The Girl Is Mine

The Girl Is Mine
Tersebar sesuai rencana



"Nay, dipanggil Kak Byan ke kantin." Ayni, siswi kelas sebelah memanggil Tanaya yang asyik bercerita dengan teman-temannya.


"Ay, jangan main-main, lo mau kayak Reni." peringat Ayes melirik Reni yang mengangguk setuju.


"Ih, serius. Dikira gue bercanda apa?" Ayni memutar bola matanya.


"Gue bakal ikut sama lo," Amanda menatap Tanaya serius.


"kita malu sama-sama." Amanda tampak meyakinkan Tanaya agar tidak takut, pasalnya semalam Byan mengatakan bahwa Tanaya adalah korban perundungan selanjutnya.


"Gue juga." balas Gaby bangkit berdiri.


Tanaya tak bisa melerai kekhawatiran teman-temannya, meski hal yang mereka duga salah namun tetap saja ada kekhawatiran tersendiri untuknya.


"Kalian bertiga aja deh, kalo darurat banget ntar kita lapor ke guru." tutur Amel menghela nafas pelan.


"Lo tau resiko lapor ke guru' kan?" tanya Luis menatap Amel.


"Itu urusan belakangan, udah ayo buruan." jawab Amel berjalan duluan, disusul Amanda dan Gaby yang menarik Tanaya, tak lupa teman-temannya yang lain juga ikut serta.


Sesampainya di kantin, Byan tersenyum melihat Tanaya yang berjalan kearahnya, ia menepuk kursi kosong disebelahnya dengan arti menyuruh Tanaya duduk disana.


"Semangat!" ucap Amanda, diikuti anggukan dari temannya yang lain. Tanaya berjalan perlahan mendekati meja dimana Byan dan ketiga temannya duduk.


"Eh, tuh cewek yang tadi pagi bukan sih?"


"Liat tuh, dia duduk disamping Byan!"


"Bukannya tuh cewek yang semalam bermasalah dengan Byan ya?"


"Dia kelas sepuluh' kan?"


"Dia juga cewek yang dapat nama Byan weey."


"Pas MOS!"


"Tau gak sih, nama dia Tanaya, yang berangkat bareng Byan tadi pagi."


"Sialan tuh cewek, harusnya dia diabisin sesuai janji Byan semalam."


"Diem lo anjing." bentak Reni ketika seorang perempuan disampingnya berujar demikian.


"Eh, lu cewek semalam' kan? Yang dihajar Byan' kan?" tanya perempuan itu menutup mulutnya sembari tertawa, terdapat ledekan disana yang membuat Reni panas dingin.


"Mau apa lo? Mau dirundung lagi?" perempuan itu kembali memanas-manasi Reni, untung Amanda langsung menarik Reni untuk berpindah kesampingnya.


"Berhenti gosipin pacar Byan!" teriak Zean menatap tajam sekumpulan gadis yang duduk disamping meja mereka.


"Hah? Pacar?"


Yang awalnya gosipan hanya berbisik, kali ini bahkan lebih parah, suara gosipan itu bahkan lebih besar dan semakin terdengar jelas, Tanaya semakin keringat dingin dibuatnya.


Byan tersenyum pada Zean sembari mengangguk, memberi kode bahwa itu sudah cukup.


Byan menggenggam tangan Tanaya yang ada dibawah meja, hendak membawanya keatas dan mempublikasikannya, namun Tanaya menolak keras, ia menggeleng saat Byan menatapnya.


Byan hanya tersenyum, sedetik kemudian ia berhasil membawa genggaman tangan mereka diatas meja, membuat hal itu menjadi sorotan seketika.


"Harusnya dia udah keluar dari SMA ini, tapi bisa-bisanya dia malah jadi pacar Byan."


Eman yang baru masuk ruang OSIS mendengar buntut pergosipan teman OSIS-nya yang lain.


"Byan punya pacar, siapa?" tanya Eman menghampiri Fadya, Nina, Isma dan juga Nazura yang sudah duluan berkumpul diruang OSIS.


"Eman, yang cowok-cowoknya mana?" tanya Isma tidak menjawab pertanyaan Eman.


"Mana gue tau, emang gue mak nya?" ketua Eman memilih duduk di kursinya.


"Maaf guys, kita kecepatan datangnya." Ridwan masuk sembari sibuk memasang dasinya, diikuti Alan dan Daniel dari belakang.


"Ni sayang," Alan menghampiri Fadya seraya menyodorkan botol mineral pada kekasihnya itu.


"Mau dibukain?" tanyanya membuat Nina memutar bola matanya.


"Boleh," balas Fadya tersenyum.


"Baiklah, sebentar lagi masa jabatan kami kelas XII akan habis, jadi kita bakal nyari pengganti berikutnya dari kelas X." ucap Eman yang duduk di kursi ujung.


"Kita ambil perkelas seorang, atau dipilih acak, atau membiarkan mereka mencalon?" tanya Eman memulai rapat mereka.


Setelah selesai rapat, satu persatu mereka keluar dari ruang OSIS dan langsung pulang, pasalnya ini memang sudah jam pulang, bahkan sekitar dari dua puluh menit yang lalu.


"Nina, jangan pulang dulu, gue ada perlu." Eman menarik tangan Nina yang ada diambang pintu.


"Apaan Man, gue nebeng sama Isma ni." Nina menatap Eman kemudian beralih pada Isma yang sudah semakin jauh.


"Pulang bareng gue aja." ucap Eman membuat Nina pasrah.


"Isma! Gue gak jadi nebeng yaa!" teriak Nina dengan suara yang keras, Isma membalasnya dengan mengangkat jempol.


"Yang kalian maksud harusnya keluar dari sekolah itu siapa?" tanya Eman melepaskan tangan Nina.


"Hah? Yang mana?" tanya Nina bingung.


"Yang jadi pacar Byan? Tuh cowok bisa suka perempuan?" lanjut Eman menatap Nina meminta jawaban.


"Anak kelas X IPA², namanya Tanaya."


Degh!


Rasanya jantung Eman tersayat pisau tajam, ia mematung mendengar nama Tanaya yang katanya telah menjadi pacar Byan.


"Lo tau gak, tuh cewek dapat nama Byan waktu MOS kemarin, bahkan katanya dia sempat dipermalukan dikantin, semalam juga tuh cewek bermasalah sama Byan gara-gara dia nolongin Reni, dia ninju Byan semalam Man, bayangin, gimana caranya dalam semalam bisa jadian?!" cerita Nina kian memanjang.


"Yaudah, kita pulang yuk." balas Eman berjalan duluan.


"Ni anak kenapa sih, minta gue tonjok kali yaa." omel Nina menutup pintu ruangan kemudian menyusul Eman yang sudah sampai diparkiran.