
"Byan, ayah dengar kamu punya pacar."
Byan yang baru saja duduk dikursi menatap ayahnya terkejut, harusnya berita itu hanya tersebar dikalangan anak muda, kenapa bisa sampai pada ayahnya.
"Ayah tau dari mana?" tanya Byan balik bertanya.
"Berita itu lagi hot banget tau kak, dikelas ..., teman-temanku pada bahas nama kakak, dikantin apa lagi, pas aku ke kamar mandi masih kayak gitu juga, berita itu aja yang bolak balik aku dengar," Febyana Herlita, adik dari Byan angkat suara.
"Punya pacar doang bisa se-hot itu." lanjut Feby ketus. Feby seumuran dengan Tanaya, namun ia dan Byan dibuat beda sekolah, entahlah, Byan tak mau satu sekolah dengan adiknya, begitupun sebaliknya.
"Kamu bisa juga jatuh cinta?" tanya Sarah (Ibunya) tertawa kecil, Feby yang mendengarnya ikut tersenyum geli.
"Nyoba nyoba aja Bun, barangkali cocok. Aku capek dibilang suka sama sejenis, apalagi ayah, nuduh aku suka sama Zean." jawab Byan menatap ayahnya yang hanya tertawa kecil.
"Yaudah, berdoa dulu yuk."
*
*
*
*
"Makasih ya kak, bajunya cantik banget." ucap Tanaya menghirup dalam aroma gaun yang ia pegang.
"Yaudah, simpan baik-baik, nanti kalo ada acara apa-apa, kamu bisa pakai baju itu. Nanti kalo ada rezeki kakak beli lagi deh." ucap Ranaya lewat telpon, lebih tepatnya video call.
"Kakak gak usah aneh-aneh deh, Tanaya juga bisa beli kali. Kakak fokus aja nyari duit buat bayar kredit mobil." balas Tanaya melipat gaun pemberian kakaknya.
Memang, Ranaya baru saja membeli mobil, ia agak kesusahan bekerja, ia sering keluar masuk kantor, bahkan harus pulang kerumah berkali-kali, rasanya uangnya habis untuk ongkos.
"Yaudah deh, kakak mau jalan dulu, pacar kakak dah nunggu didepan nih, doain ya kencan pertama kakak lancar." Ranaya tampak merapikan rambutnya.
"Jangan pulang kemalaman ya kak. Kan besok kakak kerja." peringat Tanaya yang dibalas anggukan oleh Ranaya, pasalnya Ranaya tengah merapikan lipstiknya.
"Yaudah, kakak tutup ya. Jangan tidur lama-lama. Besok sekolah. daaaaa!" semangat Ranaya menutup panggilan video itu tanpa menunggu balasan Tanaya.
Tanaya menghela nafas pelan, ia mengambil ponselnya serta gaun yang sudah ia lipat, menaruh gaun itu lemari kemudian memilih berbaring di ranjang.
Ia menatap perutnya yang rata "cepat atau lambat aib ini akan terbongkar." Tanaya memejamkan matanya, membiarkan buliran air menetes dari matanya, tak sadar ia sudah berada dialam bawa sadar.
*
*
*
*
"Gue gak mau jumpa apalagi berangkat ke sekolah sama kak Byan, gue harus cepat-cepat sebelum tuh cowok sampai." Tanaya mengunci rumahnya, ia berjalan cepat, jam masih menunjukkan pukul 05.40, Tanaya tampak sudah selesai dengan seragam bahkan sudah berjalan menyusuri jalanan yang tentunya masih sepi.
"Tanaya!" panggil seseorang dari arah belakang, Tanaya menoleh dan melihat Amanda disalah satu bangunan laundry "lo mau ke sekolah?" tanya Amanda menghampiri Tanaya.
Tanaya hanya mengangguk "cepat amat." Amanda menggaruk tengkuknya, tentu saja ia heran, ini masih terlalu pagi bahkan ia sendiri masih belum mandi.
"Lo ngapain disini?" tanya Tanaya.
"Ngambil seragam," jawab Amanda tersenyum.
"Gue rencana mau ganti dirumah lo, yuk temanin gue ganti baju dulu." ajak Amanda menarik Tanaya menuju mobilnya, mereka kembali kerumah Tanaya.
"Tapi cepetan ya Man, gue buru-buru, hari ini gue piket." tekan Tanaya ketika Amanda memakai seragamnya.
"Gila lo, ini masih jam enak Nay!" heran Amanda melotot.
