
"Dia koma Nay, pukulan Byan terlalu banyak diwajahnya."
Tanaya memejamkan kedua bola matanya, ia sungguh merasa bersalah, ini semua karna dirinya, harusnya ia saat itu tidak ada di kantin.
"Lo serius besok gak sekolah?" tanya Amanda meletakkan ponselnya dimeja.
"Aku mau pindah sekolah Man,"
"Apa!" Amanda berjongkok dihadapan Tanaya yang tampak frustasi.
"Eman bukan siapa-siapa lo Nay, kok lo depresi gitu?" bingung Amanda harus berucap apa.
"Nama aku udah jelek Man, aku gak mau berhadapan sama guru siapapun, tolong urus surat pindah aku dan jangan kasih tau Kak Byan."
Amanda menggeleng, ini tidak benar, ia tak mau kehilangan sahabatnya meski sebatas pindah sekolah.
"Gak Nay, plis, jangan keputusan yang itu," pinta Amanda menegang bahu Tanaya.
"Aku gak mau ketemu Kak Byan, dia kasar. Gimana kalo aku gak sengaja melakukan kesalahan besar, mungkin nasib aku gak ada bedanya sama Kak Eman."
Amanda bangkit, ia tidak akan membiarkan ketakutan Tanaya membuatnya harus kehilangan segalanya.
"Nay, ini baru enam bulan, kita baru aja masuk semester dua, lo serius mau pindah. Lagian Kak Byan hajar Kak Eman karena berani nyium kamu didepan umum, didepan dia lagi." Amanda mencoba membujuk Tanaya.
"Gak Man, pesan ibu aku, jangan pernah mau sama laki-laki kasar yang tidak bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin." Tanaya mengingat jelas setiap pesan-pesan yang ditinggalkan ibunya.
"Nay, coba lo yang di posisi Byan, rela gak lo?"
Tanaya menatap Amanda kosong "aku pergi Man, lebih baik aku pergi," jawab Tanaya semakin membuat Amanda pusing.
Drtt! Drtt!
Tanaya menatap ponsel Amanda yang bergetar "siapa?" tanyanya.
Amanda tak menjawab, ia mengangkat panggilan itu "Halo," ucapnya menatap Tanaya yang juga menatapnya.
"Gue tau Tanaya lagi sama elo, kasi tau gue sebelum Zean kena imbasnya." ancam Byan dengan emosi, ia masih kesal dan marah dengan apa yang dilakukan Eman, ditambah Tanaya meminta putus darinya dan kabur entah kemana, ia tadi tak sempat mengejar kala dihadang oleh teman-teman Eman.
"Ouh, jadi lo main ancam-ancaman?" tanya Amanda mendatarkan wajahnya.
"Gue kerumah elo,"
"Eh Byan! Gue gak dirumah!" pekik Amanda berteriak, jangan sampai Byan kerumahnya, bisa-bisa ia ketawan tak ikut bimbel hari ini.
"Amanda!" Tanaya melotot tajam kala Amanda memberi tahu keberadaannya pada Byan, padahal tadi ia sudah bilang jangan beritahu Byan.
"Gue bolos bimbel Nay, gue gak mau Byan ngomong yang aneh-aneh sama orangtua gue." Amanda mematikan sambungan telepon dan memberi penjelasan.
"Pokoknya lo harus disini, jangan kabur!" Amanda berlari keluar dan menutup pintu, melihat itu, Tanaya bangkit dan ingin menyusul Amanda, tapi apa yang ia dapati, ia dikunci oleh sahabatnya.
"Harusnya aku kabur sendiri."
Tak berselang lama, Byan tampak membuka pintu kasar, namun Tanaya tak mengalihkan pandangannya dari buku novel yang ia baca.
"Naya." panggil Byan dengan nafas terengah-engah, Tanaya tak menjawab ia tetap fokus pada bacaannya.
"Jangan buat aku ambil keputusan buat potong kaki kamu."
Tanaya melirik Byan "pergi dari sini Kak Byan," usirnya dingin.
"Apa aku salah terlalu baik padamu, apa selama empat bulan ini aku terlalu memanjakanmu?" tanya Byan sembari berjalan perlahan kearah Tanaya.
Amanda tampak menghela nafas pelan, ia segera keluar ruangan, ia merasa percakapan mereka itu privat, jadi ia akan mengawasi didepan pintu jaga-jaga hal diluar dugaan terjadi.
"Apa Kakak sadar telah membuat nyawa seseorang ada diambang Kematian?" Tanaya menutup novel yang baru ia baca.
"Apa urusanmu jika dia mati?" tanya Byan menajamkan tatapannya.
"Jawab tanpa membuat aku marah, aku tengah mengontrol emosiku Tanaya, jangan membuatnya meledak." Byan tak lagi melanjutkan langkahnya, ia berhenti ditempat yang berjarak tiga langkah dari tempat Tanaya duduk.
Tanaya mengedipkan mata bingung, ia yakin Byan tidak main-main "urusanku adalah aku akan kehilangan Kakak karena masuk penjara." jawab Tanaya cukup masuk akal.
Sebenarnya bukan itu alasan intinya, tapi alasan ini juga masuk akal, jika orangtua Eman membuat laporan, apalagi jika Eman sampai meninggal, tak mungkin orangtua Eman melepas Byan begitu saja, pasti mereka akan menjebloskan Byan kepenjara.
"Lalu kenapa tadi minta putus?" tanya Byan yang berhasil meredam emosinya.
"Aku benci Kak Byan, bisa tidak membalasnya dengan lembut!" ungkap Tanaya menatap Byan kesal.
Byan mendekati Tanaya, perempuan itu tampak panik ketika Byan berada didekatnya.
"Seperti ini?" tanya Byan menirukan gerakan manja dan memukul wajah Tanaya dengan begitu pelan ala-ala perempuan lemah gemulai.
"Kak Byan! Itu bencong!"