The Girl Is Mine

The Girl Is Mine
Dibayar harga diri?



Tanaya mulai mendekati meja itu dengan percaya diri, Eman yang tak tau jika namanya sudah ditukar merasa sangat senang karna akhirnya saat-saat yang ia tunggu akan segera tiba.


Namun senyum yang dari tadi sudah ia lepaskan memudar dan berganti kebingungan saat melihat Tanaya melewati mejanya dan berhenti di meja lain.


"Kakak yang bernama Byan Albyansah?" tanya Tanaya menghampiri meja pemuda itu.


"Wah, ini dia perempuan beruntung itu." ucap pemuda yang duduk di samping Tanaya, posisi Byan sekarang berada dihadapan pemuda itu.


Seisi kantin mencuri-curi pandang ke arah Tanaya dan para pemuda-pemuda yang berada di dekatnya sekarang.


"Nama kakak Byan Albyansah' kan?" ulang Tanaya kali ini dengan wajah datar.


Pemuda-pemuda yang berada di meja itu bertepuk tangan kecuali pemuda bernama Byan Albyansah itu.


"Lo tau siapa gue?" tanya Byan menatap Tanaya dari atas sampai bawah.


"Maaf kak, disini tugas saya ingin meminta izin mengambil gambar dengan pose mencium pipi kakak, boleh ya kak." Tanaya duduk di samping pemuda yang berhadapan dengan Byan.


Lagi-lagi para pemuda itu bertepuk tangan bahkan salah satu dari mereka sampai bangkit berdiri.


"Gue salah ngomong, kok aneh sih?" batin Tanaya memasang ekspresi berusaha sopan.


"Lo lumayan cantik, berani pula, ditambah hari ini gue lagi bahagia, jadi gue izinin lo sentuh gue." jawab Byan tersenyum smirk.


"Apaan sih, basa basi!" umpat Tanaya membatin.


"Satu foto gue biasanya dibayar dengan harga diri, tapi kalo tambah cium pipi, gue rasa itu sebanding kalo dibayar dengan mahkota lo." tutur Byan yang langsung membuat heboh seisi kantin.


Seisi kantin seketika berbisik-bisik membuat Tanaya benar-benar tidak nyaman saat ini, ditambah teman-teman Byan ikut terkekeh melihat tingkat Byan saat ini.


Eman yang hendak bangkit menolong Tanaya, langsung ditarik Fadya karna kepentingan OSIS membuat ia tak lagi dapat melihat adegan selanjutnya.


"Maksud kakak?" tanya Tanaya bingung.


"Gue gak akan buat lo malu kayak orang lain biasanya, beruntung bukan? gue cuma minta lo layani gue di apart gue nanti malam, bisa?" tanya Byan tersenyum smirk.


Tanaya yang menyadari maksud dari Byan seketika menampar keras wajah Byan dan langsung dibalas histeris seisi kantin dengan heboh.


Tanpa rasa sakit, Byan menarik rambut Tanaya kasar, ia tak menyangka perempuan di hadapannya memiliki keberanian yang sangat tinggi.


"Beraninya kau! Sehebat apa dirimu ini dimatamu, hah?!" bentak Byan menarik rambut Tanaya dengan tangan kanannya kemudian mencekik leher Tanaya dengan tangan kirinya.


"Ahk, lepaskan..., sakit ...," lirih Tanaya meringis, rasanya saat ini kepalanya hampir copot ditambah ia kesusahan untuk bernafas karna cekikan dilehernya tak main-main kuatnya.


Byan menghempaskan tubuh Tanaya hingga hampir jatuh dari kursi itu yang bergeser mundur.


Tanaya yang menanggung rasa sakit dan malu segera berlalu dengan isak tangisnya. Ia memilih masuk ke dalam toilet untuk menenangkan diri.


Tanaya mengusap wajahnya yang basah karena air mata, ia memegang kepalanya yang masih terasa sakit, ia menatap dirinya di cermin dan melihat lehernya yang tampak sangat merah, adegan tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya.


"Ternyata karna dia pemuda begitu ..." lirihnya pelan, ia mengusap air matanya yang masih saja mengalir.


"Beraninya dia menginginkan tubuhku. Apa aku terlihat semurah itu, apa hal seperti itu biasa terjadi di kota ini?" tanyanya dalam hati.


"Gue akan minta ganti nama aja, dari pada harus berurusan dengan pemuda itu." gumamnya merapikan rambutnya yang berantakan.


Ting!


Tanaya membuka tas kecilnya dan membuka aplikasi WhatsApp.


[Sekitar 4% lagi yang belummenuntaskan persyaratan, bagi siapa yang gagal akan dipersulit bahkan diberi hukuman yang berat, kami tidak menerima alasan apapun, persyaratan sudah disepakati dan kami tunggu kesiapan anda.]


"Gue gak mau nambah biaya dan mempersulit kakak gara gara hal ini, gue harus bisa menuntaskan persyaratan ini. Mungkin aja perundungan di sekolah ini juga wajar dan tidak akan menerima laporan jika dirundung seperti tadi."


"Jangan sampai gue gagal. Lebih baik gue meng-iyakan kemauan pemuda tadi, yang terpenting pose itu dapat dan gue akan membatalkan perjanjian itu, gue akan mencari perlindungan nanti." ucapnya mengambil keputusan.