The Girl Is Mine

The Girl Is Mine
End episode 1



Oke guys, gak terasa udah part 52, author kehabisan gagasan niih, konflik yang mau dibahas juga susah nyarinya, kayaknya ini part terakhir, gak happy end, gak sad end juga, kesannya biasa aja gitu, maklum ajalah, pembuatan cerita awalnya buru-buru, jadi susah mau buat alurnya.


oke lanjut.


******


"Eh kebetulan, Mel, pinjam hp dong." Tanaya


menutup kasar pintu kamar mandi.


"Lo ada nomor Febryan?" tanya Tanaya memotong Amel yang hendak angkat suara.


Amel mengangguk ragu "pinjem! Ini darurat!" Tanaya merampas ponsel Amel, jarinya dengan cekatan menari diatas layar ponsel Amel.


"Halo Febry, lo dimana?" Tanaya mendekatkan ponsel Amel Kedaung telinganya.


[Di kelas, perut lo gimana?]


"Cabut! Pulang aja Feb, jangan kerumah! Cari tempat lain. Gue saranin lo bolos aja deh, lagian gak diabsen kok. Tapi kalo mau memar, yaudah ..., gak usah denger saran dari gue."


[Serius gue bolos?]


"Iyaa! Udah gue tutup yaa. Lo cepetan cabutnya sebelum kawan-kawan dia nyusul duluan kesitu.".


[Okeoke, makasih Nay, gue hutang Budi sama lo]


"hutang Budi bapak lo.".


Tut!


Tanaya menyodorkan ponsel Amel dengan kasar, ia kemudian menghidupkan keran kemudian membasahi tangannya "gue duluan Mel." ucapnya kemudian keluar dengan tergesa-gesa.


"Udah?" Byan tampak menyambutnya dengan wajah memerah.


"Masih agak sakit, temenin ke UKS ya?" pinta Tanaya memasang wajah sedih.


"Ini bukan trik licik? Kamu gak ngelindungi cowok itu' kan?" tanya Byan menatap curiga.


"Yaudah kalo kakak gak mau, aku bisa sendiri."


"Eh, iya-iya. Aku temenin."


Tanaya tersenyum puas, secepatnya ia mengembalikan ekspresi kesakitannya, entah karena apa, tiba-tiba ia tampak handal dalam berakting.


"Nomor mereka juga gak ada yang bisa dihubungi, yang satu gak aktif, yang satu berada dipanggilan lain, yang satu gak diangkat, memang gak berguna!" umpat Byan kesal.


"Siapa?" tanya Tanaya yang telah berbaring diatas brankar.


"Kamu udah cuci muka? Aku gak sudi bekas dia sampai mengering di pipi kamu! Bahkan aku belum pernah Nay, dan dia ...! dengan seenaknya main sosor!" Byan tampak merah padam.


"Dia gak sengaja kak." bela Tanaya dengan suara serak.


"Sialan! Sialan! Sialan!" Byan meninju dinding UKS bertubi-tubi.


Anggota PMR yang tadinya mengobati Tanaya serta berjaga, seketika izin keluar dengan alasan ke toilet, padahal jelas terbaca apa niat sebenarnya.


"Dimana tadi bekasnya? Biar aku ganti pake bibir aku!"


"No! Kak Byan jangan macam-macam!"


"Aku cuma mau hapus jejak dia!"


"'Cium bibir Febry-nya aja sana!


"Kamu nyuruh aku homo?"


"Bukan gitu---"


"Pokoknya aku mau cium!"


"Cium sama bebek aja sana!"


*


*


*


*


Byan tampak menaiki tangga dengan riang gembira, meski susah payah dan penuh penolakan, namun akhirnya ia mendapat kesempatan mencium pipi Tanaya cukup lama, sekitar sepuluh detik lamanya.


"Mah, astaga mah! Mamah kenapa?!" tak sengaja Byan melewati kamar orangtuanya, kamar yang biasa kosong, sunyi dan tertutup itu, kini terbuka dengan diisi mamanya yang terbaring diatas ranjang dengan dokter yang tengah memeriksa, juga ada Feby dan ayahnya.


"Kakak kemana aja? Asik pacaran ya! Kakak tau gak dari tadi mama nyariin kakak!" Feby tampak menumpahkan air matanya.


"Nyariin? Kenapa gak nelpon kakak?" tanya Byan menggenggam tangan Sarah, ibunya.


"Panik kayak gini mana kefikiran nelpon kakak!" Feby terus membalasnya dengan kasar.


Byan menggeleng tak tahu, nyatanya ia sudah lama tidak saling sapa dengan kakak sulungnya itu, rasanya hubungan mereka benar-benar renggang.


