
"Kenapa diam? Kamu tidak dengar permintaan mamah?!" Farel menaikkan oktaf suaranya.
Sarah terlihat sangat lemah dan pucat, menatap Byan yang masih terdiam, berganti pada Farel yang menatap Byan tajam.
"Kenapa tidak Farel Mah?" tanya Byan dengan suara pelan, kepalanya juga masih dengan keadaan posisi yang sama.
"Farel tidak cocok dengan perempuan itu, umurnya ketuaan." terang Sarah tersenyum tipis.
”Farel tampan Mah, tak masalah dengan umur. Byan udah punya Tanaya ...,"
"Jangan sebut nama gadis itu." meski lemah, Sarah tampak bersuara dengan tegas.
"Kak Byan, aku juga sama muaknya dengan mama tentang pacarmu itu." Feby muncul dari balik pintu.
"Lo gak sekolah?" Byan melotot tajam pada Feby.
"Kak sendiri apa kabar?" sindir Feby mendekati Sarah dan duduk dipinggir ranjang ibunya.
"Kenapa harus aku Mah, aku tidak ingin berkorban. Ditambah aku juga udah berpunya Mah." Byan kembali pada inti permasalahan.
"Byan ingin kamu dengan perempuan itu, dia cerdas, profesional dan sangat elegan. Perempuan dengan kasta yang tinggi, itu yang mau mamah pasangkan denganmu, bukan perempuan abal-abal." terang Sarah panjang lebar.
"Bagaimana dengan Tanaya?" tanya Byan mulai membendung air matanya.
"Apalagi selain meninggalkannya."
Byan mengeraskan rahangnya, ia enggan menatap Farel yang berucap dengan ringan, kapan ia punya kesempatan membakar bibir kakaknya itu, maka akan ia bakar.
"Kamu lebih memilih perempuan itu dibanding umur mama yang hanya sebentar lagi?" tanya Sarah membuat Byan tertekan batin, baru kali ini ia dihadapkan pilihan yang membuat ia benar-benar tersiksa batin, bahkan hampir mengenai mental.
"Baiklah, Byan akan melakukan penderitaan ini demi kebahagiaan kalian semua!" Byan akhirnya meneteskan air matanya.
Ia bangkit dengan wajah yang sangat merah "Sekarang kalian puas?! Jangan! ..., jangan senang dulu ..., aku pastikan kalian juga akan kehilangan orang yang kalian cintai nantinya, tunggu! Tunggu pembalasanku!"
Byan berjalan keluar kamar, berhenti sebentar dan meninju dinding kamar orangtuanya dengan sangat kencang.
*
*
*
*
*
Seperti biasa, Byan menjemput Tanaya untuk berangkat ke sekolah, namun ia enggan turun dari mobil dan lebih memilih menunggunya didalam mobil.
"Kakak gak bukain, gak asik." omel Tanaya ketika sudah masuk ke mobil Byan.
"Hm," Byan hanya berdehem, ia juga enggan menatap Tanaya, menghindari tatapannya bertemu Tanaya, takut Tanaya tahu bahwa kini matanya sedikit bengkak akibat menangis tadi malam.
"Kakak kenapa semalam gak sekolah?" tanya Tanaya menatap Byan.
"Semalam gak belajar Nay, udah jangan liat, aku lagi sakit mata, takutnya kamu ketular."
"Tapi seenggaknya izin Kak, aku nyariin tau." celoteh Tanaya bersandar dikursinya.
"Nay,"
"Iya?" Tanaya kembali menatap Byan.
"Mulai sekarang kamu aku lepasin ..., sekarang kamu bebas bergaul, bebas kemana-mana, bebas semua."
Tanaya melongo, ia menatap bingung dengan penuturan Byan barusan.
"Termasuk CLBK sama Dean."
Tanaya membulatkan matanya "Maksud Kakak?" tanya Tanaya mengarah sepenuhnya pada Byan.
"Kamu lebih memilih sendiri ...,"
Byan menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan "atau ikut kakak, tapi jadi yang kedua namun tetap diurutan pertama?" tanya Byan menghentikan mobilnya diparkiran sekolah.
"Kakak minta putus?" tanya Tanaya menatap Byan tanpa berkedip.
"Ini permintaan orangtua Nay, tapi kalo kamu siap jadi yang kedua, gak papa. Tapi takutnya kamu tersakiti, jadi mungkin sebaiknya kita akhiri aja hubungan ini." Byan masih kuat dengan air matanya.
"Aku gak tau tepatnya kayak gimana, tapi oke." Tanaya menghirup udara dalam-dalam, mengusap matanya sebelum air matanya tumpah dipipinya.
