
"Sorry, mobil gue dah penuh."
Tanaya menatap intens pada Byan yang baru saja mendahului jalannya, pemuda itu tampak masuk ke mobilnya seorang diri.
"Gak ada ngomong juga." Tanaya memberi jari tengahnya.
"Hus!" seseorang memukul tangannya yang masih memberikan jari tengah pada mobil Byan yang sudah keluar gerbang.
"A- amanda." Tanaya perlahan tersenyum, ia menatap Amanda yang ternyata pelaku pemukul tangannya.
"Cukup dalam yang kotor, luar jangan." dingin Amanda menatap datar pada Tanaya, gadis itu tampak mendahului Tanaya dan masuk ke mobilnya dengan angkuh.
Tanaya menatap sedih pada Amanda, ia kehilangan sahabatnya "ini hari yang buruk." gerutunya menunduk.
"Hmpp!"
Seorang laki-laki menutup mulut Tanaya dengan kain hingga ia pingsan, tampak satu perempuan membukakan pintu mobil dan membiarkan pria itu membawa Tanaya ke dalam.
Setelah memasukkan Tanaya, keduanya adu tos dengan sedikit tertawa, tak lama perempuan itu mengecup pipi laki-laki itu dengan semangat.
*
*
*
*
Byan baru sampai dirumahnya, ia berjalan masuk ke dalam, namun saat diambang pintu, ia melihat mobil adiknya baru saja masuk gerbang.
Ia melihat sang supir keluar, namun adiknya tak kunjung keluar, ia hanya memastikan adiknya pulang dengan rapi layaknya anak perempuan.
Adiknya itu sangatlah nakal, biasanya selalu pulang dengan baju keluar dan lengan baju yang dilipat, menyandang tas seperti menyandang karung, ia tak mau punya adik yang kumuh.
"Feby mana pak?" tanya Byan mengerutkan dahinya.
"Katanya sih ada kerja kelompok, saya disuruh pulang duluan, tapi pas saya mampir beli kopi, saya lihat non Feby pergi sama cowok yang kemarin. Saya gak sempat ngejar Tuan." adu supir itu tertunduk.
"Sama Reno?" tanya Byan mulai emosi.
"Iya Tuan."
Byan masuk kedalam rumah, merogoh sakunya mengeluarkan ponsel miliknya, mencari kontak Feby dan menghubunginya.
"Halo kak."
Byan mengepalkan tangannya, suara adiknya itu tampak meledek dan menantang.
"Kamu mau pulang sendiri atau kakak yang jemput?!"
"Maaf kak Byan, tapi kali ini aku gak bakal pulang." jawab Feby dari sebrang.
"Feby!" peringat Byan.
"Angkat video call aku." ucap Feby meminta video call pada sang kakak.
Byan mengangkatnya, Feby tampak memamerkan rambut pirang barunya, kemudian memamerkan Reno yang tampak melambaikan tangan, Byan mengepalkan tangannya kuat-kuat, ingin sekali menonjok keduanya.
"Dan ..., supriseee!" Feby mengarahkan kameranya pada Tanaya yang tak sadarkan diri.
"Tanaya?" Byan melotot, tentu saja ia kaget kenapa pacar jadi-jadiannya itu ada bersama adiknya.
"Kakak janji dulu gak bakal hukum Feby dan gak akan ngehajar Reno pas nanti kita pulang, kalo gak mau, pacar kakak ini gak akan baik-baik aja." ancam Feby tersenyum miring, ia masih mengarahkan kameranya pada wajah Tanaya yang terlelap.
"Kamu berani sekarang? Siapa yang ngajarin? Reno?!" Byan duduk di sofa dengan kasar.
"Aku juga bakal sebarin kalo pacar kakak ini katanya udah kotor, aku yakin kak Byan tau itu." lanjut Feby mematikan kameranya.
"Jangan asal ngomong Feby!" peringat Byan semakin terkejut, dari mana adiknya tau, mungkin adiknya tengah mengada-ada.
"Tadi aku dengar temannya ngomong gitu. 'cukup dalam yang kotor, luar jangan'. Ngedukung banget' kan. Secara Feby sekarang memang butuh pegangan." tutur Feby membuat Byan yakin orang itu adalah Amanda.
"Mungkin aja maksudnya itu dia orangnya gak bersih, jangan ngarang kamu Feby!" Byan mencoba mengelak.
"Udahlah kak, ternyata cewek kakak murahan ya. Sekarang janji dulu atau Feby viralin pacar kakak!" ancam Feby ngotot.
"Yaudah, kakak janji gak akan hukum kamu dan juga gak akan ngehajar Reno, tapi nanti kakak mau ngomong sesuatu yang penting sama kalian berdua." ujar Byan memilih pasrah, daripada nama Tanaya rusak atas kesalahan yang tidak benar adanya.
"Tapi gak bakal di apa-apain' kan?" jelas Feby memastikan.
