
" Kenapa dia gak kita buat aja kayak Tanaya, gue mau tau dia mau bilang apa kalo tau dia sendiri juga udah kotor." usul Afdi dan diangguki oleh Zean tanda pemuda itu setuju.
Byan hanya tersenyum tipis "Seru kayaknya." balas Byan singkat.
"Nanti aja pas dia udah sadar, gue bakal buat adegan kayak yang lo buat waktu itu sama Tanaya, trus direkam, abis itu dia dibius dan hap! Masuk perangkap." Zean tersenyum senang.
"Kenapa gak gue aja. Gue lebih pintar akting." Afdi melotot tak terima, ia juga mau menindih perempuan walau hanya sebatas itu.
"Gue yang ngasih saran, Di!" balas Zean sengit, enak saja ia yang berfikir keras tapi orang lain yang mendapat.
"Kak Byan!"
keempatnya mendongak, terlihat wajah Tanaya yang memasang wajah meminta penjelasan.
"Aku tau ini ulah kalian, jangan macam-macam ya sama Amanda!" Tanaya mengacungkan jari telunjuknya.
"Ini urusan aku dan dia, kalian gak perlu ikut campur!" timpalnya menatap mereka satu persatu.
"Dia ngurusin anak gue, itu artinya dia ngurusin hidup gue dong." Byan tampak menantang.
"Tapi ini lebih ke aib kak Byan." tekan Tanaya berbisik pelan, teman-teman Byan tampak sedikit tertawa melihat Tanaya yang mau marah tapi tak bisa berteriak.
"Bukan tentang anaknya." Tanaya menggeram saat Byan pura-pura menguap.
"Culik aja dia juga Yan." ujar Zean menunjuk Tanaya dengan dagunya.
"Kalian nyulik dia' kan?! Udah gue duga. Kalian bawa kemana, hah?! Jangan lakuin ke dia apapun yang udah kak Byan lakuin ke aku!" Tanaya mendekatkan wajahnya pada Byan yang pura-pura takut, sesaat kemudian Byan terkekeh.
"Bawa aku ketempat Amanda." Tanaya beralih pada Zean, malas rasanya berbicara pada Byan yang tak mau serius.
"Kesini mau?" tanya Zean menunjuk juniornya, Tanaya melotot membuat Zean tertawa kencang.
"Jangan berani lo sentuh dia!" Tanaya menarik telinga Zean membuat pemuda itu meringis namun masih tetap tertawa.
"Tanaya ...," Byan menatap dingin pada Tanaya, entah kenapa ia merasa tak suka saat Tanaya berujar tak sopan ketika berbicara.
"Ini bukan saatnya kak Byan, masalah Amanda lebih serius. Aku mau ketemu Amanda." Tanaya melepaskan tangannya dari telinga Zean.
"Dia harus dikasih pelajaran, menurut Zean dia juga harus sama kayak kamu ...," gantung Byan tersenyum miring.
"R u s a k." lanjut Byan tersenyum jahat.
Tanaya mundur beberapa langkah, hatinya sungguh perih mendengar nasib Amanda, terlebih kata-kata itu juga menyinggungnya, rasanya sangat perih, ia terkesan menjadi wanita murahan.
Tanaya memilih meninggalkan empat pemuda tak berperasaan itu, ia mengusap cepat air matanya yang lolos begitu saja dan hampir membanjiri pipinya.
Ia tadi pagi masuk kelas, ia telat dan hampir saja terkena hukuman, untungnya guru seni itu sedang digantikan oleh guru lain hingga ia diperbolehkan masuk.
Namun saat jam istirahat, ia diberitahu oleh teman sekelasnya bahwa Amanda tadi pagi dibawa paksa oleh teman-teman Byan, makanya ia langsung mencari Byan yang ternyata sedang berada di kantin.
*
*
*
*
Amanda memberontak saat Zean menariknya ke atas ranjang, ia tak bisa berteriak pasalnya bibirnya diberi lakban, Zean sudah meletakkan kamera tentunya, ia kini sudah siap dengan aksinya.
"Kamu mau tau apa yang dirasakan Tanaya saat ini?" tanya Zean berhasil mendorong Amanda hingga terbaring dan ia kini berhasil menindihnya.
"Dia juga dibuat seperti ini oleh Byan, perempuan itu menyetujui persyaratan dari Byan saat hendak mencium Byan pada saat MOS, kau tau apa syaratnya?" tanya Zean membuat Amanda tenang, ia tak lagi memberontak.
"Melayani Byan." Zean tersenyum, mata Amanda yang sembab tetap saja terlihat mematikan, mata gadis ini tajam sekali.
"Tapi dia kabur, dia mengkhianati ucapannya dan lari ke pasar malam. Tapi Byan, sudah siap siaga datang lebih awal kerumah Tanaya, kemudian kau tau apa yang terjadi pada Tanaya?" tanya Zean lagi, Amanda ingin rasanya menonjok wajah Zean, cerita ya cerita saja, jangan bertanya pada dirinya yang tak bisa mengeluarkan suara.
"Byan menculik Tanaya dan membawanya kesini, dia juga berada diposisi yang sama denganmu saat ini." terang Zean menahan kedua tangan Amanda dengan satu tangannya.
"Setelah itu, Tanaya diperkosa!"
Amanda terkejut, nafasnya memburu, ternyata ia salah sangka pada sahabatnya itu, ia menyesal atas apa yang ia lakukan pada Tanaya, pasti hati Tanaya teriris mendengar penuturannya kemarin.
"Diperkosa sesuai dengan perjanjiannya." akhir cerita Zean telah selesai, ia meraba sakunya yang terdapat bius.
"Jadi kamu nona cantik ...., akan bernasib sama dengan Tanaya. Tapi tenanggg ..., kamu beruntung diperkosa olehku yang tampan dan juga kaya, aku akan bertanggung jawab jika kau hamil nantinya." ucap Zean kembali membangun pemberontakan.
"Hmppp! Hmppp!"
Zean langsung menutup penciuman Amanda hingga gadis itu kembali pingsan, ia menatap bulu mata Amanda yang lentik, kemudian beralih pada bibir gadis itu yang begitu ****.
"Kayaknya adegan ciumannya perlu deh." senyum Zean mengusap bibir itu.
Ia segera mencium bibir Amanda cukup lama, setelah puas menindih Amanda, ia akhirnya berbaring disamping Amanda, ia ikut tidur, namun tak lupa ia membuka dua kancing atas seragam Amanda, juga memutar rok Amanda hingga yang depan kebelakang dan yang kebelakang menjadi kedepan.
Ia juga membuka bajunya dan bertelanjang dada, ia melirik Amanda yang tak sadarkan diri, seutas senyum terbit dibibirnya, sepertinya ia dan Amanda akan menjadi dekat.
*
*
*
*
⚠️Mungkin abis ini gak up dulu selama beberapa hari dikarenakan author sibuk ngurusin persiapan untuk MPLS, jangan lupa tinggalkan jejak ya sayang:)