
Jam sudah menunjukkan pukul 18.34, tampak Tanaya yang terlelap disofa, saat yang bersamaan, Byan akhirnya kembali ke apartnya.
Ia menatap wajah tenang Tanaya yang tampaknya tertidur pulas, ia menatap sekeliling, tampak ruangan itu sudah bersih, wangi dan rapi, sampah sudah dikumpulkan, piring sudah dicuci, bahkan kasurnya sudah berganti sprei, agak lancang tapi Byan terkagum-kagum melihatnya.
"Bunda akan sampai dalam dua puluh menit, aku harus menyuruh gadis ini pergi." Byan segera mengguncang tubuh Tanaya kuat dan tanpa perasaan, membuat gadis itu sontak terkejut dan hampir berteriak untungnya Byan dengan sigap menutupnya dengan tangan.
"Lo cabut sekarang, keluarga gue mau datang." usir Byan tanpa basa basi.
"Apa?! Kenapa mendadak, gue lupa naruh barang gue dimana." Tanaya tampak lebih panik.
"Dimana kau letak, jangan sampai aku dituduh membawa atau meniduri wanita disini karna menemukan barang milikmu itu!" Byan ikut kalang kabut.
"Byan, buka pintunya!"
Byan membulatkan matanya, bukankah ibunya mengatakan sekitar dua puluh menit, kenapa tiba-tiba sudah berada di depan pintu.
"Sebentar Bun," jawab Byan mencari tempat persembunyian untuk Tanaya.
"Byan, jangan berbohong, kau membawa perempuan dikamarmu!"
Byan semakin membulatkan matanya, bagaimana ibunya bisa tau, Tanaya mengusap matanya yang sudah mengeluarkan air mata, Byan yang melihat itu seketika mendapatkan ide cemerlang.
"Duduk di situ!" titahnya menunjuk sofa, Tanaya menurut saja dan duduk disana.
Byan membuka pintu dan menampilkan seorang wanita yang berumur namun masih tampak cantik dan elegan, pakaiannya yang mewah membuat wanita itu semakin cantik saja.
Disusul perempuan cantik dengan membawa koper besar, perempuan itu juga cantik karna gayanya yang mewah, gelang dan jam tangan menghiasi pergelangan tangannya, jari, telinga, dan leher bahkan kaki semua berisi.
"Siapa dia Byan?" tanya wanita itu dingin, ia curiga pada Byan namun tetap bersikap tenang.
"Dia pacarku Bun, dia sedang ada masalah keluarga, lihat ..., dia menangis." dusta Byan menghampiri Tanaya dan duduk disampingnya, mengusap lembut wajah Tanaya, tak terlihat sandiwara disana, semua terlihat nyata dan benar adanya.
"Dimana keluarganya?" tanya wanita itu menimpali.
"Sudah Bun, jangan membuatnya semakin sedih." Byan tak menjawab pertanyaan adik dan ibunya.
"Kau tampak dewasa, jadi kapan akan menggelar acara pernikahan?"
Tanaya melotot terkejut, ia menatap Byan bertanya apa yang harus ia jawab selanjutnya.
"Bunda, Byan tak punya rencana menikah, hubungan kami ini main-main saja, lagi pula latar belakang keluarganya tidak selevel dengan kita." terang Byan membuat Tanaya merasa tersinggung.
"Dia pacarmu! jaga perasaannya, Bunda fikir kau telah berubah dewasa ternyata lebih parah! tinggalkan para sahabatmu yang kekanak-kanakan itu!" nasehat wanita itu marah, panggil saja Bu Fiana, wanita karir dan berprestasi.
"Cukup Bunda, kalian pulanglah kerumah ayah, kalo tidak kembali saja ke Belgia!" usir Byan malas.
"Ibu memang akan pulang, tapi adikmu akan tinggal disini, dia akan tinggal bersamamu selama kami berlibur di Indonesia." ucap Fiana dan diangguki oleh adik Byan, Lalita.
"Sebaiknya ibu pulang, supir dibawah sudah menunggu."
"Hati-hati Mom." ucap Lalita tersenyum.
"Kau fikir aku yang menyetir, katakan itu pada supir dibawah!" murka Fiana tanpa menoleh membuat Lalita langsung cemberut.
"Baiklah kak, aku sebaiknya pulang, aku bahkan belum mempersiapkan apapun untuk kepulangan kakakku besok." Tanaya bangkit dan mengambil kantong berisi baju yang baru ia ingat dimana ia letakkan.
"Kak ...? bukannya kalian pacaran, kenapa memanggilmu kak?" tanya Lalita heran.
"Diamlah, yang penting dia tidak memanggilku anjing!"