The Girl Is Mine

The Girl Is Mine
Memanfaatkan Tanaya



"Pak, tolong panggilkan siswi bernama Tanaya, tadi seseorang menitipkan ini padanya." Byan menunjukkan dompet dan handphone milik Tanaya.


"Baiklah letak saja disana, kau boleh pergi, Byan." ujar guru itu menunjuk salah satu meja dengan dagunya.


"Tidak bisa pak, saya harus menemuinya langsung, ada beberapa pesan yang dititip." Byan berbohong, jelas itu adalah milik Tanaya yang sengaja ia ambil.


"Baiklah baiklah, kau berhasil mengganggu bapak, Byan." keluh guru itu yang bangkit dengan terpaksa.


"Anak kami yang bernama Tanaya segera menuju kantor, sekali lagi Tanaya, segera menuju kantor."


Setelah memberikan pengunguman lewat mikrofon, tak berselang lama, Tanaya datang sendirian.


"Ya pak, ada a-" Tanaya tak melanjutkan ucapannya saat melihat pemuda yang memperkosanya semalam ada disana juga.


"Siswa itu memanggilmu, ada titipan dari saudara atau mungkin temanmu." jawab guru itu menatap Tanaya sebentar.


Tanaya hanya diam menatap Byan yang tersenyum miring kepadanya, ia mengalihkan tatapannya pada tangan Byan yang terdapat dompet beserta ponselnya.


"Ponsel gue!" tuturnya hendak merampasnya dari tangan Byan.


"Hey, bersikap sopanlah, dia itu kakak kelasmu!" peringat guru itu tegas membuat Tanaya meminta maaf


"Kita bicara diluar saja. Pak, kami permisi. Terimakasih." ucap Byan sopan, guru itu hanya mengangguk. Byan segera keluar dari ruangan itu diikuti Tanaya dari belakang.


"Duit lo dikit banget ya." ejek Byan memutar-mutar dompet Tanaya ditangannya.


"Yang penting halal." jawab Tanaya santai.


"Handphone lo juga murahan." lanjut Byan beralih pada ponsel Tanaya.


"Yang penting bukan hasil morotin orangtua!" balas Tanaya tajam, menyinggung Byan dengan sempurna.


"Berani lo ya! Jangan sampai gue aduin tubuh gak perawan lo itu ke kakak lo!" ancam Byan berbisik, ia juga mendekatkan wajahnya kewajah Tanaya.


Tanaya mulai panik, ia tak tahu apakah kakaknya akan masih menerimanya jika tau ia sudah tak perawan, atau malah membuangnya dijalanan, ia sungguh tak mau itu terjadi, ia akan merahasiakannya, nanti ada saat yang tepat ia akan memberi tahu kakaknya, itu.


"Jangan ...," suara Tanaya melemah.


"Cuma dia yang gue punya, jangan pisahin kita." lirih Tanaya menunduk.


Byan tersenyum kemenangan, rasanya bahagia diatas penderitaan orang, apalagi orang yang menderita itu tidak tahu bahwa penderitaannya hanya kepalsuan semata.


"Nih, gue balikin. Besok kakak lo pulang." ucap Byan menyodorkan barang-barang Tanaya yang ia ambil tadi pagi.


"Makasih kak." Tanaya mengambil barang miliknya dengan menundukkan kepalanya. Byan hanya menggidikkan bahunya, tak perduli rasa takut Tanaya saat ini, ia bukan tipe orang yang berperasaan.


"Gimana kalo gue hamil," gumam Tanaya memejamkan matanya, kejadian semalam terus menghantuinya, tangisan bayi terbayang di kepalanya.


"Hai." Tanaya terkejut, ia mengangkat kepalanya menatap Eman yang tersenyum manis padanya.


"Nanti pulang bareng kakak ya?" ajak Eman kembali tersenyum.


"Boleh kak, tapi kalo merepotkan aku bisa jalan saja." Tanaya tersenyum tipis kala dari tadi ia tak membalas senyuman Eman yang merekah sempurna.


"Kalo repot kenapa kakak mengajakmu?" Eman mengacak rambut Tanaya pelan.


"Kakak tunggu diparkiran, atau kamu yang menunggu ya lihat nanti saja." tutur Eman sembari meninggalkan Tanaya yang masih mematung.


****


"Ini pakaian gadis itu, ia lupa membawanya atau sengaja meninggalkannya, atau dia akan kembali mengambilnya?" Byan menatap pakaian Tanaya yang sudah terbungkus rapi di kantong hitam.


"Siapa perduli, jika tak diambil, akan aku buang." Byan kembali mengikat kantong itu dan segera mengganti baju.


Sekitar lima menit, Byan sudah berganti baju, ia hendak keluar untuk bermain bersama teman-temannya, namun baru saja ia membuka pintu, Tanaya berdiri tepat di depannya, gadis itu tampak ingin mengetuk pintu.


"Mau apa? Aku sedang tidak bergairah sekarang." Byan memutar bola matanya.


"Mau ambil baju." Tanaya masuk begitu saja, ia mengambil kantong berisi pakaiannya beserta tas selempang yang semalam ia bawa.


Byan tampak fokus pada ponselnya, ia menatap pesan masuk dari ibunya.


Bunda tersiying


[Nanti malam mama sama adikmu akan berkunjung ke apartmu, jangan sampai ada debu sedikit pun!]


Byan yang membacanya langsung menepuk jidat, apalagi melihat kondisi apartnya yang berantakan, banyak sampah jajanan dan botol minuman, bahkan bungkus rokok pun bertebaran dimana-mana, itu adalah kelakuan sahabatnya semalam.


Byan tersenyum menatap Tanaya yang berjalan mendekatinya atau lebih tepatnya ia akan keluar dan pulang kerumahnya.


"Lo ada dua pilihan kalo mau keluar dari sini." Byan menempelkan tangannya ke ujung pintu dan menutupi jalan keluar.


"Kurang puas kakak semalam ngancurin hidup saya?" tanya Tanaya datar.


"Gue bisa aja sekap elo disini dan ngebuat elo jadi wanita malam buat gue setiap hari, tapi gue masih ngehargain lo sebagai perempuan!" Byan tak kalah datar dari Tanaya.


"hmmm ...., apa lagi kak? apa pilihannya?" tanya Tanaya berusaha sabar, kota ini begitu jahat tentang perbuatan dosa.


"Lo layani gue nanti malam atau beresin apart gue sampai bersih?" tanya Byan memberi pilihan.


"Konyol, jelas gue milih bersihin kamar ini, tapi kakak janji bakal bebasin gue setelah selesai?" tanya Tanaya memastikan.


"Iya, tapi urusan kita belum selesai, gue bisa aja bongkar aib lo ya. Gue juga punya rekamannya." ancam Byan membuat Tanaya menghela nafas.


"Iya kak, tapi aku mau pulang dulu soalnya ---"


Byan langsung menutup pintu dan menguncinya dari luar, membuat Tanaya mau tak mau harus memulai dari sekarang, ia juga harus pulang untuk menyiapkan penyambutan atas kepulangan kakaknya.