
Tanaya sampai dirumahnya dengan diantar Byan, gadis itu masih berpakaian sekolah, hanya saja ditutupi oleh jaket Byan yang dipinjamkan pemuda itu.
Tanaya langsung membersihkan diri, setengah hari ia dibelenggu oleh tali hanya untuk jawaban iya, bahkan ia tak punya kesempatan menolak, ia seperti menyia-nyiakan waktunya.
Tanaya membuat makan malam untuknya, memasak sup ayam dicampur wortel dan kentang, makanan yang dibawa Byan tadi masih kurang untuk perutnya.
Selesai memasak, ia melahapnya sampai habis, ia langsung menyuci piring yang baru ia pakai.
Tok Tok Tok
Tanaya mendengar suara ketukan pintu, ia segera berjalan kearah pintu, saat dibuka ternyata Eman yang datang kerumahnya.
"Kakak ngapain kesini, ini udah jam sebelas." ucap Tanaya tampak bingung.
"Hah? jam sebelas?" tanya Eman terkejut, ia melirik jam tangannya dan benar saja, sudah pukul sebelas.
"Sialan, aku terlalu lama mencari kata-kata yang tepat untuk mengajaknya jalan malam ini, padahal tadi aku sudah siap-siap pukul delapan." Eman membatin, kesal rasanya.
"Yaudah, kakak pulang dulu, mau cek kamu ada didalam apa enggak. Da Tanaya." Eman berbalik badan, ia meninggalkan Tanaya yang masih dilanda kebingungan.
Keesokan harinya, Tanaya sudah siap dengan seragamnya, ia mengunci pintu rumahnya dan segera berjalan menuju sekolah.
"Tanaya, disini." teriak seorang laki-laki dari arah belakang.
"Kak Eman?" Tanaya membalikkan badannya, ia melihat Eman yang wajahnya keluar dari jendela mobil, Eman menghampiri Tanaya dengan mobilnya.
"Yuk, berangkat sama." ajaknya menawarkan tumpangan.
"Hmmm." Tanaya agak ragu dengan ajakan Eman, apakah ini masalah nantinya.
Tanaya melihat mobil yang berhenti didepan mobil Eman, kaca mobil itu turun dan memperlihatkan wajah Byan.
"Masuk Tanaya." ucap Byan datar.
"Tanaya, aku yang duluan sampai. Naik saja, tak apa." Eman turun dari mobilnya dan membujuk Tanaya.
"Tapi kak-"
"Tanaya, gue bilang masuk." Byan menajamkan tatapannya pada Tanaya, tak suka rasanya melihat Eman yang berusaha mendekati Tanaya, tak akan ia biarkan cinta Eman berbalas, tak akan ia biarkan Eman bahagia.
"Maaf kak, aku duluan." Tanaya tersenyum tipis pada Eman, ia berjalan mendekati mobil Byan, hal itu membuat Eman teriris, ia ditolak.
"Padahal pemuda itu semalam bilang Tanaya adalah korban selanjutnya, kenapa gadis itu mau saja?" tanya Eman memilih masuk ke mobilnya, ia mengikuti mobil Byan dari belakang, memastikan gadis incarannya akan baik-baik saja.
"Lo bisa jaga jarak sama dia?" tanya Byan melirik Tanaya yang bermain ponsel.
"Emangnya kenapa?" balik Tanaya yang bertanya.
"Okay." jawab Tanaya santai.
Nanti gue jemput ke kantin, gue bakal ngenalin lo kesemua orang disekolah ini." tutur Byan ketika sampai diarea sekolah.
"Gak di privat aja kak?" tanya Tanaya polos.
"Gilak lo ya, gue mau balas dendam, kalo di privat buat apa. Memang stres." Byan menggelengkan kepalanya, bodoh sekali gadis yang disukai Eman ini.
"Ya santai dong kak, kan cuma ngasih ide sih." elak Tanaya keluar dari mobil Byan, berjalan duluan meninggalkan pemuda itu yang masih ingin meninggalkan pesan.
"Memang susah bergaul sama orang yang otaknya didengkul." celoteh Tanaya saat berjalan ke kelasnya, ini masih sangat pagi, hanya beberapa orang yang baru sampai, namun ada beberapa orang yang menyaksikan ia datang ke sekolah bersama Byan.
Sekitar tiga puluh menit, sekolah itu sudah ramai, kelas Tanaya juga sudah mulai heboh, berisik sekali.
"Serius woyy?"
"Iya anjing."
"Bukannya semalam dia diancam ya?"
"Tanya langsung aja kali, dia' kan Bestie kita sih."
"Tunggu Amanda aja weee, biar dia yang nanya,"
"Bener tuh, lagian kalo soal Byan mending hati-hati deh."
"Tapi gue penasaran."
"Apalagi gue yang liat langsung!"
"Eh, Amanda dah nyampe."
Para perempuan dikelas Tanaya langsung heboh berlari menghampiri Amanda yang baru sampai, membuat gadis itu terkejut.
"Man, lo tau gak kabar hot pagi ini?" tanya Luis membulatkan matanya.
"Ada yang lebih hot tau, gue baru aja dikasih tau." balas Amanda langsung berbisik membuat ciwi-ciwi yang lain berkumpul mendekatkan telinganya masing-masing.
"Tadi pagi katanya Byan datang kesekolah bawa cewe, katanya sih dari kelas sepuluh." terang Amanda membuat mereka yang mendengarnya langsung memasang wajah kesal.
"Kenapa? Kalian gak percaya?" tanya Amanda polos, ia kan memang tak tahu apa-apa.
"Tanaya cewenya anjing, Byan dateng sama Tanaya!" kesal Amel mengepalkan tangannya hendak meninju wajah Amanda yang macam monyet ia lihat sekarang.