"Iya Feby."
Tut!
"Sial!" umpat Byan tak sempat bicara.
"Sekarang dia gimana sayang?" tanya Feby menatap Tanaya kemudian menatap Reno.
"Tenang, biusnya mungkin hampir lima jam." jawab Reno tersenyum, mengusap kepala Feby dengan sayang.
"Yaudah."
_________________________
19.56
"Hai kak Byan." Feby menyembulkan kepalanya di pintu kamar Byan.
"Pacar kakak udah datang." ucap Feby membuka lebar pintu itu.
Byan beranjak dari duduknya, ia menyimpan ponselnya disaku celana, berjalan keluar diikuti Feby yang tampak tersenyum senang.
Byan menaikkan alisnya, tidak menemukan ada orang diruang tamu "mana?" tanya Byan menatap Feby yang kini menunjuk kearah pintu.
Byan berjalan menuju pintu, ketika melihat keluar ia melihat Reno sedang memapah Tanaya yang tampak masih lemas, gadis itu memang sudah sadar.
"Biarin dia jalan sendiri!" kata Byan membuat Reno mendongak, mengangguk serta melepaskan Tanaya secara perlahan hingga gadis itu mundur karna masih oyong.
Byan berlari kecil, ia menepis tangan Reno yang menggenggam tangan Tanaya, Byan langsung menggendong Tanaya membawa gadis itu masuk kerumahnya.
"Kok ke kamar kakak sih?" tanya Feby ketika Byan membawa Tanaya ke kamarnya.
Byan tidak menjawab, ia melepas Tanaya di kamar mandi, menyuruh gadis itu untuk mandi "Feby, kasih baju baru yang kakak belikan untukmu itu." perintah Byan menutup pintu kamar mandi.
"Byan, itu baju dia, biar aku mandi dirumah aja." ujar Tanaya dari dalam.
"Udah, mending kamu mandi aja deh, itu baju gak mau dipake sama adek gue karna katanya kayak baju perempuan, padahal dia sendiri perempuan, tolol emang." sindir Byan yang hanya dibalas juluran lidah dari Feby.
"Yaudah,"
Byan berjalan menuju Reno dan Feby, mendekati keduanya dan mulai berujar serius "Feby, tolong rahasiakan ini dari Tanaya dan semua orang." bisik Byan menatap Feby lekat.
"Reno, kamu juga." Byan beralih menatap Reno yang hanya mengangguk.
"Apaan kak?" tanya Feby ikut serius.
"Sebenarnya Tanaya itu ceritanya hamil anak gue."
Reno dan Feby melotot, kaget? Oh, lebih dari itu. Mereka cukup lama saling tatap-tatapan "kok kakak brengsek?" tanya Reno masih melotot.
"Enggak, semua itu akal-akalan gue. Gue lagi mainin hidup dia."
Byan menceritakan bahwa semua berawal dari MOS, kemudian ciuman, kemudian menculik, dan membuat sandiwara pemerkosaan serta hamil bahkan memaksa Tanaya jadi pacar untuk balas dendam dengan seseorang, ia masih merahasiakan nama 'Eman'.
"Kak, dia pasti ngerasa hancur banget, ngerasa kotor dan gak memiliki tujuan hidup!" Feby mulai memarahi kakaknya.
"Jangan ajari kakak Feby." Byan melayangkan tatapan tajamnya.
"Jadi mau sampai kapan kakak sembunyikan? Dan perempuan yang disekolah tadi, kenapa tau tentang kalian?" tanya Reno tampak penasaran.
"Sebelumnya saya masih kurang suka sama kamu, tapi jika kamu berhasil menyembunyikan serta membantu saya nantinya, saya akan mencoba menerima." Byan tampak formal.
"Oke, saya belum tau sampai kapan akan saya sembunyikan, dan tentang perempuan itu, dia adalah sahabat Tanaya yang gak sengaja mendengar omongan gue, besok gue bakal urus dia. Cukup gue yang boleh ngelukain dia, orang lain gak bisa!" tegas Byan menatap lurus.
"Artinya kakak gak cinta sama dia?" tanya Feby penasaran.
"Ambil baju kamu sana, kayaknya dia udah mau siap." alih Byan segera duduk di sofa.
"Kak, boleh saya duduk." tanya Reno berusaha lembut.
"Ya, silahkan."
Reno ikut duduk disofa, masih canggung rasanya duduk disofa yang sama dengan Byan, ini pertama kalinya mereka bicara, biasanya Byan selalu melayangkan Bogeman ketika mereka bertemu.
"Lewat kamu, apa bisa saya minta Feby diubah?" tanya Byan menoleh pada Reno.
Reno terdiam sebentar, ia menatap pintu dan mendengar suara jejak kaki, itu pasti Feby.
"Feby-nya mau diubah jadi jangkrik atau monyet kak?"