The Girl Is Mine

The Girl Is Mine
Dijodohkan



"psttttt! Psttttt!"


Byan menarik nafas dalam-dalam, ia menoleh kearah Tanaya yang tampak memanggilnya dengan kode tangan.


"Lopyou ayank," Tanaya menutup wajahnya malu, Byan hanya memasang wajah datar, ia menoleh pada ketiga sahabatnya yang kini membuka mulutnya lebar-lebar.


Mereka kini tengah berada dirumah Byan dan tengah membahas beberapa hal yang bersangkutan dengan Revan yang dipaksa menikah oleh orangtuanya.


"Harusnya lo tau dulu siapa calonnya, dengan begitu lo bisa ancam supaya dia juga menolak Van." saran Afdi membubarkan suasana yang sempat menjadi canggung.


"Gue tadi marah, jadi mana sempat nanya begituan," jawab Revan tampak gelisah.


"Pstttt! Pssssstttt, ayank ...,"


"Diem dulu Nayy." peringat Byan menekan nama Tanaya, dengan sabar ia mencoba untuk tidak marah pada kekasihnya yang katanya sedang datang tamu bulanan.


"Jahat banget sih, aku cuma mau bilang aku sayang kamu, kok." celoteh Tanaya bersedekap dada seraya menyandarkan tubuhnya disofa.


"Trus gimana? Gue nanti malam disuruh datang ke restoran Viviani untuk makan malam sama keluarga jodoh gue." Revan menatap Byan dengan harap sahabatnya ini bisa pembantunya.


"Gue gak bisa kabur karena itu bakal buat ayah gue ngamuk, gue memang nakal dan keras kepala, tapi soal ayah ...., gue gak mau main-main." lanjut Revan dengan keringat diwajahnya.


"Jalani aja dulu, barangkali lo juga bakal suka."


Revan menatap Tanaya yang asyik memainkan kaki Byan dengan cara menendang kaki Byan secara terus-menerus.


"Siapa tau aja juga dia cantik." lanjut Tanaya menendang kuat kaki Byan, pasalnya geram kala Byan tak juga kunjung marah, ia' kan sedang menanti marahnya Byan.


"Naya! Masuk kamar sana!" titah Byan tersulut emosi, ditambah ia masih terkejut dengan perlakuan Tanaya yang membuat respon kakinya terkejut.


Tanaya berdecak, ia bangkit menuju lantai dua, namun saat ditengah tangga ia kembali berbalik badan menghadap ruang tamu dimana Byan dan juga sahabatnya berkumpul.


"Sok ganteng." ejeknya langsung berlari, Afdi sedikit tertawa melihat kelakuan Tanaya ditambah wajah Byan yang tampak memerah.


"Trus gue gimana?" tanya Revan kembali menyadarkan Byan.


"Anjing! Ceweknya cakep bener!" teriak Zean kencang, bahkan ia kini tengah berdiri diatas sofa dengan terus menahan suaranya yang masih ingin mengeluarkan teriakan kodamnya.


"Liat Van! Jodoh lu ternyata cantik!" lanjutnya kembali duduk dan menunjukkan layar ponsel yang ia pegang pada Revan.


"Eh! Hp gue!"


Tak sempat melihat gambarnya, Revan menyadari bahwa ponsel yang Zean pakai adalah miliknya.


"Gue penasaran Van, jadi gue chat bokap lo pake hp lo, trus dikirim gambar tuh cewek." adu Zean cengengesan, ia kembali menyodorkan ponsel itu dan diterima kasar oleh Zean.


"Eh, Nabila bukan sih?" tebak Afdi membulatkan matanya.


"Eh, bener woyy! Ini Nabila, tetangga lokal kita!" kaki ini Afdi yang memekik hebat.


Revan menerbitkan sebuah senyuman bahagia, Byan yang melihatnya langsung lega "Selamat bro," ucapnya menepuk pundak Revan yang masih tersenyum.


"Nabila Putri." tutur Revan semakin tersenyum.


"Yaudah, pulang sana, gue mau pacaran dulu." Byan segera melenggang pergi, tanpa sepatah kata, ketiganya juga segera pergi dari rumah Byan.


"Psttt! Psttt!"


Tanaya menoleh, terlihat Byan yang menyembulkan kepalanya kedalam kamar.


"Sok imut!" kasar Tanaya membuang wajahnya.


"Psttt! Pstttt!!" Byan kembali memanggil Tanaya, gadis itu kemudian menoleh lagi yang kali ini tanpa disertai bicara.


"Buat anak yuk."