"Yaudah, gue tunggu didepan aja ya, lo buruan." Tanaya segera meninggalkan Amanda yang masih merias wajahnya.
Tanaya membola, ketika membuka pintu ia mendapati Byan yang tengah berjalan mendekat.
"Kakak pagi-pagi gini ngapain?" tanya Tanaya bingung, harusnya tadi ia tak setuju Amanda berganti dirumahnya.
"Tolong setrika seragam gue," titah Byan menyodorkan seragamnya yang tanpa dibungkus apapun.
"Kenapa dibawa kesini, lo orang kaya' kan? Emang gak---"
"Kalo gue suruh ya nurut aja," potong Byan menajamkan tatapannya.
"Yaudah, tunggu diluar." Tanaya meraih seragam Byan dan membawanya kedalam saat hendak menutup pintu Byan menahannya dan malah ikut masuk ke dalam.
"Kak Byan, nanti diliat tetangga, jangan sampai mereka fikir kita ngelakuin yang aneh-aneh." ucap Tanaya menahan Byan sebelum masuk lebih jauh.
"Kan memang kenyataannya lo udah gue rusak' kan?" balas Byan menatap Tanaya datar.
Tanaya menunduk, lagi lagi perasaan hancur melilit tubuhnya, sungguh perkataan Byan menusuk batinnya.
"Apa?!"
Byan dan Tanaya menoleh bersamaan, terlihat Amanda yang menganga serta melotot tak percaya dengan penuturan Byan barusan.
"Jadi lo udah gak suci lagi Nay?"
Tanaya menunduk, ia memejamkan matanya dalam-dalam, semakin ia tertekan dengan ucapan Amanda.
"Gue fikir lo cewe baik-baik!"
"Ternyata lo murahan ya."
"Pantes lo bisa pacaran sama Byan, ternyata udah ngasih jatah buat dia."
"Lo ngasih mahkota lo karena modal ketampanan dia?!"
Tanaya menutup telinganya tak mau mendengar ucapan Amanda yang begitu menghancurkan perasaannya.
"Lo kotor banget Nay!"
"Sial, selama ini gue berteman dengan manusia menjijikkan."
"Maaf kak Byan, aku gak bakal bocorin kok rahasia kalian berdua. Semoga langgeng ya." Amanda meninggalkan rumah itu dengan wajah merah padam, sungguh ia kecewa dengan Tanaya yang sudah ia anggap sahabat selama ini.
"Sekarang gimana kak Byan? Rahasia ini udah diketahui Amanda, ini gak bakal bertahan lama lagi." Tanaya merosot kelantai, bersandar dikaki sofa dengan air mata yang sudah bergenang.
"Gue sih gak perduli." acuh Byan menggidikkan bahunya tanda tak perduli.
"Lo sendiri' kan yang mancing gue ngomong." lanjut Byan tanpa beban.
"Gue tunggu di mobil, lo gak keluar dalam lima menit, gue bakal tutup telinga buat setiap permohonan lo atas perlakuan gue nantinya." Byan meninggalkan Tanaya yang masih dalam keadaan menangis.
Byan menghela nafas panjang, ia masuk kedalam mobilnya, tak sedikitpun kejadian barusan membebani fikirannya, ia terlihat baik-baik saja.
Sudah lima menit Byan menunggu, Tanaya tak juga keluar, habis sudah kesabaran Byan, ia keluar dari mobil dan membanting kuat pintu mobilnya.
"Kayaknya dia harus dikasih pelajaran, gue gak pernah dibuat nunggu sedetik pun bahkan sama orangtua gue!" murkanya membuka pintu kasar.
"Tanaya!" panggilnya membuat seluruh ruangan itu bergema. Byan mencari Tanaya di ruang tamu tempat dimana tadi gadis itu menangis, tapi Tanaya sudah tidak ada disana.
"Apa Byan?" jawab Tanaya dari dalam kamar.
"Gue bilang gue tunggu lima menit!" bentak Byan mendobrak pintu kamar Tanaya hingga terbanting kuat, bahkan gagang pintu bagian dalamnya sampai copot membuat Tanaya membelalakkan matanya.
"Terus baju lo gimana?! Emang dia bisa rapi sendiri!" Tanaya menggebrak meja dimana seragam Byan yang tengah ia setrika.
Byan hanya diam, mau marah tapi ia yang salah, ia tak lagi punya kata-kata untuk membela dirinya.
"Makan tuh kan lima menit!" Tanaya melemparkan seragam itu tepat mengenai wajah Byan, segera keluar meninggalkan Byan yang telah memasang wajah murka.
"Tanaya!"