
SMA Sinar Purnama baru saja selesai mengadakan upacara, namun amanat guru tadi menyampaikan untuk tidak bubar dulu karna akan ada sekedar info yang tidak tahu penting atau tidak.
Tanaya meneguk ludahnya ketika melihat rambut Byan yang sedikit basah akibat peluh, keringatnya tampak menetes kedahi pemuda itu, kesannya sungguh menambah ketampanan Byan berkali-kali lipat.
Tanaya segera membuang wajahnya ketika Byan juga menatap kearahnya, ia kini menjadi gugup dan salah tingkah karena dapat melihat dari ekor matanya jika Byan masih memperhatikannya.
"Dia milik kamu Tanaya, dia itu menyebalkan, kenapa bisa sampai salting." Tanaya menutup bagian wajah kanannya untuk menghindari tatapan Byan.
"Baiklah ananda, seperti yang kalian tau---"
"Ya Bu!"
Semua menoleh ke arah Amanda yang tampak maju dan mengangkat tangannya keatas, guru yang berbicara di depan itu mengernyit bingung.
"Ada apa?" tanyanya yang tidak terlalu kenal dengan Amanda.
"Tadi ibu panggil saja, Amanda." jawab Amanda seadanya.
"Ananda kali Man, bukan Amanda." kesal Gaby dengan tangan menutupi kepalanya yang terkena sinar matahari.
"Eh, serius lo?" tanya Amanda berbalik badan menghadap Gaby yang ada dibarisan depan.
"Telinganya banyak taiknya Bu, makanya ngira namanya yang dipanggil!" tutur Rahmat yang sekelas dengan Amanda.
Amanda segera berlari mengambil barisan dibelakang Tanaya, ia menutup wajahnya dengan malu, sangat malu rasanya! Ia melirik kearah dimana tadi Zean berbaris, tampak pemuda itu juga melihatnya dengan tersenyum, Amanda semakin dibuat malu oleh tatapan pacarnya itu.
"Anak zaman sekarang, mempercantik wajah tidak dengan telinga." sindir guru itu membuat banyak orang tertawa, bahkan beberapa guru juga ikut tertawa, Zean yang melihat Amanda terus menutupi wajahnya seketika memasang wajah datar.
"Tes kotoran telinga juga masih kotoran punya ibu!" teriaknya membuat siswa-siswi kembali menoleh kearahnya, Amanda yang mendengarnya melotot dibalik telapak tangannya.
"Berisik, dah panas ni ah!" sentil Afdi melirik Zean dengan tajam.
"Baiklah, hinaan itu ibu terima, untung kamu ganteng Zean. Oke, kembali pada pengumuman."
Amanda menurunkan tangannya, menatap Bu Afifa dengan heran, penuturan itu sungguh diluar dugaan.
"Makanya jangan main maju-maju aja." ucap Tanaya tanpa menoleh pada Amanda.
"Diam lo Donat!"
"Seperti yang kalian ketahui, ketua OSIS kita, Eman Afryadi, kelas XII IPA² mengalami cidera dan merenggut ingatannya, jadi tidak seharusnya beban ketos masih ia tanggung, lagi pula ia memang harus digantikan karena harus fokus pada ujian akhirnya,"
"Meski harusnya jabatan itu berakhir beberapa minggu lagi, tapi Eman harus memiliki waktu istirahat yang cukup, untuk itu ada siswa baru dari sekolah lain yang mendaftar dan membayar mahal untuk masuk kesini dan ingin dinobatkan menjadi ketua OSIS baru."
Siswa siswi masih mendengarnya dengan seksama, beberapa darinya memperhatikan Eman yang tampak berdiri dengan tegap dibarisan kelas duabelas dan sedikit berbisik-bisik.
"Kita juga memang butuh dana jadi sekolah menerima permintaannya. Naik nak, ayo sambut dengan tepuk tangan."
Prok! Prok! Prok!
Semua tersenyum bahagia menatap seorang pemuda yang naik keatas mimbar, tampak pemuda itu memamerkan senyum membuat para kaum hawa berteriak hebat.
Ditengah barisan, Tanaya tampak melongo terheran-heran melihat Dean, sang mantan cinta monyetnya yang tiba-tiba pindah bahkan menjadi ketos disekolahnya.
Memang mantannya itu sangatlah tampan, hanya saja mulutnya terlalu lancar jika bicara sehingga membuat ia menjadi kesan sakit jiwa.
"Saat mendaftar, saya mendengar tentang kecelakaan ketos kalian yang mengakibatkan ia hilang ingatan, bahkan disebabkan oleh hal yang sebenarnya sangat memalukan, jadi saya berinisiatif untuk menggantikan sang ketos, ditambah saya juga bingung, mau diapain duit saya yang sangat banyak ini." ujar Dean setengah tertawa.
Byan melirik Eman sekilas, berganti pada Tanaya yang tampak menunduk, Byan memasukkan tangannya kedalam saku, menyimak ucapan pemuda yang kini terlihat sok dimatanya.
"Baiklah, terimakasih untuk waktunya, saya tutup dengan selamat pagi."
___________________________
"Jangan keluar kelas! Jangan keluar rumah! Pergi pulang sekolah aku antar! Jangan nyari info tentang Dean, apalagi Eman! Hp kamu, aku sita, ralat! Hp kalian semua aku sita selama jam sekolah!"
Seisi kelas X IPA² hanya mengangguk pasrah, berkali-kali Tanaya mencoba untuk membujuk Byan agar tidak berlebihan, namun Byan tetap kekeh pada keputusannya.
"Kalo sampai Tanaya tau sesuatu tentang perkembangan Dean dan Eman, kalian semua gue hajar!" peringat Byan menatap seluruh penjuru kelas IPA².
Zean tampak tersenyum ketika mendapat ponsel milik Amanda yang juga disita oleh Byan, sekitar tiga puluh ponsel kini berada didalam kotak yang akan Byan sita hari ini.
Alasannya supaya kelas Tanaya tak ada sedikitpun yang mencari-cari info tentang Dean diakun gosip, pokoknya ia akan basmi segala gosip yang berhubungan dengan Eman serta kabar yang sedang hot mengenai Dean.
Amanda tersipu ketika Zean tampak mengangkat ponselnya tinggi-tinggi, kemudian menciuminya dengan senyum.
"Ponsel kamu aku sita." ucap Zean tanpa suara, namun Amanda bisa membacanya melalui gerak bibir Zean.
Amanda hanya tersenyum malu, ia menutup wajahnya, entahlah, apa yang harus dilakukan untuk itu.
Byan dan teman-temannya segera meninggalkan kelas itu, bersama dengan kotak berisi ponsel-ponsel Tanaya dan juga teman sekelasnya.
"Gak bisa nge-game anj."
"Padahal tadi gue udah janji mau video call sama ayank,"
"Dibalikin gak ya, Mak gue tadi pesan jengkol sama petai, cuma timbangannya gue ketik di hp."
"Gue pengen main tik-tok, huaaa!"
"Kayak punya pacar posesif deh, hp gue disita gitu aja,"
"Gue gak pernah kosong Selfi sehari aja kalo di sekolah ...,"
"Diperiksa gak yaa, soalnya ada video 18+ di galeri gue,"
Gaby mendatarkan wajahnya, menatap teman-temannya yang terus mengeluh.
"Memang setan anak zaman sekarang."