The Girl Is Mine

The Girl Is Mine
Dasar monyet



"Lo kenapa?"


Zean menatap datar pada Byan yang baru saja datang ke kelas mereka dengan tangan memegangi pipi.


"Liat!" Byan menunjukkan pipi kanannya yang sedikit membiru.


"Lo adu jotos sama siapa? Gara-gara apa? Udah ketemu dong orang yang lo cari-cari selama ini ..., orang yang berhasil buat lo sedikit babak belur." cerocos Afdi berdiri heboh.


"Ini semua gara-gara Dean," tutur Byan duduk di kursinya.


"Bocah bau kencur itu?? Wah parah sih ...., kok lo jadi loyo gitu, anak kayak gitu berhasil buat lo tumbang." kompor Afdi masih dengan posisi berdiri.


"Bukan anjing! Lo bisa diam gak?!"


"Terus siapa? Lo bilang tadi gara-gara Dean!" Afdi tak mau kalah.


"Ini gara-gara gue terus bahas-bahas Dean didepan Tanaya, jadinya gue dibogem gitu aja sama tuh anak." terang Byan sedikit meringis.


"Bfttt." Zean tercekat.


"Diem lo!" bentak Byan sebelum Zean tertawa lepas.


"Sampe kejengkang dia." Revan tampak muncul dari balik pintu dengan tumpukan buku ditangannya.


"Hah?" Zean tak mengerti.


"Tadi gue lewat pas dia sama Tanaya lagi berduaan, trus tiba-tiba Tanaya berubah jadi lakik dan langsung ngebuat Byan terjengkang kebelakang."


"Okay, okay. Masih gue tahan." Zean tampak mengatur nafasnya.


"Lo terjengkang kayak gini? Apa kayak gini?" Afdi tampak tengkurap di lantai, kemudian telentang menirukan bagaimana Byan terjatuh tadi.


Zean tak kuasa lagi menahan tumpukan tawa dibibirnya, ia langsung tertawa terbahak-bahak ketika melihat Afdi yang tengkurap dengan posisi buntut lebih tinggi dari seluruh badannya.


Revan hanya terkekeh mendengar umpatan Byan.


"Makanya jangan cari masalah, gue tau lo kuat ..., Tapi kalo kelewatan, orang lain juga bertindak diluar batas."


"Berisik lo." kesal Byan mengucek telinganya kasar.


"Oke! perhatikan semua, ini ada tugas catatan dari Bu Lis, beliau gak bisa datang karena ada urusan di Singapura alias jalan-jalan dengan keluarganya." Revan bangkit dari duduknya serta membawa buku yang tadi ia bawa dari perpustakaan.


"Katanya sih urusan pekerjaan, tapi gak sengaja liat mereka pake baju keren, anaknya ikut, suaminya juga ikut, pake kacamata lagi, kayak jamet."


seisi kelas langsung tertawa mendengar penuturan Revan yang lagi dalam mode hangat. setelah menyampaikan apa yang disampaikan Bu Lis padanya, ia dan teman-temannya langsung menuju kantin.


seluruh kelas menggelengkan kepalanya, tidak heran lagi jika empat manusia tampan itu akan membolos di jam seperti ini.


________________________________


"Waktu kalian di SMA ini jelas tidak akan lama lagi. Ibu sangat menyayangkan bagi kalian yang masih bermain-main soal belajar, termasuk sikap dan perilaku kalian yang tidak beretika."


Siswa-siswi mendengarkan penuturan guru yang berdiri di mimbar. Ini sudah jam pulang, namun terlebih dahulu mereka dibariskan, itu disebabkan adanya pengunguman nantinya.


"Tapi terserah kalian, jika mau mendapatkan yang terbaik maka lakukan yang terbaik. Kembali pada informasi."


"Minggu depan kelas tiga sudah memasuki jenjang ujian akhir semester, itu sudah diumumkan dari bulan lalu. Berarti minggu depan kalian sudah siap bukan?"


"Iyaa Buu." jawab seluruh kelas tiga serempak, namun anak-anak nakal dari kelas sepuluh dan sebelas juga ikut menyahut.


"Jadi untuk kelas sepuluh dan sebelas, minggu depan kalian diliburkan. Mungkin akan lebih dari tiga hari, karena ada beberapa hal yang dikhususkan untuk kelas dua belas."


"Wuuuuuhhhuuuuuuu!" kelas sepuluh dan sebelas berteriak riuh, memenuhi lapangan membuat beberapa orang yang tidak ikut berteriak menutup telinganya.


"Dasar monyet." ucap Bu Mira dengan mikrofonnya.