"Cuma perasaan aku udah dalam Kak, tau akhirnya gini aku gak mau mengenal Kakak, aku gak sudi dipertemukan dengan manusia pengkhianat seperti Kakak! Kakak udah melukai aku Kak, luka kecil yang semula sembuh, kini robek dan menjalar kemana-mana!"
"Ups, maksudnya ..., elo sukses besar ngelukain hati gue."
Tanaya keluar dan membanting pintu mobil Byan sekuat tenaganya, Byan sempat terkejut dengan suara bantingan itu, namun sedetik kemudian ia memukul-mukul setir mobilnya serta meremat rambutnya frustasi.
*
*
*
*
"Kakak udah siap?" tanya Feby menyembulkan kepalanya kedalam kamar Byan.
"Seperti yang matamu lihat!" ketus Byan memasang wajah datar.
Feby terkekeh, ia meninggalkan kakaknya dengan tersenyum-senyum sendiri "ntar juga lo bahagia." ujarnya berjalan dengan sesekali melompat ceria.
"Mama yakin bisa berdiri?" tanya Byan menatap Sarah yang dipapah Farel dari ambang pintu.
"Demi kamu, akan mama usahakan."
Byan berdecih pelan, ia membuang mukanya dan langsung pergi duluan "demi aku? Yang ada ini adalah demi mama." batin Byan.
Ia teringat akan ucapan Tanaya, hal itu mampu membuat hatinya seolah-olah tersayat ribuan pisau, sangat pedih dan menusuk.
"Maafin aku Nay, kita akan bersama dikehidupan selanjutnya. Dikehidupan nanti, kamu akan sepenuhnya milik aku, dunia akan sepenuhnya kita kuasai, dan semua temanya tentang cinta dan anak-anak kita nanti." batin Byan panjang lebar, ia akhirnya sampai diteras rumah, terlihat Galang yang berdiri disamping mobil yang sudah dihidupkan.
"Biar papah yang mengemudikan, hari spesial untuk orang spesial." ucap Galang tersenyum lebar, namun Byan hanya diam bahkan mengalihkan pandangannya.
Galang kembali tersenyum melihat respon Byan "Ngeri juga kalo beneran." gumam Galang menggeleng pelan.
*
*
*
*
*****Gara-gara Sekamar***
Lo mau kemana?!" dengan nada tinggi, Rafa membulatkan matanya dengan sempurna, ia bangkit dengan rahang mengeras.
Melihat hal itu, Gisel mundur satu langkah, ia sungguh takut melihat Rafa sepertinya marah dengannya.
"Diajak mama shopping." jawab Gisel menatap Rafa yang mulai berjalan mendekat.
Gisel melega ketika Rafa berbelok kearah pintu, setidaknya ia diberikan kelonggaran bernafas beberapa saat.
"Mami, apa baju itu pemberianmu?" Rafa menghampiri Anita yang tengah asyik dengan gawainya.
Anita tersenyum tertahan, sepertinya rencananya berjalan mulus, ia berbalik dan menatap putranya dengan sayang.
"Iya sayang, manis' kan?" ucap Anita pura-pura tidak mengerti dengan kemarahan Rafa.
"Bajunya kurang layak Mi, menunduk sedikit maka laki-laki diluar sana akan melihatnya sebagai ******. Itu akan membuat resiko kejahatan terjadi." terang Rafa panjang lebar.
Anita semakin tersenyum, ini yang ia mau lihat, Rafa ternyata masih menghargai dan perduli dengan Gisel, itu artinya ia tidak mau melihat istrinya dilihat **** dimata laki-laki lain, berarti masih ada keinginan memiliki Gisel seorang.
Gisel tampak keluar dengan tas mini yang tergantung dibahunya.
"Kita berang---"
Rafa mendorong Gisel dengan satu tangan hingga membuat Gisel kembali masuk ke kamar, Rafa menarik pintu itu hingga tertutup dan mengurung Gisel didalamnya.
"Tidak ada shopping Mi, kalian harus istirahat." tegas Rafa dengan sorot mata tajam.
"Jangan memerintah Mami, buka pintunya dan biarkan Gisel keluar!" Anita tak kalah tegas.
"Mami!" Rafa memiringkan kepalanya, meminta pengertian dari sang ibu.
"Gisel, buka saja pintunya." teriak Anita seakan tak perduli pada Rafa yang semakin gusar.
Dari awal nyatanya memang ini rencana Anita, tapi soal shopping, hal itu adalah sesuatu yang nyata yang harus ia lakukan sekarang, tangannya gatal memegang barang baru dari toko.
Gisel membuka pintu, ia menatap Anita yang memberi kode mata untuk segera pergi, ia menyusul Anita dari belakang, menatap Rafa yang menggertakkan giginya.
"Rey ikut Mi!"