The Girl Is Mine

The Girl Is Mine
Gue bisa diam sendiri



"Cukup ya Byan, kamu keterlaluan!" Eman menggebrak meja kuat.


Byan yang asyik bermain game mendongakkan kepalanya, sedetik kemudian ia tertawa kecil, ia memberikan ponselnya pada Zean untuk melanjutkan permainannya.


"Udah dulu ya sayang, nanti aku telpon lagi." Zean menutup panggilan dari sang pacar dan menerima ponsel Byan serta melanjutkannya bermain.


"Wah wah wah, udah cukup lama tidak berkomentar kawan," Byan bertepuk tangan sembari bangkit dari duduknya.


"Mereka itu masih anak baru, gak sepantasnya lo permaluin mereka, apalagi menjadikan Tanaya target selanjutnya!" Bentak Eman dengan mata menyala-nyala bak api yang akan merenggut semua yang ada dihadapannya.


"Jadi perempuan itu alasannya?" tanya Byan tersenyum miring.


"Apa gue udah terlalu baik sama keluarga lo?" tanya Byan membuat Eman terdiam sebentar.


"Lo gak bisa masalah kita berdua jangan dibawa ke orangtua?" tanya Eman seakan pasrah dengan Byan.


"Lo yakin gak bakal ngelakuin yang lebih parah dari gue kalau bokap lo ada diatas bokap gue?" tanya Byan menatap Eman remeh.


"Byan, saya minta tolong untuk tidak menganggu Tanaya, hanya gadis itu yang saya minta Byan, saya menyukainya." lirih Eman pelan.


"Saya harus apa Byan, bertekuk lutut dikakimu?" tanya Eman tampak serius.


"Dia fikir dia bisa merasakan bahagia?, oh tidak bisa. Gue bakal buat Tanaya seolah mencintai gue bukan dia!" batin Byan menatap Eman dengan penuh kebencian.


"Setelah menjatuhkan harga diri mama gue, lo sekarang bersikap seolah baik?" Byan kembali berujar dalam hati..


"Kalo bokap lo bisa bertekuk lutut dikaki gue, baru bisa." byan mengangkat kepalanya angkuh.


Eman tampak menatap tak percaya, merasa usahanya sia-sia, Eman pergi tanpa meninggalkan sepatah kata.


Dulu semasa ayah Byan terpuruk, bantuan hanya didapat dari orangtua Eman, saat itu perusahaan lain jatuh merata termasuk perusahaan ayah Byan.


Hanya perusahaan milik orangtua Eman yang ada dipuncak kesuksesan, untuk itu semua perusahaan meminta bantuan padanya, namun ayah Eman selalu meminta imbalan yang membuat orang harus takluk kepadanya, untuk keluarga Byan, orangtua Eman meminta imbalan agar ibu Byan bekerja sebagai pembantu dirumahnya sampai keluarga Byan bisa melunasi hutang.


Bahkan hutang itu harus dibayar dua kali lipat dari pinjaman. Galang selaku ayah Byan tentu tidak terima dan memilih untuk jatuh miskin, namun Sarah, istrinya diam-diam setuju dan langsung pergi kerumah Aswandi (orangtua Eman)


Surat perjanjian juga sudah ditandatangani Sarah membuat Galang mau tidak mau harus menerima uang itu dan segera mencari uang untuk melunasi dan membawa istrinya pulang kerumah.


Perlakuan buruk selalu diterima Sarah, bahkan dari Eman sendiri, kini masa-masa itu sudah berlalu namun memori itu sangat tersimpan diotak Byan, ia sangat dendam dengan keluarga Eman.


"Besok gue harus buat dia jadi pacar gue." Byan kembali duduk dengan wajah merah.


"Tanaya? Lo serius?" tanya Afdi membola.


"Kenapa? mak lo gak terima Byan punya pacar?" tanya Zean berujar malas.


"Apaan sih, mak lo tuh!" balas Afdi mengerucutkan bibirnya.


*


*


*


*


Byan tampak menunggu seseorang diparkiran, ia menatap orang yang berlalu lalang dihadapannya, seutas senyum terbit dibibirnya ketika melihat Tanaya dari kejauhan.


Tanaya yang melihat Byan menatapnya langsung mengalihkan pandangan, tak mau berurusan dengan pemuda kejam itu.


"Ikut gue." ucap Byan yang diacuhkan oleh Tanaya, gadis itu terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun.


"Sialan!" Byan mengejar Tanaya dan menarik lengah Tanaya kuat, menyeret gadis itu untuk masuk ke mobilnya.


"Lo bisa diam sendiri atau gue yang diamin?" tanya Byan setelah berhasil mendorong Tanaya masuk kedalam mobilnya.


"Gue mau dibawa kemana? Lo gak bakal macam-macam' kan? Lo tau sendiri gue lagi hamil." Tanaya bertanya balik.


"Lo bisa diam sendiri atau gue yang diemin?" tanya Byan mengulangi pertanyaannya.


"Gue bisa diam sendiri." jawab Tanaya melipat tangannya, kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa, itulah yang ia rasakan.


Byan segera mengitari mobilnya dan duduk di kursi kemudi, meninggalkan area sekolah yang memang sudah sepi.


Tanaya melipat tangannya angkuh, ia terus memasang wajah jutek meski Byan tak sedikit pun menoleh padanya.