The Girl Is Mine

The Girl Is Mine
Gak sengaja



"Jadi kemana? New York? Paris? Korea? Atau Thailand?" Zean tampak berfikir.


"Thailand aja, biar ketemu Bright." seru Afdi dengan mata berbinar.


"Bright siapa?" tanya Tanaya bingung.


"Itu yang main F4, Thailand, iya bukan sih?" tanya Amanda yang jadi ragu dengan jawabannya.


"Iya, nama aslinya Vachirawit Chivaare, dia keturunan Thailand, Cina, dan Amerika! Keren kan?" Afdi tampak memejamkan matanya.


"Cewek apa cowok?" tanya Zean yang ikut penasaran.


"Cowok bego! Dia gantengnya melewati kita semua." ketus Afdi menatap tajam pada Zean.


"Kelahiran 1997, gue lupa tempat lahirnya." lanjut Afdi memberi penjelasan.


"Sayangnya dia gay." tutur Amanda dengan lesu, Afdi juga tampak menjadi lesu. Tanaya mendorong kepala Amanda yang hendak bersandar dibahunya.


"Gak usah aneh-aneh Man. Zean! Liat pacar lo nih, gila sama cowok luar." kesal Tanaya sembari menahan kepala Amanda yang hendak bersandar dibahunya.


"Sayang ..., aku juga naksir semua anggota Twice!"


"Dih, malu dikit lo! Batang gede otak kecil." sindir Revan sedikit berbisik.


"Dari mana lo tau batang gue gede?!" Zean tampak menatap curiga.


"Gak usah Travelling, manusia kayak lo mustahil batangnya kecil!" Revan menggeplak kepala Zean.


"Ouh, gue kira pernah lo intip, soalnya kalo gue mandi gak pernah pake apa-apa sih."


"Gue gak nanya bangsat!" Revan menarik kerah baju Zean kesal.


"Sayang, liatt! Aku dalam bahaya ...," rengek Zean manja.


"Ini jajanannya." Byan tampak membawa dua kresek besar.


"Ini buat kamu." Byan mengambil kresek lebih kecil dan menyerahkan untuk Tanaya.


"Makasih."


"Jadi gimana? Kita jalan-jalan kemana?" tanya Byan ikut duduk.


"Lo bawa calon istri lo ' kan?" tanya Zean menatap Revan.


Revan hanya mengangguk"kalo dia mau juga sih." lanjutnya seraya menikmati kacang yang ia makan.


____________________________


Sekolah kembali beraktivitas, setelahibur yang cukup panjang, siswa-siswi kini siap untuk kembali belajar.


Kini adalah semester pertama dikelas yang baru, kelas tiga sudah tamat dan meninggalkan sekolah mereka serta melanjutkan cita-citanya.


Byan sangat senang dengan hal itu, kepergian kelas tiga sama dengan kepergian pengganggu dihubungannya, karena Eman tidak akan lagi bertemu dengan Tanaya hanya hanya miliknya, tercipta hanya untuknya.


Kini hanya tersisa satu menurutnya, sebenarnya banyak yang menjadi rintangan, namun hanya dua yang memungkinkan, Eman sekarang sudah pergi, tersisa Dean, manusia yang menurutnya lebih banyak presentasenya dari Eman.


Lebih memungkinkan merebut Tanaya darinya, padahal yang terjadi sebenarnya adalah Tanaya tidak sedikitpun ada niatan berpaling dari Byan, bahkan mencintai Byan mungkin juga belum sepenuhnya.


"Jorok banget sih alumni kelas ini!" celoteh Ayes menutup hidungnya sembari membersihkan kaca jendela dengan kemoceng.


"Kelas cowok lo itu." timpal Reni menatap Tanaya.


"Emangnya e'ek apaan sih?" tanya Amanda mendekati Gaby.


"E'ek kambing, bisa-bisanya sampe disitu." tutur Gaby kembali merasa jijik.


"Nii, tinggal urusan kalian, pel dah, gue mau makan." pekik Amel mencampakkan sapu yang tadi ia pegang.


"Yok Nay, ikut Amel." Amanda menarik tangan Tanaya tanpa persetujuan.


Sesampainya diambang pintu.


"Awhhhtt!"


Tanaya mundur beberapa langkah, Amanda yang menarik tangannya juga ikut tertarik mundur.


"Mau kemana?"


Byan tampak masih memegang kerah baju Tanaya lekat.


"Mau makan." ketus Tanaya hendak menyingkirkan tangan Byan, tapi tangan kekar Byan sama sekali tidak bergeser.


"Masih ingat perintah aku waktu kamu masih kelas sepuluh?" tanya Byan masih setia menarik kerah baju Tanaya.


"Kak ..., bentar doang." rengek Tanaya mencoba manja.


"Masuk kelas." Byan semakin menarik mundur baju Tanaya.


"Kamu juga sayang." Zean menarik tangan Amanda hingga genggaman tangan Amanda dari Tanaya terlepas.


"Mau makan apa? Biar aku yang pesan." tawar Zean tersenyum manis.


"Ah sialan! Jangan Febry!"


"Febryan Andika! Jangan ih!"


Tanaya sedikit menoleh pada Citra dan Febry, teman sekelasnya yang tampak tengah bertengkar namun masih terlihat bercanda.


"Kak, lapar nih ..., bayinya mau makan." Tanaya melanjutkan rayuannya yang tampaknya tidak ada perkembangan respon dari Byan.


"Maaf Cit, kepeleset." Febryan tampak mundur beberapa langkah. Terlihat Citra yang menutupi buah dadanya, terlintas apa yang terjadi barusan diantara keduanya?


"FEBRYAN!!!"


Bugh!


Brught!


Cup!


Citra berteriak sekuat tenaga, ia mendorong Febryan kasar sehingga Febryan menabrak dinding dan terpental kearah pintu, mendekati Tanaya dan secara tak sengaja mencium pipi Tanaya singkat.


Byan melotot kaget, terlebih Tanaya yang merasa pipinya basah seketika, Febryan tak kalah kaget, selain kaget ia juga kini tengah meremang, ia meringis mendapati tatapan tajam yang dilayangkan Byan untuknya.


"Kak! Perut akuu ....!" Tanaya menarik lengan Byan.


"Kak, mau e'ek, anterin .... anterin!"