
"Apa?"
Byan menerbitkan sebuah senyuman ketika Tanaya menyambutnya dengan wajah datar.
"Tapi semalam ngajak jalan, yaudah ayo." ajak Byan hendak mencubit pipi Tanaya namun segera ditepis kasar oleh kekasihnya itu.
"Aku gak mood Kak, pulang aja sana."
Brak!
Byan terbelalak, kejam sekali Tanaya sekarang, padahal semalam gadis itu sangat manja dan menjengkelkan, namun sekarang tidak ada kata manja dan hanya menjengkelkan.
"Memang cewek PMS gak bisa ditebak ya, sabar ..., sabar ...," ucapnya mengelus dada.
Wajah tampan Byan perlahan memilih pergi dari kediaman Tanaya, ia lebih baik menyusul sahabatnya yang tengah berpesta untuk nasib baik yang menimpa Revan.
"Dasar gak peka, anak pungut!" Tanaya menutup kaca jendela kamarnya yang tadi ia buka untuk mengintip Byan, berharap pemuda tampan yang jadi pacarnya itu kembali dan membujuknya untuk jalan, tapi sangat berbanding balik dari yang ia terka sedari tadi.
"Lah, bukannya seharusnya lo udah pergi ya?" tanya Amanda yang baru bangun dari tidurnya, Amanda memang menginap di rumah Tanaya, pasalnya Ranaya tak bisa pulang karena diminta menginap di hotel bersama rekan bisnisnya.
"Diem lo, kalo gak bisa pulang sono." ketus Tanaya berjalan gontai tanpa melihat kearah Amanda.
"Heh! Lo mau ngapain?" tanya Tanaya melotot tajam pada Amanda yang hendak membuka bajunya.
"Mau mandi bego!" Amanda menatap malas pada Tanaya.
"Disana ada cctv, dipasang sama kak Byan, kalo lo masih mau tebar pesona, ya gak papa." Tanaya segera keluar dari kamarnya.
Memang cctv itu masih terpasang disemua penjuru rumah Tanaya, bahkan kamar kakaknya juga dipasang, yang pasti tidak untuk kamar mandi.
Namun orang-orang yang dikirim Byan akhirnya tidak diberlakukan, pasalnya Tanaya terus diam dan enggan bicara pada Byan, hal itu tentu membuat ketidak nyamanan, jadi Byan menuruti kemauan Tanaya yang alasannya risih jika banyak orang.
"Jalan yuk Nay! Mumpung libur, ditaman banyak cogan euy!" teriaknya dari dalam kamar mandi.
"Coba deh, cari gara-gara sekali." gumam Tanaya yang mendengar teriakan Amanda.
Dilain sisi, Byan dan sahabatnya tampak berada di suatu kafe, terlihat jelas disana bahwa Revan terus menyunggingkan senyumnya, hal yang langka jika Revan terus menerus tersenyum manis seperti itu.
"Tapi jangan kelewatan, kita masih kelas dua loh." tegur Afdi setelah sedari tadi menyinggung Revan untuk segera menguasai calon istrinya.
"Gue gak kayak lo, Di." jawab Revan meneguk minumannya.
"Emang gue gimana?" tanya Afdi menatap bingung pada Revan.
"Kalo ketemu cewek kayak kesetanan." jawab Zean mengunyah tanpa menoleh, ia lebih asyik pada game yang ia mainkan.
"Gue udah kenyang, balik yuk. Gue mau kerumah Amanda dulu." tutur Zean ketika selesai pada gamenya.
"Amanda dirumah Tanaya." beritahu Byan membuat Zean terperanjat kaget.
"Kok dia gak ngasih tau gue?" tanya Zean dengan mata yang terbuka lebar.
"Mana dia tau bambank!" Afdi menyentil dahi Zean dan diberi jempol oleh Byan.
"Kita kesana yuk, semalam dia marah sama gue gara-gara gue lama balas chat dia, jadi dia langsung off, takutnya dia tuh macem-macem. Kalo cewek marah, mainannya gak main-main, Yan." Zean tampak khawatir.
"Bener kata lo Ze." Revan menatap layar ponselnya yang tertera dimana postingan story Amanda yang menampilkan seorang pemuda terciduk dengan cukup aeshtetik.
"Mustahil Amanda pergi sendiri Yan, kita harus bergegas sekarang!" pekik Zean cukup menarik perhatiannya.
"Kami ikut." Afdi nyosor duluan.