
"Kenapa menyembunyikan saudara laki-lakimu?"
"Kak Byan tau dari mana?" tanya Tanaya bangkit berdiri, ia sempat terduduk akibat hempasan itu.
"Mau cerita langsung, atau aku cari tau sendiri?" tanya Byan datar, ia menggunakan jurus ini berharap Tanaya segera memecahkan rasa penasarannya.
"Kak Byan, dia bukan saudaraku, aku benci dia." Tanaya kembali terduduk dengan lemas, ia bersandar sembari menghembuskan nafas lelah.
"Dia hanyalah anak yang diadopsi kedua orangtuaku ..., mereka menginginkan anak laki-laki tapi ibuku udah gak bisa mengandung." terang Tanaya sembari menunduk.
"Maaf, tapi apa dia berhasil menjual salah satu diantara kalian?
Tanaya mendongak, lagi lagi ia terbelalak, ia mengira Byan sudah mengetahui segalanya dan hanya sedang mengetes ia akan jujur atau tidak, padahal nyatanya yang Byan tau hanyalah Tanaya punya saudara, itu saja.
"Dia tidak pernah berhasil, namun kakakku ...," Tanaya menggantung ucapannya.
"Kakakmu kenapa?" tanya Byan membuat Tanaya ragu tentang Byan yang mengetahui semuanya.
"Emmm, dia sempat dibuat pingsan bahkan hanya tinggal menikmati tubuhnya saja karena ia benar-benar udah gak pakai baju, waktu itu dia dijual sama pemuda seumuran kita yang dibawah pengaruh alkohol." Tanay memejamkan matanya dalam-dalam.
"Siapa yang menyelamatkan?" tanya Byan menautkan kedua alisnya.
"Aku menusuknya dengan pisau, tidak tau bagaimana kabarnya sekarang. Aku segera meminta pertolongan setelah menutupi tubuh kakakku dengan selimut."
Byan mengangguk paham, rasanya ia juga tak percaya jika laki-laki itu saudara kandung dari dua kakak beradik ini.
"Jangan beritahu kakakmu, kalo aku tau semuanya. Bicarakan dengannya apakah akan tetap merahasiakan ini bahkan ketika telah bertemu jodohnya." Byan ikut duduk disamping Tanaya, ia bernafas lega mengetahui gadis pujaan hatinya masih suci.
"Jadi udah berapa gadis yang Kakak tiduri?" tanya Tanaya bersedekap dada, ia menatap Byan dari atas sampai bawah yang berakhir dijunior pemuda itu.
"Mau kututup pernafasan mu dengan bantal?"
*
*
*
*
Tak terasa Tanaya sudah menetap disana kurang lebih enam bulan, mereka telah melalui ujian dan memasuki semester dua.
Sementara Ranaya, ia juga sudah sepenuhnya tinggal di Malang, meninggalkan kedamaiannya di Jakarta, ia sukses besar membangun kerja sama dengan Farel, sama-sama gengsi, keduanya menjalani kehidupan layaknya teman bisnis.
"Byan, semua utang itu udah dibayar, sekarang kita bersaing untuk Tanaya, aku tau kau memacarinya hanya untuk sekedar balas dendam."
"Byan, beri aku jalan, jangan terus menghadangku. Keluargaku telah membayar mahal perbuatan mereka terhadap ibumu."
"Hei biawak, bisa menyingkir." usir Afdi melampiaskan emosinya pasalnya ia baru saja kalah dalam permainannya.
"Fokuslah pada ujianmu, sebentar lagi kamu harus mengurus perusahaan tak seberapa ayahmu itu." Byan berucap tanpa menatap Eman yang menggeram.
"Tanaya milikku, pengganggu!" murka Eman segera meninggalkan Byan, ia tadi hendak bernegosiasi berharap Byan memberi kesempatan untuk ia bahagia tapi lagi-lagi sia-sia.
"Tanaya!"
Byan mengedarkan pandangannya ketika mendengar suara Eman yang memanggil nama pacarnya.
Ia membola saat mendapati adegan dimana Eman mencium ujung bibir Tanaya dan itu disaksikan seluruh orang yang berada di kantin.
"Kakak apa-apa sih!" kesal Tanaya mendorong Eman kuat, ia mengusap ujung bibirnya kasar.
Bugh!
Byan segera melayangkan bogeman pada Eman kuat, bahkan sampai Eman terpental cukup jauh.
"Sialan!" umpat Byan mendekati Eman dan menaruh kakinya yang berbalut sepatu diperut Eman dengan kasar.
"Lo cari mati?!" murkanya menarik kerah baju Eman.
"Lihat, gue tadi udah cium bibirnya, lo belum dapat' kan?" Eman terkekeh, ia sengaja meledek Byan.
Bugh!
Byan kembali melayangkan bogeman dirahang Eman, melihat itu Tanaya berusaha melerai namun ia takut malah dirinya yang terkena pukulan.
"Kak Byan cukup!" pekik Tanaya berteriak.
"Ahkkk!" histeris seisi kantin ketika Byan mencekik Eman serta memberi serangan bertubi-tubi diwajah Eman hingga ketua OSIS itu tak sadarkan diri.
"Berengsek!" puas Byan menendang tubuh Eman yang tergeletak.
Plak!
"Aw!"
Ringis beberapa perempuan ketika menyaksikan Tanaya yang menampar pipi Byan kuat.
"Kita putus!"