
Zean bersiul ria, ia berjalan dengan wajah berseri-seri, ia tersenyum melihat para sahabatnya yang duduk-duduk dibawah pohon mangga.
"Lo gak hancurin rencana gue' kan?"
Zean mengerutkan dahinya, baru sampai sudah dibebani dengan pertanyaan tanda-tanda akhir zaman.
"Rencana apaan, ngaco lo." ketus Zean ikut duduk santai.
"Lo gak lupa ngasih pil itu' kan?" tanya Byan serius.
"Gue bahkan lebih cerdas dari lo, gue buka kancing baju dia, trus gue putar rok dia, gue juga buka resletingnya. Sebelum gue bius, gue cerita dulu kenapa Tanaya sampai bisa dirusak sama lo," terang Zean panjang lebar.
"Bahkan setelah dia gue bius, gue cium juga bibir tuh cewek, gila! Rasanya gue aktif bener seolah pro banget mainnya."
Afdi menganga, sungguh ia iri sekarang, ia juga ingin! Revan tampak mendatar, harusnya Zean tak perlu ceritakan bagian itu, sebenarnya ia juga jadi ingin merasakan, ia memang nakal, tapi belum pernah melakukan hal-hal seperti itu, bahkan hanya sekedar memeluk perempuan saja tak pernah.
"Pasti dua perempuan itu sudah berbaikan dan saling menangisi nasib mereka sekarang." Byan tersenyum miring, bangga rasanya dengan dirinya sendiri.
"Setelah ini kita apain mereka?" tanya Zean sembari menatap mangga yang bergelantungan.
"Keguguran."
"Uhuk uhuk!" Revan terbatuk, ia hampir menelan segumpal biji mangga tadi.
"Siapa yang keguguran?" tanyanya tak menyimak percakapan Byan dan Zean tadi.
Byan mengacuhkan Revan yang tampak penasaran, ia fokus menatap Zean "gue bakal buat dia seolah keguguran, terus kita gak perlu capek-capek buat sandiwara biar dia memang beneran hamil." terang Byan yang tampaknya sudah memikirkan dari lama.
"Yang penting mereka taunya mereka udah rusak, gitu?" tanya Zean menebak tujuan Byan.
"Iya, ancam aja biar mereka berdua tertekan." ungkap Byan bersandar dikursi.
"Satu lagi, suruh Amanda out dari organisasi OSIS, jangan sampai mereka mencoba mendekati Eman! Gue gak mau Eman kenal dengan perempuan yang baru kita taklukkan." lanjut Byan mendatarkan wajahnya.
"Gue jadi bingung tujuan lo apasih sebenarnya." bingung Afdi menatap langit yang kian cerah.
"Balas dendam, mainin hidup orang, plus jaga-jaga kalo ada acara keluarga, gue udah siap ada pasangan, gue capek dituduh bokap suka sama lo Zean."
Jleb!
*
*
*
*
Tanaya memegangi perutnya yang keroncongan, ia menatap sayu Amanda yang menatapnya datar.
"Hindari kantin Tanaya, hindari ...!" peringat Amanda menghela nafas.
"Ada mereka disana, aku masih trauma." lanjut Amanda berharap sahabatnya yang satu ini mengerti.
"Ayo dong Man, bentar aja. Gak usah lirik mereka, semudah itu doang masa kamu gak bisa." manja Tanaya mengerucutkan bibirnya.
"Yaudah!" Amanda bangkit dengan kasar, ia bosan mendengar rayuan Tanaya sedari tadi, ia menatap malas saat Tanaya tersenyum bahagia sembari mencubit pipinya.
Mereka berjalan ke kantin, Tanaya asyik berceloteh mengucapkan terimakasih, sementara Amanda dibuat mengantuk dengan hal itu.
Sesampainya di kantin, tempat itu ramai seperti biasa, Amanda segera memesan makanan mereka, Tanaya memesan mie ayam sementara ia hanya memesan sosis dan beberapa gorengan, tak lupa mereka memesan minuman sama yaitu es lemon.
Amanda membuang muka saat Zean tersenyum menggodanya, ia sungguh malu membayangkan dirinya yang sudah dilihat seluruhnya oleh Zean.
"Buruan Nay, kita makan dikelas aja yaa." bisik Amanda menyenggol lengan Tanaya.
"Aku bawa-bawa mangkuk gitu? Kamu mah enak tinggal pake plastik juga beres, lah aku?!" Tanaya kembali fokus menunggu makanannya siap.
