
Pukul tujuh, Tanaya buru-buru meninggalkan rumahnya dan berjalan kaki menuju pasar malam yang lumayan jauh dari rumahnya, lebih baik ia kelelahan dibanding memberikan tubuhnya kepada pemuda yang jelas tidak akan bertanggung jawab atas dirinya.
Mimpinya masih jauh didepan, kehidupannya masih panjang, ia tak akan menyia-nyiakan itu semua untuk melayani pria tak dikenalnya.
"Udah gue duga, lo bakal lari." gumam Byan dengan mobilnya yang terparkir didekat perumahan Tanaya.
"Berarti lo selamat, tapi lo udah berani menipu seorang Byan Albiansyah, lo akan mendapatkan balasan yang setimpal." lanjutnya mengikuti langkah Tanaya.
Byan melajukan mobilnya dan berjalan seiring dengan langkah Tanaya sehingga mengambil perhatian Tanaya kearahnya.
"Mau kemana nona?" tanyanya pada Tanaya, ia sengaja mematikan lampu mobilnya agar wajahnya tak terlihat, kebetulan jalan itu gelap, Tanaya hanya mengandalkan senter handphonenya.
"Mau jalan-jalan saja sebentar." jawab Tanaya tetap berjalan dengan cepat.
"Mau menumpang? aku dengar baru-baru ini ada pemerkosaan didaerah sini." dusta Byan ditengah kegelapan.
"Benarkah?" tanya Tanaya menghentikan langkahnya.
"Hmmm, apakah kw ingin menumpang, jika tidak aku akan berlalu?" ulang Byan dengan liciknya.
"Baiklah, apa kau bisa mengantarku ke pasar malam?" tanya Tanaya segera masuk ke mobil Byan.
"Tentu saja." ucap Byan mengunci pintu mobilnya.
Byan menghidupkan lampu mobilnya dan menerangi jalanan yang sunyi itu, Tanaya menetralkan nafasnya yang bergemuruh, cukup lelah ia berjalan tadi.
Sebelum mendapati jalan ramai, Byan berhenti diantara pepohonan yang cukup jauh dari perumahan, ia menutup kaca jendelanya dan menghentikan laju mobilnya, hal itu membuat Tanaya keheranan.
"Apa terjadi kerusakan?" tanya Tanaya bingung.
Byan hanya diam, ia mengambil tali dari jok belakang yang sudah ia siapkan, menarik paksa kedua tangan Tanaya dan mengikatnya, Tanaya awalnya menurut saja, tapi saat mengetahui sesuatu melilit tangannya, ia segera memberontak.
"lepaskan saya Tuan, apa yang aku lakukan?" tanya Tanaya panik.
Byan tersenyum miring, setelah mengikat tangan Tanaya, ia kembali mengikat tubuh Tanaya agar menempel pada kursi dengan tujuan supaya Tanaya tidak dapat memberontak dan memberi kerusakan pada mobilnya.
Merasa ini tindakan kejahatan, Tanaya mulai berteriak sekencang-kencangnya.
"Tolong ...! Tolong selamatkan aku! Tolong!" teriaknya kuat, Byan menutup telinganya sebentar.
"Ah, sial. Aku lupa dia punya mulut." ucap Byan kembali menutup telinganya.
"Ketemu." ucapnya mendapatkan lakban.
"Hmpppp!" Byan segera menutup mulut Tanaya dengan lakban, seketika suara Tanaya lenyap membuat Byan menghembuskan nafas lega.
Iya kembali mengemudikan mobilnya menuju apartemen miliknya. Tanaya mulai menitikkan air matanya, hal ini pasti berakhir antara ia dibunuh, atau ia diperkosa.
Sebanyak mungkin Tanaya mengirimkan doa-doanya, ia tak lagi memberontak karena tau jikapun terlepas, pasti ia tidak akan bisa keluar, malah yang ada ia akan dilukai oleh orang yang menculiknya.
"Bagaimana membawa ia masuk?" tanya Byan memarkirkan mobilnya diparkiran.
"Aku tau." Byan memakaikan masker untuk Tanaya supaya menutupi lakban yang ada dibibirnya.
Ia segera keluar dari mobilnya, dan membuka pintu untuk Tanaya, melepaskan ikatannya, menarik tangan Tanaya agar keluar dari mobilnya.
Byan menyeret Tanaya yang terus memberontak, Byan menguatkan cengkeramannya dilengan Tanaya membuat gadis itu melemah dan membiarkan Byan membawanya.
Melewati beberapa orang yang sempat keheranan melihat wajah Tanaya yang sembab, namun Byan segera mengacup pipi Tanaya membuat orang-orang itu berfikir mungkin mereka adalah pasangan yang tengah memiliki masalah.
Tanaya menatap wajah Byan dan tersadar bahwa pria yang sedari tadi bersamanya bahkan menculiknya adalah orang yang ia janjikan akan melayani orang itu.
Tanaya semakin memberontak, Byan akhirnya sampai kamarnya dan dengan sigap mengunci pintu itu cepat.
Tanaya menatap tiga lelaki yang ada di dalam kamar itu, mereka tak lain adalah sahabat yang duduk bersama Byan tadi pagi di kantin. Tanaya semakin panik.
Byan menghempaskan tubuh Tanaya diatas kasur, menindih tubuh Tanaya serta membuka masker yang tergantung dibibir Tanaya.
Tanaya menggeleng ketakutan, ternyata ia tak bisa lari dari pemuda ini, tau begini ia tak akan setuju atas persyaratan tadi pagi.
"Hei hei hei! Apa kami juga boleh melihat?" tanya teman-teman Byan yang duduk di sofa.
"Tentu, dia milikku sekarang, nilai seberapa lihai aku bermain." tutur Byan mengeluh wajah Tanaya, tak lupa tangan yang satu lagi ia gunakan untuk menahan kedua tangan Tanaya agar tak bisa memberontak.
"Berikan aku biusnya." titah Byan membuat salah satu dari temannya melemparkan sapu tangan dan dengan cepat ditangkap Byan.
"Tenang, aku akan membuatmu tak sadarkan diri, jadi kau tidak akan merasa sakit selama permainan." ujar Byan lembut, hal itu membuat Tanaya semakin menangis.
"Baiklah, baiklah. aku akan membebaskanmu jika kau dapat berbicara, bagaimana?" Byan tersenyum manis pada Tanaya.
Sahabat Byan hanya terkekeh geli, bagaimana Tanaya berbicara jika lakban itu masih menempel dibibirnya.
"Hmmm, sepertinya kau tak mau bebas, baiklah, aku akan memulai permainan yaa." Byan menatap sapu tangan ditangannya.
Byan menempelkan sapu tangan itu dihidung Tanaya sehingga tak menunggu lama, Tanaya sudah hilang kesadarannya.