The Girl Is Mine

The Girl Is Mine
Ciuman untuk pemuda arogan



Tepat pukul 11.49, para siswa PLTS telah diperbolehkan pulang, Tanaya keluar dari area sekolahnya dan duduk di kursi halte berniat mengumpulkan tenaga karna ia berjalan kaki pulang ke rumahnya, jaraknya tidak terlalu jauh namun juga tidak terlalu dekat.


Ia menatap kendaraan roda empat dan roda dua yang berbondong-bondong keluar dari gerbang sekolahnya, tidak ada yang berjalan kaki sepertinya, ia merasa sedih dan malu sebentar, namun ia segera menepis fikiran jahatnya jauh-jauh, ia harus bersyukur atas apa yang ia miliki saat ini.


Tanaya bangkit dan segera berjalan menuju rumahnya, padahal kakaknya menitipkan uang yang cukup untuk Tanaya pulang pergi ke sekolah bahkan uang saku untuk jajan, namun sebisa mungkin Tanaya akan menabungnya, toh itu juga nanti untuk dirinya sendiri.


Sekitar dua puluh lima menit Tanaya sampai di rumahnya, ia mengambil kunci dari tasnya dan segera masuk ke dalam.


Tanaya mengganti baju dan segera makan siang, ia melahap habis masakan kakaknya yang lezat.


Ia tinggal sendirian pasalnya kakaknya baru saja kembali ke Jakarta untuk bekerja. Sebenarnya mereka tinggal di Jakarta, namun entah kenapa Tanaya memilih melanjutkan sekolahnya di Malang sehingga memisahkannya dengan sang kakak.


Orangtua mereka telah meninggal dunia sekitar empat tahun yang lalu, ayahnya meninggal karna penyakit lambung, ibunya yang semula baik-baik saja, setelah mendengar kematian suaminya menjadi syok dan sakit-sakitan sekitar dua minggu dan menyusul suaminya plus ayah dari Tanaya.


Tanaya memainkan ponselnya sebentar, berselancar di sosial media sekaligus mencari akun Instagram SMA-nya sesuai perintah panduan untuk esok hari.


Setelah menemukannya, Tanaya langsung menuju dapur untuk mempersiapkan makan malam untuknya.


Keesokan harinya....


Tanaya memberikan uang pada supir angkot yang ia tumpangi, ia berusaha mengacuhkan tatapan orang kaya yang menertawakan serta berbisik-bisik tentangnya, ia tidak boleh malu hanya gara-gara naik angkot ke sekolah, tidak boleh.


Baru saja sampai, aba-aba dari para OSIS untuk menyuruh berkumpul segera dikemukakan, Tanaya segera mengambil barisan.


"Baiklah, dia adalah gadis yang aku sukai, pertemuan waktu itu ternyata bukanlah pertemuan terakhirku dengannya, sepertinya ini pertanda baik untuk menjalin hubungan dengannya." batin Eman tersenyum kecil menatap kertas bertuliskan namanya yang ia taruh disaku bajunya.


"Baiklah, tak perlu dijelaskan ulang, yang merasa laki-laki ayo maju ke depan untuk mengambil kertas, tetap rapi dan berurutan yaa." terang Fadya tanpa basa basi segera memulai apa yang harus dilaksanakan hari ini.


Sekitar lima belas menitan, para pemuda lulusan SMP itu siap dengan kertas pilihannya, dan dilanjutkan dengan para perempuan yang akan mengambil kertas untuk mereka.


Saat tibanya giliran Tanaya, Eman yang berdiri disamping kotak dengan kilat memberikan kertas namanya pada tangan Tanaya.


"Ambil kertas itu." ucapnya tersenyum, Tanaya awalnya bingung, namun ia membalas senyuman itu dan berfikir, mungkin memang OSIS yang mengambilkan, positifnya.


Tanaya berbalik badan, setelah dibarisan ia memperhatikan siswi selanjutnya yang mengambil kertas dengan tangan sendiri dan tidak diambilkan oleh OSIS, seperti dirinya.


"Mungkin hanya beberapa orang yang dipilihkan." batinnya kembali positif thinking.


Tanaya membuka kertas ditangannya dan membaca nama yang ada didalamnya.


'EMAN AFRIADI'


"Ini bukannya nama salah satu OSIS itu yaa?"