
"Dia kesannya kayak ngehindar gak sih?"
"Siapa?"
"Mantan gue?"
"Nanyain mantan, lo sendiri aja gue belom kenal!"
Dean menghentikan langkahnya, niatnya sih hendak berkenalan dengan perempuan sekelasnya yang kebetulan jalan sendirian menuju parkiran, tapi responnya sungguh tidak ramah.
Perempuan bernama Zea itu sebelumnya sempat menaruh hati pada pandang pertama pada Dean, ditambah Dean dipilih duduk didekatnya membuat ia sangat bahagia, namun ia seketika ilfeel ketika mendapati Dean sepanjang jam pelajaran terus mengoceh tak jelas bak orang gila.
"Mungkin karna ada pacarnya, padahal pas sama gue dia gak segitunya jauhin cowok-cowok." Dean menatap Byan dan Tanaya dari kejauhan, ia menghembuskan nafas panjang sebelum kemudian melanjutkan langkahnya.
"Kamu mau cari perhatian Dean?"
Tanaya memutar bola mata jengah, pertanyaan Byan sungguh membuatnya hampir gila, bahkan ia akan lebih memilih diantara kerumah sakit jiwa dari pada harus terus berada dibawah tekanan seperti ini.
"Dean gak sebanding sama kamu, kalo kamu marah berarti kamu merasa dia lebih tampan dari kamu." protes Tanaya bersedekap dada sembari mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil.
"Gak selamanya berpindah hati gara-gara fisik Nay." Byan memiringkan duduknya menghadap Tanaya yang tampaknya enggan melihatnya balik.
"Kayak bisa aja aku balik sama dia ..., Emang kamu rela dan ngebebasin gitu aja?" Tanaya tetap pada posisinya.
Byan terdiam sebentar, sebenarnya ucapan Tanaya benar sepenuhnya ..., tapi' kan beda rasanya memiliki tapi hatinya milik orang lain dibandingkan sepenuhnya hati dan raganya juga milik kita.
"Kayak aku gak kenal kakak gimana?" lanjut Tanaya memilih menyandarkan kepalanya serta memejamkan mata ketika Byan tak kunjung menghidupkan mesin mobilnya, rasanya didalam mobil Byan pengap dan membuat jiwa ingin telanjangnya muncul.
*
*
*
*
Eman berjalan menyusuri setiap lorong buku di perpustakaan yang letaknya ditengah kota, ia mengambil beberapa buku pesanan kakaknya serta meminjam beberapa buku yang bersangkut paut dengan ujiannya.
"Aku memang gak berhak bahagia," gumamnya membaca cuplikan cerita dari novel yang ia pegang.
"Baru kali ini aku jatuh hati tapi lagi-lagi digagalkan bahagia oleh Byan, itu semua gak murni kesalahan papah, aku juga dulu ikut serta merendahkan nyokap Byan," lagi-lagi Eman menerbitkan senyum pahit.
"Cara haram bisa gak sih?" Eman tertawa sebentar, sedetik kemudian ia menghela nafas pelan, ia segera berbalik karena memang sudah mendapat buku-buku yang ia cari.
Bruk!
"Maaf, maaf." ucapnya spontan ketika tak sengaja menabrak perempuan yang tadinya ingin berjalan melewati Eman.
"Kak Eman disini?" Tanaya mendongak, ya, tak lain perempuan itu adalah Tanaya.
"Sama Byan ya?" tebak Eman tanpa berniat menjawab pertanyaan Tanaya yang jelas semua orang tau jawabannya.
Tanaya menggeleng cepat "Aku sendiri kak." Tanaya memamerkan senyumnya.
"Kakak dengar-dengar kamu gak dibolehin tuh keluar dari kelas sama Byan, kenapa bisa keluyuran bebas diluar sekolah,"
Tanaya menggaruk kepalanya yang agak gatal "hehehe, aku mau cari novel bagus, kayaknya kabur satu-satunya cara." Tanaya cengengesan.
"Eh! Kakak udah ingat aku?" Tanaya tampak melotot.
"Kamu yang dua bersaudara itu' kan?" tebak Eman membuat Tanaya menghela nafas panjang.
"Kakak belum ingat semuanya?"
Eman menggeleng, ia berbohong, bahkan kedua orangtuanya masih belum tahu tentang ingatannya yang sudah kembali.
"Tanaya!"
"Bersiap kakimu kupotong sekarang!"