The Girl Is Mine

The Girl Is Mine
Bertukar Nasib



"Dapat punya siapa?" tanya Nazura menghampiri adiknya yang adalah salah satu siswi PLTS. [Nazura adalah salah satu OSIS+kakak dari Nirana.]


"Ni, namanya Byan Albyansah, kakak kenal' kan?" tanya Nirana menguyah permen karet dengan santai.


"Oh my God! Kok bisa lo dapat nama ini?!" bisik Nazura panik.


"Ih, kenapa sih? jelek yaa?" tanya Nirana ikut panik.


"Lo tau, Byan Albyansah ini adalah cowo yang kejam, tampan sih tapi dia jahat, kalo elo sampe nyium pipi dia, jangankan nyium, lo ngomong aja mungkin lo langsung out dari sekolah ini dan trauma berat, apalagi lo cara ngomongnya sembarangan, bisa-bisa lo ditelanjangi ditengah umum sampai malu sejadi-jadinya!" Nazura menggigit bibir bawahnya khawatir.


"Udah banyak korbannya." lanjut Nazura pelan.


"Trus gimana ini, gue masih mau sekolah?!" tanya Nirana ikut panik, apalagi ceritanya disini ia adalah calon korban.


Nazura menatap Tanaya yang berdiri disamping Nirana, ia memiliki rencana licik demi menyelamatkan adiknya. Apalagi wajah polos Tanaya membuat rencana buruk tersusun cepat dikepalanya.


"Hai, kamu dapat nama siapa dek?" tanya Nazura menghampiri Tanaya dan tersenyum manis pada Tanaya.


"Eman Afriadi kak." jawab Tanaya sopan.


"Wahh, Eman itu ketua OSIS loh, bahaya nanti kalo kamu berurusan sama dia, nih tukar sama punya adik kakak aja, orangnya baik, dari pada Eman, dia itu orang berpengaruh di sekolah ini, nanti susah kalo kamu punya masalah sama dia." Nazura menyodorkan kertas milik adiknya pada Tanaya.


Tanaya menatap Eman yang kebetulan juga sedang menatapnya dan beberapa detik terjadi kontak mata diantara mereka, Tanaya mengambil kertas dari tangan Nazura dan memberikan kertas miliknya yang dirampas secara kasar oleh Nirana.


"Ketua OSIS itu gak sengaja' kan ngasih nama dia sendiri ke gue? Atau jangan-jangan dia memang sengaja biar gue bermasalah di sekolah ini? Dasar pemuda jahat!" batin Tanaya menatap sinis pada Eman yang tak lagi menatapnya.


"Makasih ya kak." ujar Tanaya yang dibalas anggukan oleh Nazura.


"Boleh bubar, dan kembali berkumpul pukul sepuluh tepat ditempat ini lagi, okay?" tanya Eman melanjutkan.


Siswa-siswi PLTS segera bubar dan mulai menelusuri sekolah baru mereka yang luas, Tanaya yang tak mengenal siapapun memilih duduk di koridor dekat lapangan, mengeluarkan buku novel kesukaannya dan membacanya.


"Kira-kira siapa aja yaa yang mendapat nama-nama Byan dan teman-temannya, apalagi Byan sendiri, siapa yaa?!" histeris Nina berkhayal sembari tersenyum-senyum sendiri.


Nazura yang mendengarnya hanya tersenyum kecil, ia menatap Eman yang membereskan kotak yang telah kosong dan menyimpannya, ia kembali tersenyum mengingat adiknya yang selamat dan kini menjadi orang beruntung karena dapat merasakan pipi Eman yang sempat ia taksir.


"Tapi sumpah yaa, gue liat adek kelasnya ganteng-ganteng bangettt, putih lagi, mulus pulak!" Isma meremas pundak Nina yang tenggelam dalam lamunannya.


"Heh, kalian itu dah pada mau lulus yaa, plis deh gak usah kegatelan, dah tua juga, gak usah kecentilan, ingat ujian!" sindir Fadya pada kakak kelasnya yang benar-benar terobsesi pada setiap pemuda tampan.


"Jangan marah-marah sayang, nanti aku cium, ih." Alan yang juga anggota OSIS sekaligus pacar dari Fadya mencubit gemas pipi kekasihnya itu.


"Bucin liat tempat lah, dasar bocil." ejek Ridwan merangkul Nina yang langsung ditepis kasar.


"belom halal woy." tutur Nina mendorong Ridwan dengan jari telunjuknya.


"Ini ada makanan dari Bu Pur, ayo kita makan." ajak Eman membawa dua kresek berisi makanan dan juga minuman untuk para OSIS lainnya.


"Wuihh, ada silver queen gak?" tanya Nina merampas kresek itu dan membukanya.


"Gila lo, lo fikir Bu Pur ayang lo, Sono cari pacar di Facebook dulu baru minta silver queen." sambar Ridwan menggeplak kepala Alan yang tengah asyik merayu Fadya.


"Memang anjing lo ya!"