapan tajam padanya.


"Lo mau gue umbar semuanya?" ulang Byan membuat Tanaya cukup ketakutan, melihat banyaknya orang-orang disana ia benar-benar tak sanggup jika Byan memberitahu tentang mereka berdua.


"Gue punya buktinya loh." Byan berbisik di telinga Tanaya.


"Gak! lo gak boleh lakuin itu. Kita bahas yang ini dulu." Tanaya mendorong tubuh Byan yang sangat dekat dengan dirinya.


"Lagian lo dah puas kan permaluin dia disini, gue harus bawa dia ke UKS, gue minta maaf karena udah lancang tadi." ujar Tanaya pelan, ia masih berdiri menunggu jawaban dari Byan.


"Okay ..., tapi lo korban selanjutnya." tutur Byan membuat Tanaya yang semula menunduk mengangkat kepalanya.


"Mau kayak dia dipertontonkan atau mengulangi kejadian beberapa minggu lalu, kalo yang itu gak mungkin dipertontonkan' kan?" lanjut Byan dengan senyum nakalnya.


Tanaya menggigit bibirnya, ia kembali terbayang dengan kejadian dimalam itu, sedetik kemudian ia menatap perutnya yang ia ketahui ada calon bayi didalamnya.


Byan menyadari tatapan Tanaya yang beralih pada perutnya, Byan semakin senang melihat kekhawatiran Tanaya.


"Yaudah, bawa sana. gue kasih lo waktu buat milih." Byan segera duduk di kursinya.


"Elo, jangan lupa bilang makasih sama pahlawan itu." ucap Byan yang terakhir, Reni hanya mengangguk ketika sadar ucapan itu untuknya.