"Nay, plis deh, lo jangan batu. Kak Zean liatin gue." latah Amanda mencoba bersabar.
"Lo pacaran sama Zean?" seorang perempuan menghampiri Amanda dengan wajah tak santai.
"Maaf kak, saya gak punya pacar." panik Amanda menatap perempuan itu sekilas.
"Dia barusan senyumin elo, jangan mikir Zean mau ya sama lo!" tukas perempuan itu mendorong pelan Amanda dengan jari telunjuknya.
"Kakak salah paham." elak Amanda memberi penjelasan, berharap perempuan dihadapannya ini pergi dan tak cari masalah dengannya.
"Lo fikir orang kayak lo selera dia?!" bisik perempuan itu merendahkan Amanda. Amanda melotot, jelas ia tak terima, apa dia sejelek itu, helloww, dulu Amanda menjadi incaran pemuda-pemuda di sekolahnya, enak saja merendahkannya.
"Trus modelan tante-tante kayak lo selera dia?!" balas Amanda dengan suara lantang, dipancing sih.
"Heh, jangan berani ya lo disini! Lo cuma adek kelas, tata krama lo dijaga!" bentak perempuan itu mulai khawatir, jangan sampai ia jadi korban bullying oleh Byan dan teman-temannya karena membuat keributan.
"Oh, kamu kakak kelas? Hormat kak." Amanda memberi hormat pada perempuan itu sehingga beberapa orang yang melihatnya tertawa, perempuan itu malu sendiri dan langsung meninggalkan area kantin, tampak tiga perempuan menyusulnya dari belakang.
Tanaya yang melihat itu sadar sahabatnya sedang ada masalah, kejadian barusan sempat mengambil alih tatapan orang-orang, Amanda yang sadar jadi sorotan seketika langsung menatap Zean, pemuda itu juga tengah menatapnya, bahkan Byan, Revan dan Afdi juga turut memperhatikannya.
"Kita ke kelas yuk." ajak Tanaya menarik tangan Amanda, ia sungguh menyesal memaksa Amanda ke kantin sehingga terjadi masalah seperti ini.
Melihat Tanaya dan Amanda pergi, Byan segera bangkit mengikuti mereka, Zean yang melihatnya mengikut juga, tinggal Revan dan Afdi yang masih duduk santai di kantin.
"Ngapain ikut-ikut?!" ketus Tanaya membalikkan badannya saat sadar dua pemuda itu membuntuti mereka dari belakang.
"Lo hamil anak gue, gue gak izinin lo makan ini." alasan Byan menunjuk mangkuk yang dibawa Tanaya.
"Lo juga bakal hamil anak gue, gue juga gak izinin lo makan ini." Zean Ikut saja ucapan Byan, ia juga tak punya alasan jika nanti Amanda bertanya padanya.
"Kalian apa-apaan sih? Kalian ngerasa berdosa gak' sih setelah lepasin pakaian kita berdua?!" bentak Tanaya berucap pelan, untungnya koridor itu sepi, karena merata semua orang ada di kantin.
"Emang lo gak ngerasa berdosa hamil diluar nikah?" tanya Byan santai, sungguh ia sangat suka menyakiti perasaan orang lain.
Plak!
Tanaya melayangkan tamparan di wajah Byan, Amanda terkejut bukan main, kenapa Tanaya sangat berani, bagaimana jika Byan marah dan menyebarkan video itu.
"Ahk!"
Byan mencengkeram bahu Tanaya kuat, Tanaya tampak meringis kesakitan, Amanda yang melihatnya hendak turun tangan, namun ia langsung ditarik oleh Zean.
"Masih ingat Tanaya ..., lo nyium pipi gue dibayar apa?" tanya Byan menatap Tanaya sangat tajam.
"Mau tau nampar pipi gue dibayar pake apa?" tanya Byan dengan suara lembut.
"Lepasin kak Byan, sakitt." rintih Tanaya menarik tangan Byan agar melepas cengkeramannya, namun semakin ia menarik semakin kuat pula cengkraman Byan dibahunya.
"Ampun kak Byan ...," tangis Tanaya tak bisa bergerak, tangan yang memegang mangkuk mie ayam tengah dicengkeram oleh Byan, sedangkan tangan satunya lagi, ahk ia benar benar tak bisa berbuat apa-apa.
"Mau dibayar pake tubuh lo lagi? Atau---" Byan menggantung ucapannya, Tanaya membulatkan kedua matanya, apa kata Byan tadi?
