The Girl Is Mine

The Girl Is Mine
Rayuan sia-sia



"Bagaimana dia bisa lolos dari kalian?" Byan menatap satu persatu anak buahnya yang ia titahkan untuk mengawasi Tanaya.


"Kalian sebanyak ini bisa dilewati gadis kecil seperti dia?"


Tanaya mendelik, ia mendongak menatap Byan yang masih marah-marah pada anak buahnya.


"Kecil apanya? Dia fikir gue semut," tentu saja Tanaya mengucapkannya dalam hati.


"Dia bodoh terlebih kalian semua!"


"Hei!"


Tanaya tak terima, ia bangkit dari duduknya menatap Byan dengan nyalang "Aku gak bodoh kak Byan, mereka juga enggak!" bantah Tanaya yang kesal.


"Siapa yang nyuruh kamu diri?"


Nyali Tanaya yang tadinya sudah full seratus persen kini kembali menciut menjadi sebuah abu yang tak berdaya.


"Kakak gak boleh kasar, tadi aku cuma keluar bentar doang." Tanaya mencoba membela diri.


"Dan bertemu Eman?"


Tanaya diam, huftt ..., Emangnya kenapa sih dengan Eman, jika itu Dean maka masih masuk akal, tapi Eman? Ia sungguh tak mengerti apa-apa.


"Aku tadi dibantu Kak Ranaya, dia bawain aku kotak paket besar, jadi aku masuk kedalam, trus lolos deh." Tanaya mengadu dengan jujur.


"Bawa dia kekamar, dan kamu! Siapkan pisau tumpul supaya aku bisa memotong kakinya." Byan menatap salah satu anak buahnya kemudian beralih pada Tanaya yang langsung menggeleng cepat.


"Kak Byan, ini salah! Kak ..., fikir dulu baik-baik deh!" suara Tanaya tampak mengecil dan tak terdengar lagi, Byan menyunggingkan senyumnya kemudian ikut menyusul ke kamar Tanaya.


"Ini kenapa lagi padat-padat, sepatu kalian itu gak higienis, jadi jangan banyak keliaran deh,"


Byam menoleh sebentar, ia mendapati Ranaya yang mengomel sambil berjalan, hal itu membuat Byan mengurungkan niatnya sebenarnya untuk menemui Ranaya sebentar.


"Kaki kakak mau dipotong juga?"


"Eh ..., Byan?" Ranaya kaget, ia menatap Byan dari atas sampai bawah tanpa berkedip.


"Apa tadi kamu bilang? Kaki kakak mau dipotong?" tanya Ranaya memperjelas.


"Kenapa bantu-bantu Tanaya keluar rumah, mantan Tanaya sama musuh Byan lagi berkeliaran Kak, aku gak sopan tapi ini untuk kepentinganku, jadi kakak jangan sampai terlibat, emangnya kakak mau kalo dia kenapa-kenapa diluar sana?"


"Katanya cuma beli buku bentar, gak akan kenapa-kenapa ..., Buktinya dia udah pulang' kan?" tanya Ranaya santai.


"Kakak beneran mau dipotong kakinya?"


"Gak sopan ancam-ancam kakak ipar, udah sana! Jangan ganggu ketenangan kakak. Iya lain kali, gak akan kakak bantu tuh bocah keluar." Ranaya meninggalkan Byan yang sekitar dua menitan masih berdiri ditempatnya.


Cklek!


"Ampun Kak Byan, iya janji gak akan diulangi."


"Jangan dipotong dong, ini masa depan Nanay."


"Nanay janji akan selalu nurut sama apa kata Kakak."


"Tapi jangan dipotong yaa, please...,"


"Kakak manis deh,"


Byan tidak melirik Tanaya sekalipun gadis itu sedari tadi terus memohon, ia memutar-mutar pisau tumpul yang sudah tersedia dimeja.


"Enak nih, jadi prosesnya bisa sampai setengah jam."


"Kak Byan!!!" pekik Tanaya terus memberontak kuat, namun anak buah Byan terus memeganginya.


"Tolong!! Aaaaaaa! Ada pembunuh!! Tolong saya!! Panggil poli--- hmppp!"


Byan membekap mulut Tanaya dengan cepat, ia baru sadar ternyata Tanaya sudah menangis.


"Baru segini udah nangis, cengeng." ejeknya menjatuhkan pisau tumpulnya, mengode agar anak buahnya segera keluar dan meninggalkan mereka berdua.


"Cengeng kata Kakak? Kaki aku hampir hilang!!" teriak Tanaya memelung pinggang Byan erat, tak akan ia lepas demi melindungi diri dari sikap nekat Byan.


"Yaudah sih, sekarang mandi sana, bau-bau Eman masih ada."


Tanaya mendongak "kakak udah gak marah?" Byan segera mengangguk pelan.


"Mandi sana, abis itu kita kerumah, nginap aja dulu."


Tanaya hanya mengangguk, ia benar-benar jera kali ini untuk membantah, lagi pula permintaan Byan tidak terlalu parah.