
"Aku sebenarnya gak mau maksa,"
"Tapi kalo kamu terus bertingkah ..., lebih baik langsung aja' kan?"
"Dari pada nantinya kamu yang aku perkosa."
"Kamu juga sekarang makin berani berbuat yang aku gak suka."
"Mungkin dengan menikah, akan membuat aku yakin kalo kamu gak akan pergi."
"Kecuali kamu bukan perempuan baik-baik yang tega bercerai ketika suamimu belum meninggal."
Tanaya terus gelisah mengingat ucapan Byan yang cukup memberi beban diotaknya, seserius itukah Byan terhadapnya?
Dan secemburu itu Byan terhadapnya? jelas ia tak melakukan apa-apa kecuali melihat pemuda tadi dari kejauhan, dan itu sepertinya wajar saja untuk seseorang, anggap saja refreshing mata.
Tanaya menatap jam dinding dikamarnya, sudah pukul 02.04, ia kemudian menutup wajahnya dengan selimut.
"Habis kayak ini, aku harus gimana lagi? Aku gak pernah diposisi ini."
"Waktu pacaran sama Dean, mana pernah marahan kayak ini, cuma sekedar pertengkaran bocil yang marah karena ditinggal satu sama lain."
Tanaya mengucapkannya dengan mata terpejam, dan hal itu membuat ia kini sudah memasuki alam mimpi.
*
*
*
*
Tanaya kini telah siap dengan seragamnya, ia berpamitan pada Ranaya yang masih bergolek-golek dikamarnya.
Klek.
"Dean?" Tanaya menatap Dean heran, gawat jika Byan tau bahwa Dean datang kerumahnya.
"Pagi," sambut Dean dengan senyuman.
"Cabut gak lo! Gue gak mau ya nambah masalah." usir Tanaya mundur beberapa langkah.
"Gue disuruh ..., siapa ya namanya? Ah, Byan Albyansah!" seru Dean kembali menerbitkan senyuman.
"Apa?" Tanaya menggaruk tengkuknya, sebenarnya Byan kenapa.
"Lo udah buka hp?" tanya Dean dengan mimik serius.
Tanaya hanya menggeleng "kata dia liat chat dari dia." ucap Dean dengan gaya cool.
Buru-buru Tanaya merogoh ranselnya, ia mengeluarkan ponsel dan langsung melihat chat dari Byan yang sangat membuat ia penasaran.
[Masih PMS' kan?]
[Noh, aku bawain cogan]
[Harus berangkat sama dia!]
[Itupun kalo kamu mau dia
baik-baik aja, kalo gak mau
yaudah ditolak juga gak pp]
[Selamat bersenang-senang!!]
"Ni apa-apaan dah?" Tanaya memasang wajah murung.
"Katanya lo punya satu kesempatan, kalo mau, ayo. Kalo enggak, yaudah." ujar Dean mengikuti semua ucapan Byan.
"Yaudah deh, tapi gak usah banyak cincong lo! Ojek harus amanah sama penumpang."
"Ojek idung lo!"
Dalam kesempatan ini, Dean mengambil setiap celah yang ada, ia melajukan motornya dengan kecepatan dibawah rata-rata, tentu saja demi bisa bersama Tanaya lebih lama.
"Jangan ngomong, gue lagi mogok bicara." ketus Tanaya ditengah perjalanan, ia melihat dari spion, gerakan bibir Dean tampak ingin memulai pembicaraan, jadi ia larang saja sebelum mantannya itu mengoceh panjang.
Sekitar lima belas menit, mereka sampai disekolah, Tanaya segera turun masih dengan membisu, Dean yang melihatnya hanya mengelus dada.
"Setidaknya gue udah bonceng dia."
Tanaya berjalan menuju kelasnya, ia sedikit menunduk dengan wajah lesu.
"Gimana?"
Tanaya berhenti, ia mengangkat kepalanya serta segera menoleh cepat kesumber suara, terlihat Byan yang bersandar disalah satu pohon yang tak jauh dari Tanaya berdiri.
"Enak?" ulang Byan ketika tak ada respon dari Tanaya.
"Enak. Aku nanti pulang mau bareng Dean lagi. Kalo bisa seterusnya."
Byan melotot, ia segera berdiri tegak, mengejar Tanaya yang kini telah kembali berjalan sedikit lebih cepat.
"Kamu mau ninggalin aku?!"
"Jangan cari masalah deh Kak."
"Aku sama dia masih gantengan aku Tanaya, buka mata kamu."
"Kak Byan!"
"Ouh, masih sayang sama bocah ingusan itu, iya? Wajarlah, masa lalu' kan pemenangnya."
"Kak Byan sialan!"
Bugh!
(Byan terjengkang)