
"Nikah yuk,"
Tanaya mendelik, bibir sebelah kanannya terangkat sedikit, bersamaan ia melirik Byan yang tengah memasang wajah polos.
"Abis baca novel roman yaa ..., sampe ketagihan pen nikah." tebak Tanaya kembali fokus pada tugas fisika yang ia kerjakan.
"Serius cewe alergi, aku gak main-main."
Tanaya menghentikan aksinya, ia menatap malas pada Byan yang terus saja mengatainya seperti itu, sudah tiga bulan setelah kejadian dimana ia bercanda mengatakan alergi jika berada didekat Byan, sampai sekarang masih belum Byan lupakan.
"Kak, umur aku baru enam belas tahun ..., kakak gila ya? Aku masih muda loh," celetuk Tanaya sembari menutup bukunya.
"Menurut kamu, aku tua?" tanya Byan menegakkan tubuhnya yang tadi bersandar malas disofa.
"Kakak pulang deh, udah malam, aku ngantuk." usir Tanaya ikut duduk disofa, tadi ia duduk dibawah dengan meja sebagai alasnya.
"Kamu pernah gak sih ngusir Dean kayak ngusir aku sekarang?" tanya Byan menajamkan tatapannya.
Tanaya menghembuskan nafas gusar, ia memilih diam dari pada memancing Byan terus menyangkut pautkan dengan hal-hal yang tidak ada faedahnya.
"Jujur aja, kamu gak usah sok jaga perasaan aku!"
Tanaya semakin menguatkan hembusan nafasnya yang kasar "sebenarnya cowok ada PMS juga gak sih, tapi dirahasiakan karna hal tertentu?" celoteh Tanaya merosot dari duduknya hingga kini posisi menjadi tidur.
"Jadi memang aku orang pertama yang pernah kamu usir kayak tadi?" Byan tertawa hambar, Tanaya semakin dibuat kesal dengan Byan yang terus mencari masalah.
"Kalo kakak masih mau ketemu, lewat cctv aja deh, beneran aku ngantuk Kak." Tanaya beranjak, merapikan peralatan belajarnya dan hendak membawanya ke kamar.
"Gue perkosa baru tau lo." Byan ikut beranjak dan keluar dari rumah Tanaya, perpisahan tanpa pamitan, tampaknya Byan tidak mempersalahkan itu, atau mungkin tidak sadar, entahlah.
Byan menuruni anak tangga teras rumah Tanaya, langkahnya melambat ketika melihat mobil Rafa berhenti dihadapannya.
Melihat Rafa turun bersama Ranaya, Byan memilih acuh dan segera masuk ke mobilnya, tak ada niatan untuk menyapa.
"Eh!" kaget Byan tak jadi memasuki mobilnya ketika mendapati Eman ikut serta dengan mereka.
"Tolong bantuin gue Yan!" teriak Rafa memapah Eman susah payah.
"Biar aku siapin air hangat." Ranaya tampak tergesa memasuki rumahnya.
"Gimana ceritanya dia ada disini?!" Byan membantu membawa Eman yang agak terlihat lemah.
"Tadi gue sama Ranaya lagi mampir di supermarket, pas mau jalan, tiba-tiba dia masuk mobil gue dengan keadaan kayak mabuk, gue tanya kenapa, katanya dia lelah dengan isi otaknya yang terus menghantuinya dengan wajah perempuan." terang Rafa dengan nafas tersengal.
"Kenapa gak ke rumah sakit?" tanya Byan sedikit panik, bagaimana jika Tanaya bertemu dengan Eman, ditambah keadaan Eman yang tampak kacau, itu akan semakin membuat Tanaya iba dan mencoba merawat Eman.
"Gak tau, usul Ranaya."
Eman dibaringkan dikasur kamar tamu, Ranaya segera menyuguhkan air hangat untuk Eman, ia membantu Eman untuk meminumnya agar merasa lebih baikan.
"Ahk! Siapa kamu! Kenapa menggangguku!" ringis Eman memegangi kepalanya, Ranaya semakin panik, ia mondar mandir tak jelas akan pergi kemana.
"Bentar, biar gue panggil aja dokternya kesini." Rafa segera keluar untuk menghubungi dokter kenalannya.
"Kak Byan belum pulang?"
Byan menoleh, ia memijit pelipisnya, sekarang pertemuannya dengan Eman tidak akan terhindarkan.
"Eh, itu Kak Eman ya?" Tanaya berlari mendekati Eman yang terbaring, Ranaya ikut berdiri disamping Tanaya, menatap khawatir pada Eman yang mulai tenang.
Perlahan Eman membuka matanya, menatap Ranaya dan Tanaya secara bergantian "Kalian mirip." Eman berucap pelan.
"Kami kakak beradik, dia adikku, namanya Tanaya.' tutur Ranaya sedikit tersenyum.
"Kak Eman kenapa?" tanya Tanaya yang membuat alis Eman terangkat.
"Kamu kenal?" tanya Eman mencoba untuk duduk, Ranaya menggenggam tangan Eman membantu ia duduk.
"Kakak gak ingat? Aku Tanaya, kita pernah pulang sama kayaknya, kakak juga ketua OSIS yang sengaja ngasih nama kakak sendiri waktu MPLS." jelas Tanaya sedikit membuat Byan membola, lain dengan Eman yang tampak mencoba mengingat.
"Kayaknya saya harus pulang, kepala saya udah baikan." Eman mengalihkan pembicaraan.
"Kakak baru keluar dari rumah sakit ya? Kok gak ada beritanya sih?" Tanaya kembali melayangkan pertanyaan.
"Suaramu mirip dengan perempuan yang terus mengganggu pikiranku," Eman tersenyum dengan tatapan kosong.
"Masuk kamar sebelum aku bawa kamu pulang kerumah aku lagi." bisik Byan dengan berdiri disamping Tanaya.
Byan membalas tatapan Tanaya dengan tajam, melihat itu, Tanaya menghembuskan nafas pelan, dengan menunduk ia kembali ke kamarnya.
"Biar aku yang bawa dia pulang kak."
Ranaya mengangguk, ia mundur membiarkan Byan membantu Eman untuk bangkit, Rafa tampak masuk dengan wajah masih setengah khawatir.
"Dokternya sibuk,"
"Dia udah baikan, yuk, aku antar sampai depan, pulang sana, bau janda tuh."
Rafa melotot, lagi-lagi Ranaya mengatainya yang tidak-tidak, memang saat mereka jalan-jalan tadi, ada perempuan yang tidak sengaja jatuh dan Rafa menangkapnya dengan sigap.
Akhirnya disepanjang perjalanan, Tanaya terus mengomel dan marah-marah hingga kedatangan Eman yang masuk kemobil mereka, menghentikan semuanya.
"Itu refleks sayang, gimana kalo aku diam aja, lebih buruk' kan kalo aku disuruh gendong dan bawa dia ke rumah sakit."
"Aku sih gak perduli, yang penting jangan dekat-dekat dulu satu minggu, bau jandanya kental banget."
"Sayang ...,"
"Eh, anjing! Ayo pulang!"
Byan menatap malas pada dua sejoli ini, pulang ya tinggal pulang, ribet banget, mau pulang harus berdebat masalah janda dulu.