
Dua minggu berlalu
Byan mengawasi Tanaya yang tengah menikmati makan siangnya di salah satu rumah makan.
Ia memanggil pelayan dan berbisik menyampaikan sesuatu, setelah itu pelayan itu tampak menggeleng cepat, namun Byan tampak menyodorkan sejumlah uang membuat pelayan itu berbalik mengangguk.
Setelah pelayan kembali masuk, Byan adu tos secara bergantian dengan para sahabatnya, setelah itu mereka pergi dari sana.
Pelayan tadi memberi minuman yang baru saja dipesan Tanaya, gadis itu dengan cepat meneguknya, kemudian kembali melanjutkan acara makannya.
Saat selesai, dia meletakkan uang dan ditindih dengan gelas, kemudian bangkit hendak pulang, namun ia oyong dan tak menunggu lama akhirnya tumbang.
Ketika terbangun, ia ternyata berada di sofa bagian dapur rumah makan.
"Nona sudah sadar? ini minum dulu." ucap salah satu pelayan menghampirinya dan menyodorkan minuman.
"Aku kenapa bisa ada disini?" tanya Tanaya seraya menerima minuman itu.
"Nona tadi pingsan," jawab pelayan itu ramah.
"Maaf merepotkan kalian, sebaiknya aku pulang, apa aku harus denda?" tanya Tanaya yang hanya dijawab sebuah gelengan.
"Baiklah, aku permisi." Tanaya meninggalkan rumah makan itu dan segera pulang, kepalanya masih sedikit oyong.
Keesokan harinya, Tanaya berangkat ke sekolah seperti biasa, seminggu ini rasanya ia sudah tak berkomunikasi dengan Byan, itu membuat bebannya tentang kejadian malam itu berkurang.
Sesampainya di sekolah ia langsung bergabung pada teman-temannya yang tengah bergosip.
"Katanya sih dia jahat, tapi masih banyak yang naksir." kata Reni sembari mengunyah permen karet.
"Gue sih masih normal, jadi gak gila gila amat sama tuh cowok. Tapi tetep aja pengen milikin!" tekan Amel meremat bungkus jajanan ringan yang isinya sudah ludes.
"Perempuan yang nantinya istri dia beruntung apa menderita ya? Dapat spek pangeran sifat bak iblis." timpal Ayes menatap langit-langit.
"Bicarain siapa sih?" tanya Tanaya menyenggol Amanda, yang ia anggap sahabat.
"Kalo lo kenal, Byan Albyansah kelas sebelas." jawab Amanda tetap fokus pada pembicaraan yang tengah berlangsung.
"Eh, ini lo kan Nay?" tanya Gaby menunjukkan layar ponselnya yang tertera foto dirinya yang tengah mencium pipi Byan.
"Nay, lo beruntung banget ...," Ayes memasang wajah iri.
"Bisa-bisanya ini gak viral!" Reni mengambil ponselnya dan mencari foto itu dan memostingnya kembali diakunnya.
"Lumayan, buat nambah followers, pasti viral. ucapnya tanpa sepengetahuan Tanaya dan yang lainnya.
"Gilak, ni gratis Nay?!" tanya Amel merampas ponsel Gaby dan menatapnya sepuas mungkin.
Degh!
Tanaya jantungan setengah mati, ia hendak berbohong, tapi sejak dulu hal itu bukan ahlinya, ia akan selalu ketawan oleh kakaknya, entah ia yang tak pandai atau kakaknya yang terlalu cerdas.
"Maksud lo bayar?!" celetuk Amanda tak santai. Gadis-gadis itu hanya terkekeh pelan, Tanaya mensyukuri hal itu, ia tadinya tak tahu harus jawab apa.
Tanaya kembali ke kursinya dan mengambil tupperware miliknya, ia membuka dan langsung meminumnya sehingga hanya tinggal setengahnya, sedari tadi ia tegang dan itu membuatnya haus.
Tak lama, guru datang dan pelajaran pun dimulai, namun baru saja mengucap salam, kepala Tanaya jatuh ke atas meja setelah lama menahan sakit di kepalanya, gadis itu kini tak sadarkan diri.
"Cepat bawa ke UKS!" heboh Amanda menunjuk beberapa laki-laki untuk memapah Tanaya.
Saat sudah sadar, Tanaya memegangi kepalanya yang masih agak sakit, perlahan ia membuka matanya dengan beratz samar-samar ia melihat laki-laki yang tengah mengelilinginya.
Saat terbuka dengan sempurna, Tanaya kaget saat melihat Byan dan teman-temannya berada di UKS dan kini tengah berdiri disamping kanan kiri brankar tempat ia berbaring.
"Sudah berapa kali ini terjadi? Apa sering?" tanya Byan tampak khawatir, hal itu membuat Tanaya bingung.
"Baru dua kali, lagian apa perdulimu?" tanya Tanaya ketus.
"Heyy ..., sebaiknya jaga bahasamu, kau beruntung aku masih peduli dan khawatir, berarti aku memiliki tanggungjawab jika seandainya kau hamil." penuturan Byan membuat Tanaya melotot, sebentar jantungnya berhenti berdetak, sungguh ia tak sanggup jika hal itu terjadi.
"Aku tidak akan hamil!" bantah Tanaya murka, ia melayangkan tatapan tajam pada Byan yang hanya tersenyum remeh.
"Nanti gue jemput ke rumah lo pukul tujuh, kita periksa ke rumah sakit." Byan menatap para sahabatnya memberi kode untuk pergi dari sana.
Tanaya diam tak menjawab, mau menolak juga rasanya ini penting.