"Pake tubuh kakak lo?" lanjut Byan tersenyum smirk.
"Heh, sembarangan lo, dasar anj---"
Zean dengan cepat membekap mulut Amanda yang hendak mengumpat, ia segera membawa Amanda dari sana, memanfaatkan kesempatan itu ternyata lumayan.
"Kak Byan, sakit, sakit banget." Tanaya kembali meringis, cengkraman Byan sungguh kuat, bahkan mungkin telah menimbulkan luka dibahunya.
"Dipilih dulu, nona." ucap Byan tampak santai.
"Byan! Sedang apa kamu!"
Byan menoleh sementara Tanaya mendongak, terlihat seorang guru laki-laki tengah menatap mereka dengan penasaran.
"Pak, say---"
Tanaya tak sanggup melanjutkan ucapannya saat Byan kali ini mencengkram pinggangnya kuat, sangat kuat.
"Tadi dia pusing pak, jadi saya mau bawa ke UKS, tapi dia gak mau." dusta Byan tersenyum ramah.
"Jarang sekali kamu berbuat baik Byan, sepertinya kamu gadis yang beruntung sampai bisa ditaksir Byan. Lanjutkan saja Byan ..., lanjutkan," goda guru itu berlalu dari mereka.
Tanaya menghirup udara dalam saat Byan melepas cengkramannya. Karena sakitnya, ia sampai tak bisa bernafas tadi, sungguh Byan tak punya perasaan.
"Susah ya milih salah satu, atau mau keduanya?" tanya Byan semakin terlihat brengsek dimata Tanaya.
"Kak Byan, aku mohon jangan kaitkan sama kakak aku. Cukup aku aja, habisi aku, tapi jangan tentang hubungan badan." Tanaya tampak menangis, bahkan perutnya yang tadi keroncongan, terasa sudah penuh oleh rasa sakit yang diciptakan Byan.
"Baiklah, bersumpah sama gue kalo lo bakal nurut sama semua yang gue bilang, apapun itu! Lo bisa?" tanya Byan jelas menjebak.
"Tapi kak---"
"Satu!" potong Byan cepat.
"Jangan sumpah k---"
"Dua!" potong Byan lagi.
"Iya-iya, aku janji bakal nurut sama apa kata kakak, selama itu gak berhubungan dengan ****." pasrah Tanaya dari pada ia kehilangan kesempatan dan berakhir nasib buruk pada kakaknya.
"Oke, nanti malam ikut ke apartemen gue, beresin semuanya sampai bersih, habis itu masak buat gue, gue males pulang ke rumah," perintah Byan mendatarkan wajahnya.
"Emangnya kenapa harus pisah rumah, kan rumah adalah tempat pulang kita." komen Tanaya cukup penasaran.
"Ayah gue sibuk, bunda sama adik gue gak tinggal disini, sementara abang gue juga tinggal di apartemennya sendiri." tutur Byan menjelaskan, rasanya ia malas, tapi entah kenapa bibirnya sendiri bisa menjelaskan sedetail itu.
"Buat apa gue tinggal dirumah itu, sama aja gue sendiri' kan." lanjutnya berucap pelan.
"Tanaya, kita kumpul calon OSIS sekarang, tinggal kamu sama Amanda yang belum hadir," Eman menghampiri kedua sejoli itu dengan tangan dimasukkan kedalam saku.
"Yaudah, aku cari Amanda dulu ya kak," balas Tanaya hendak bergegas, namun tangannya dicekal oleh Byan.
"Gue udah larang lo ikut' kan? Gue udah suruh lo berhenti Tanaya, apa gue perlu turun tangan?" tanya Byan dingin, ia enggan menatap Eman yang hanya tersenyum tipis.
"Itu hak dia, lo hanya sebatas pacar, jadi gak usah sok ngekang!" latah Eman menekan setiap katanya.
"Asal lo tau, gue minta nikah aja, Tanaya gak akan bisa nolak." balas Byan tanpa menatap Eman.
"Udah cukup kak Byan, kak Eman." lerai Tanaya sebelum Byan berujar terlalu jauh, atau bahkan keceplosan karena terpancing emosi.
"Kak Eman, kayaknya aku mundur aja. Amanda juga, coret aja nama kami berdua."
Byan tersenyum kemenangan, ia semakin girang kala Eman memasang wajah tak percaya, ia menarik Tanaya meninggalkan Eman yang masih mematung ditempatnya.