The Girl Is Mine

The Girl Is Mine
Rencana untuk Amanda



"Baru kali ini loh, Byan mau pacaran, sampai bawa kerumah lagi." Sarah tampak tersenyum lebar.


Feby menatap Byan, ia menunduk sambil tersenyum, ini semua adalah ulahnya yang menculik Tanaya.


"Hehe, orang kayak dia agak gak pantes ya bisa suka sama saya." balas Tanaya dengan tatapan seolah sedih.


"Maaf mah, dia memang suka gitu." Byan mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang.


"Ngapain kamu bilang kayak gitu, justru dia yang gak pantes sebenarnya, dia itu jahat, sering dapat panggilan dari sekolah. Tampan sih, tapi buat apa? Tampan dipakai keseringan hanya untuk selingkuh." cibir Sarah menatap Byan seolah bukan anaknya, ia seperti menganggap Byan anak tetangga.


Tanaya tersenyum, ia menatap Byan yang tampak kesal.


"Yaudah tante, aku mau pulang dulu," ucap Tanaya tersenyum tipis pada Sarah.


"Yaudah, Reno, anterin dia ya, sekalian kamu juga pulang." titah Sarah membuat Byan menggebrak meja.


"Dia pacar Byan mah!"


Tanaya menoleh kasar, ia tak salah dengar? Aneh bukan jika itu masih sandiwara?


"Hmmm, kamu yakin bisa menjaga dia?" tanya Sarah tampak curiga.


"Gak bisa mah, udah, ayo pulang Tanaya." Byan bangkit sembari memutar bola matanya.


Setelah berpamitan Byan dan Tanaya akhirnya pulang, Tanaya hanya diam saja sepanjang perjalanan, masih bingung kenapa ia Sampai diculik tadi.


"Berhenti ikut mencalon OSIS."


Tanaya mengerutkan dahinya, ia menatap heran pada Byan, tau dari mana laki-laki ini, apa ia selalu diikuti, atau menyuruh orang mengikutinya,atau bagaimana caranya?


"Kakak jangan ikut campur." tegas Tanaya berujar datar.


"Tanaya, apa susahnya menuruti kemauan gue, lo tau apa yang bakal gue ucapin selanjutnya kalo lo masih berkeras menolak." tutur Byan membuat Tanaya mengepalkan tangannya dibawah sana.


"Plis deh kak, apa salahnya aku mencalon. Aku cuma mau aktif disekolah ini, bukan cuma datang, duduk, belajar, pulang, aku mau lebih dari itu kak!" terang Tanaya berusaha pada pendiriannya.


"Jangan buat aku marah, Tanaya. Aku bukanlah orang yang sabar." Byan berujar dengan tatapan lurus ke depan.


"Aku gak tau apa alasannya tapi okay! Aku ngorbanin diri untuk hal yang gak jelas kayak gini, lagi!" Tanaya memilih memejamkan matanya, tak mau berkeras karna ujungnya ia akan tetap dipaksa untuk berkata ya.


"Kamu gak ada ngerasa gejala apapun tentang kehamilannya?" tanya Byan sok khawatir.


Tanaya tersentak, ia membuka matanya, kenapa harus ini yang dibahas, Byan menatapnya mencari jawaban, Tanaya hanya menggeleng pelan.


"Besok kita ke dokter."


Tanaya hanya mengangguk pelan, ia menatap kosong pada jalanan yang masih ramai dan sedikit macet.


"Tanaya, besok pagi lo berangkat sama gue, setuju artinya iya, menolak artinya setuju."


Tanaya terdiam, mengerutkan dahinya pasalnya kata-kata Byan barusan membuat ia bingung sebentar, sedetik kemudian ia paham dan hanya menghela nafas pelan.


"Iya kak Byan."


06.58


Byan sedang dalam perjalanan kerumah Tanaya, tampak Byan tengah mengotak-atik ponselnya, jarinya tampak lihai bergerak diatas layar dengan satu tangan.


Ia mengirimkan pesan pada seseorang, setelah itu senyum miring terbit dibibirnya, ia kemudian menancap gas lebih kencang.


Byan akhirnya sampai dirumah Tanaya, terlihat perempuan itu tengah duduk dengan wajah masam, ia menatap kesal pada Byan yang baru saja turun dari mobil.


"Lo minta digendong?" tanya Byan bersandar pada mobilnya.


"Kakak lama banget, ini udah jam tujuh lewat!" Tanaya bangkit berdiri, menghampiri Byan yang hanya memasang wajah santai.


"Nanti aku dihukum kak, pelajaran pertama kelas aku seni, gurunya galak tau." adu Tanaya mencebikkan bibirnya.


"Yaudah, masuk cepetan." titah Tanaya mendorong Byan pelan.


Dilain sisi, Amanda baru sampai dikelasnya, ia meletakkan ranselnya dikursi, tak lama ia kembali mengambil ranselnya, ia lupa ia sedang marah dengan Tanaya dan tidak mau duduk bersebelahan, ia memindahkan ranselnya kekursi belakang.


"Pas banget." Revan berdiri didepan pintu kelas membuat seisinya menjadi panik, beberapa hari yang lalu kedatangan mereka membawa orang yang bermasalah untuk dihabisi, kali ini siapa?


Zean dan Afdi baru muncul dan ikut berdiri di depan pintu, menatap Amanda yang mulai was-was.


"Lo ikut kita." Revan menunjuk Amanda.


"Gue gak punya urusan sama kalian." Amanda yang paham langsung membantah perintah Revan.


"Sekali lagi, lo mau datang sendiri atau gue seret?" tanya Revan menahan amarah.


"Gue gak perduli kalian mau ngapain, jangan main-main sama gue ya, gue laporin kalian pelaku bullying di sekolah ini!" ancam Amanda yang malah membuat Revan, Zean dan Afdi berjalan mendatanginya.


Revan menarik lengan Amanda, ia masih memperlakukannya dengan lembut, tidak sekasar saat menarik Reni waktu itu, menurut pesan Byan, Amanda tidak boleh terluka, karna Byan masih menghargainya sebagai sahabat Tanaya.


"Gue bakal teriak kalo Tanaya berbuat dosa sama Byan!" ancam Amanda berbisik ketika berada di koridor yang sepi.


"Sekarang lepasin gue!" ucap Amanda ketika tiga pemuda itu saling tatap dengan ancaman Amanda.


Zean sudah menduganya, untung Byan memberitahu apa masalahnya, dan benar saja Amanda menggunakan ancaman itu untuk lolos dari mereka.


Memang Byan minta tolong pada mereka untuk membawa Amanda ke apartemennya, menyekap gadis itu untuk sementara, tidak ada yang tau jika nantinya ia tak sengaja keceplosan rahasia Tanaya yang sebenarnya hanyalah akal-akalannya.


Zean mengeluarkan sapu tangan yang sudah diberi obat bius, menutup penciuman Amanda dengan sapu tangan itu hingga membuat Amanda pingsan.


Mereka langsung membawanya ke mobil, dan segera membawa Amanda ke apartemen Byan sesuai permintaan Byan sendiri.