
Byan bersiul ria kala ia dan Tanaya sudah baikan, walau belum jelas ia telah dimaafkan atau belum, ia tak perduli, pacarnya itu tadi bersikap seperti biasanya.
"Kenapa menghajar Eman, Byan?" suara bariton sang ayah mengagetkan Byan yang baru menaiki tangga pertama, ia berbalik menatap ayahnya yang baru keluar dari ruangan pribadinya.
"Apa dia bertindak diluar batas karena sudah melunasi hutang?" tanya Galang merapikan dasinya.
"Atau kau yang cari gara-gara?" tanya Galang menebak.
"Dia mencium pacarku Yah, nyaris berciuman." jawab Byan kembali kesal, pertanyaan ayahnya sungguh merusak moodnya yang sempat baik.
"Orangtuanya hendak menuntutmu Byan, tadi mereka datang kesini."
Byan menghembuskan nafas gusar, jika ini masalahnya pasti akan rumit diselesaikan, tapi baguslah Eman koma, jadi pemuda itu tidak bisa mengutarakan permintaannya yang pasti bersangkut paut dengan Tanaya supaya bisa jadi kekasihnya, atau membuat ia jauh dari Tanaya, intinya semacam itu.
"Ayah tak bisa selesaikan?" tanya Byan mengusap wajahnya kasar.
"Mudah saja Byan, tapi ayah kecewa ..., kau begitu tega menghajarnya habis-habisan hingga anak itu bisa koma." lesu sang ayah berganti menghembuskan nafas kecewa.
Byan terdiam menatap kepergian Galang yang hendak pergi ke kantor, Byan kembali menghela nafas panjang "ini salahnya," batin Byan kembali menaiki tangga dan memasuki kamarnya.
*
*
*
*
"Jadi lo gak mau?" Amanda tampak bersedekap dada didepan Tanaya.
"Lo akar permasalahannya loh, lagi pula Kak Eman itu suka sama lo sejak lama, mungkin akan ada ikatan batin kalo lo jenguk, trus dia sadar deh," ungkap Amanda yang dibalas bingung okeh Tanaya.
"Kalo kak Byan tau, gimana? Otak lo dah nyampe kesitu?" tanya Tanaya khawatir.
"Mustahil dia ada di rumah sakit, selama dijalan kalo pun kita jumpa, kak Byan gak bakal liat. Kita naik mobil Nay, bukan motor!" Amanda memutar bola matanya malas, bagaimana cara membuat sahabatnya paham dan yakin.
"Yaudah, bentar gue simpan ini dikamar, kalo dilacak, gue akan ada dititik kamar," Tanaya meraih ponselnya dan langsung berlari menuju kamarnya, tak lama ia kembali dengan membawa dompet mini miliknya.
"Kita sampai Nay," Amanda membuyarkan lamunan Tanaya, keduanya segera turun dan langsung menuju ruangan Eman dirawat.
"Hai Om, Tante," sapa Tanaya ketika melihat orangtua Eman yang baru keluar dari sebuah ruangan yang jelas tempat dimana Eman dirawat.
"Amanda, bisa om minta tolong padamu untuk membawa gadis yang diperebutkan Byan dan Eman?" Aswandi selaku ayah Eman bertanya dengan memasang mimik sedih dan penuh harap pada Amanda.
"Dia disini Om, dialah orangnya."
Aswandi menatap Tanaya yang menyapanya ramah, sedikit menundukkan kepala serta memberikan senyum manis.
"Jadi kamu yang hendak dicium Eman hingga membuat Byan menghajarnya?" tanya Fira, ibu Eman.
Tanaya mengangguk"saya minta maaf Om, Tante." Tanaya tak berani menatap orangtua Eman.
"Tidak apa sayang, temui dia, kata dokter dia butuh seseorang yang ia sayang berada disampingnya, kiranya kamu Sudi menemuinya." balas Fira lembut.
"Kami sudah mencobanya, entah butuh proses atau memang dia sedang menomorsatukan orang lain selain kami, sebaiknya coba, nak." sambung Aswandi dengan mata berkaca-kaca.
"Dia putra tunggal kesayangan kami."
Tanaya memberanikan diri menggenggam tangan Eman pucat, Amanda menatap Eman pilu, luja memar memenuhi wajahnya, membiru bahkan ada yang menghitam.
"Maafkan aku Kak Eman, gara-gara aku Kakak terluka, bahkan sampai koma." ucap Tanaya mencoba meresapi kesalahannya, berharap air mata keluar dari matanya.
"Aku akan beri penawaran gila," ucap Tanaya terkekeh, ia berhenti untuk berusaha menangis.
"Kalau Kakak sadar detik ini juga, aku akan bersedia jadi pacar Kakak." tuturnya seketika mendapat jitakan dari Amanda.
"Lo gila ya, dia koma bukan pingsan!" celetuknya marah.
"Lagian lo udah punya Kak Byan, gak usah aneh-aneh." omel Amanda masih bersedekap dada, rasanya kebiasaan itu menjadi prioritas disetiap saat untuk Amanda.
"Kenapa, emang salah kalo gue pacari dua-duanya?"
"Tanaya Putri Utami!"