"Sebaiknya kalian tidak berisik, nyonya Sarah butuh istirahat penuh, biarkan dia istirahat dengan tenang, penyakitnya benar-benar parah, sudah mencapai stadium akhir, masa hidupnya mungkin hanya tinggal 20%"


"Jangan bicara sembarangan!" bentak Byan dengan suara menggema.


"Biar saya antar dok." Feby mengusap pipinya kasar, ia mengikuti sang dokter yang keluar dari kamar orangtuanya.


"Kapan mama pulang?" tanya Byan menatap ayahnya.


"Papa perlu bicara sama kamu, Byan." Galang berjalan keluar meninggalkan kesunyian diantara Byan dan Sarah yang tampak menutup matanya.


Byan mengikuti Galang dari belakang, Galang masuk keruang kerja Farel, ia duduk disofa dengan wajah lurus ke depan.


"Kamu benar-benar diracuni oleh pacarmu itu."


Byan membola, apa-apaan ini, hanya terlambat sedikit, Tanaya menjadi sasaran orangtuanya, ia tadi bersama Tanaya paling hanya kisaran dua puluh menit, lima belas menit perjalanan pulang, lima menit berbincang sebelum berpisah, hanya itu saja.


"Sebenarnya ibumu baru sampai sekitar pukul satu siang tadi, papah tidak tahu tapi tiba-tiba mamamu mengatakan ingin menjodohkanmu dengan anak rekan bisnisnya."


Byan menatap Galang tajam, perasaannya benar-benar tidak enak sekarang.


"Karna papa tahu kamu menjalin hubungan dengan gadis itu, papah menentang ucapan mamamu, tapi apa yang terjadi?"


Byan mendengarkan dengan seksama.


"Kami bertengkar hebat, dan sampai akhirnya ia memekik kuat, memegangi jantungnya dan tak sadarkan diri ..., sampai sekarang."


"Kamu tau apa artinya?" Galang menatap putra keduanya dingin.


"Dengar kata dokter tadi, penyakitnya itu telah mencapai stadium akhir? Papah cuma meminta sedikit permohonan ..., tolong kabulkan perminta mamahmu yang mungkin menjadi penyelamat hidupnya atau mungkin jadi permintaan yang terakhir." Galang bangkit dengan wajah lesu, meninggalkan Byan yang tampak melemas.


*


*


*


*


*


Mampir dicerita baru Author🤗


Gara-Gara Sekamar


(*Diambil dari part tujuh)


Lo mau kemana?!" dengan nada tinggi, Rafa membulatkan matanya dengan sempurna, ia bangkit dengan rahang mengeras.


Melihat hal itu, Gisel mundur satu langkah, ia sungguh takut melihat Rafa sepertinya marah dengannya.


"Diajak mama shopping." jawab Gisel menatap Rafa yang mulai berjalan mendekat.


Gisel melega ketika Rafa berbelok kearah pintu, setidaknya ia diberikan kelonggaran bernafas beberapa saat.


"Mami, apa baju itu pemberianmu?" Rafa menghampiri Anita yang tengah asyik dengan gawainya.


Anita tersenyum tertahan, sepertinya rencananya berjalan mulus, ia berbalik dan menatap putranya dengan sayang.


"Iya sayang, manis' kan?" ucap Anita pura-pura tidak mengerti dengan kemarahan Rafa.


"Bajunya kurang layak Mi, menunduk sedikit maka laki-laki diluar sana akan melihatnya sebagai ******. Itu akan membuat resiko kejahatan terjadi." terang Rafa panjang lebar.


Anita semakin tersenyum, ini yang ia mau lihat, Rafa ternyata masih menghargai dan perduli dengan Gisel, itu artinya ia tidak mau melihat istrinya dilihat **** dimata laki-laki lain, berarti masih ada keinginan memiliki Gisel seorang.


Gisel tampak keluar dengan tas mini yang tergantung dibahunya.


"Kita berang---"


Rafa mendorong Gisel dengan satu tangan hingga membuat Gisel kembali masuk ke kamar, Rafa menarik pintu itu hingga tertutup dan mengurung Gisel didalamnya.


"Tidak ada shopping Mi, kalian harus istirahat." tegas Rafa dengan sorot mata tajam.


"Jangan memerintah Mami, buka pintunya dan biarkan Gisel keluar!" Anita tak kalah tegas.


"Mami!" Rafa memiringkan kepalanya, meminta pengertian dari sang ibu.


"Gisel, buka saja pintunya." teriak Anita seakan tak perduli pada Rafa yang semakin gusar.


Dari awal nyatanya memang ini rencana Anita, tapi soal shopping, hal itu adalah sesuatu yang nyata yang harus ia lakukan sekarang, tangannya gatal memegang barang baru dari toko.


Gisel membuka pintu, ia menatap Anita yang memberi kode mata untuk segera pergi, ia menyusul Anita dari belakang, menatap Rafa yang menggertakkan giginya.


"Rey ikut Mi!"