
Nirana menghampiri Eman yang sibuk di ruangannya, Nirana berjalan ria dan menepuk pundak Eman pelan.
"Hai kak." sapanya ramah.
"Ruang guru disebelah," dingin Eman menatap Nirana sebentar.
Cup
Cekrek!.
"Yey, dapat." Nirana menatap hasil pada layar ponselnya dengan senyuman, lain hal dengan Eman yang begitu terkejut saat Nirana mengecup pipinya.
"Makasih ya kak, nih aku dapat nama kakak." tutur Nirana membuka kertas bertuliskan nama Eman.
Eman menatap tak percaya "Bagaimana bisa?" batinnya bertanya.
"Hmmm, baiklah." Eman kembali dingin, ia menatap punggung Nirana yang keluar dari ruangan, ia masih bingung, harusnya kertas itu berada ditangan Tanaya, kenapa bisa ditangan Nirana.
"Lalu Tanaya?" bingungnya, dengan kecewa ia melanjutkan tugasnya tanpa memperpanjang fikirannya, nanti juga ia akan tau melalui postingan perempuan itu.
Disisi lain, Tanaya kembali ke kantin dan langsung mengambil perhatian seisi kantin, gadis itu kembali rapi walau jejak tangan Byan tak hilang dari lehernya.
Byan memberikan senyuman mematikan saat Tanaya kembali menghampirinya.
"Maafkan aku kak, aku sudah kelewatan." Tanaya berdiri dengan kepala menunduk.
"Maafmu ditolak." ucap Byan singkat.
"Aku menyetujui syarat kakak, aku akan melayani kakak nanti malam." ucapnya sepelan mungkin, Byan sendiri tidak jelas mendengarnya, namun beberapa kata-kata Tanaya membuat ia mengetahui apa yang dikatakan Tanaya.
"Baiklah, kemari duduk didekat ku." balas Byan menepuk kursi disebelahnya. Teman yang awalnya duduk disamping Byan segera berpindah tempat mempersilahkan Tanaya duduk.
"Kena kau, selamat, kau sudah berhasil ditipu oleh Tanaya, kau fikir aku akan benar-benar datang ke tempat itu dan melayanimu, dasar pria brengsek!" batin Tanaya merasa senang.
"Baik kak, sebentar saja." Tanaya berjalan dan duduk disamping Byan dan mulai mengambil gambar, ia mengecup pipi Byan cukup lama dan
Cekrek!
"Aku akan menjemputmu di taman Welia pukul tujuh, jika kau tidak berada disana, maka aku akan menjemputmu secara paksa dikediamanmu, apa kau fikir bisa bersembunyi di rumahmu, cantik?" tanya Byan melilit rambut Tanaya dijarinya.
Tanaya meneguk ludahnya susah payah, ia rasa pemuda ini tau rencananya untuk menghindar "Aku harus pergi ke tempat lain, baiklah aku akan ke pasar malam saja, jika dia hendak menculikku, aku bisa berteriak disana." Tanaya tidak kehabisan rencana.
"Baiklah, boleh aku pergi sekarang?" tanya Tanaya menatap Byan sebentar.
"Silahkan nona." Byan tersenyum manis membuat para sahabatnya hanya tersenyum menggeleng.
Selepas kepergian Tanaya, keadaan kantin kembali normal, Nazura yang menyaksikan itu mengerutkan dahinya "kenapa gadis itu berhasil? apa mereka punya hubungan, atau Byan menyukainya?" batinnya dengan sejumlah pertanyaan.
"Lo serius mau nyicicipin tuh cewek?" tanya sahabat Byan serius.
"Gue harus mulai terbuka sama cewek, barangkali dia bisa mengubah gue supaya bisa berhubungan istimewa dengan seseorang, biar gue juga berpengalaman dengan wanita yang kelak gue peristri."terang Byan asal, ia juga tak tahu kenapa tiba-tiba ia mengeluarkan ide seperti itu.
Padahal ibunya menasehati baik dirinya untuk tidak melecehkan seorang wanita karena itu satu-satunya harga diri yang perempuan miliki.
"Dengan berhubungan ****?".
"Apa hubungannya sama---"
"Gue juga gak tau, tapi dia terlihat murahan, bukan? Masak gitu aja dia mau." potong Byan menilai Tanaya.
"Mungkin iya, tapi mungkin juga itu trik dia supaya dapat fotonya, soalnya setau gue, kalo gak dapat mereka akan dipersulit bahkan mungkin ditolak dari SMA ini." terang salah satu sahabat Byan membuat pemuda itu dibuat ragu akan gadis yang baru saja ia minta melayaninya.
"Mungkin dia gak akan datang ke taman itu," timpal sahabatnya yang lain.
"Kalau dia gak datang, aneh jika dia menolak pria setampan aku." PD Byan semakin penasaran dengan Tanaya.
"Baiklah, aku memutuskan tidak akan melecehkan ia jika memang ia tak datang, tapi aku akan mencarinya, mengganggu nya dan membuat ia seolah-olah sudah aku lecehkan, aku akan membuat hidupnya tidak memiliki kata damai, rasanya sudah lama aku tidak mempermainkan takdir seseorang." tuturnya mengubah jalur rencananya.
"Jika ia datang?"
"Maka aku siap untuk dilayani."