The Girl Is Mine

The Girl Is Mine
Hidung Bapak Lo!



"Lo tau sendiri, status lo yang diketahui orang sekarang adalah pacar gue. Jadi gue minta lo jangan dekat-dekat laki-laki manapun atau terkesan murahan, ngerti lo?" Byan berucap pelan ketika mengantarkan Tanaya sampai dipintu kelasnya.


"Gue gak murahan kak Byan." Tanaya menatap malas pada Byan.


"Cium pipi gue."


"Apa?" Tanaya terbelalak, bagaimana tidak, permintaan Byan terlalu gila bukan.


"Cium pipi gue, Tanaya!" tekan Byan menajamkan tatapannya.


"Stres." Tanaya membalikkan badannya, sedikit berlari sebelum Byan menariknya.


Tanaya menoleh, sudah tak terlihat Byan disana, Tanaya menghela nafas lega, ia terkejut ketika Reni duduk disampingnya.


"Hai Nay." sapa Reni tersenyum.


Tanaya hanya tersenyum kikuk, ia menatap Amanda yang enggan menatapnya, Tanaya menggigit bibirnya, ia memilih melamun selagi menunggu guru mata pelajarannya datang.


"Tumben lo tengkar ama Amanda." singgung Reni membuat Tanaya terkejut.


"Dia ngomong apa?"


"gak ada sih, cuma katanya lagi malas aja duduk disampingnya lo." jawab Reni menatap Tanaya bingung, pasalnya wajah Tanaya tampak ketakutan.


"Pagi semua." Eman dan Nina masuk kedalam kelas itu membuat mereka yang tadinya berisik dan jalan-jalan langsung diam dan mengambil tempatnya masing-masing.


"Pagi kak." jawab mereka kecuali Tanaya dan Amanda. Tidak janjian dan tidak saling pandang namun bisa bersamaan.


"Izin mengambil waktunya sebentar, kakak ada disini untuk memberi ruang pada adik-adik yang berminat untuk menjadi OSIS seperti kakak." Eman berucap lantang.


"Disini kakak memerlukan orang-orang yang mau diajari kedisplinan, pertanggungjawaban, tata bahasa yang baik dan sopan serta lainnya." lanjut Eman tampak serius, begitu juga pendengarnya.


"Kira-kira ada yang berminat?" tanya Nina tersenyum manis.


"Kalau mau ayo angkat tangan, kakak gak makan orang kok." lanjut Nina saat tak ada yang bersuara.


"Saya kak."


"Saya mau kak."


ucap Gaby dan Amanda, melihat sahabatnya angka tangan, Tanaya juga ingin ikut mendaftar.


"Baiklah, hanya dua orang, yang laki-laki tidak ada?" tanya Nina menatap laki-laki yang ada disana.


"Baiklah, terimakasih untuk waktunya." Eman dan Nina keluar dari kelas itu, lima detik kemudian Tanaya keluar menyusul keduanya.


"Kak!" panggil Tanaya hingga keduanya menoleh.


"Ta - Tanaya' kan?" tanya Nina menebak.


"Iya kak, hehe. Masih bisa mendaftar kak?" tanya Tanaya tersenyum kikuk.


Eman tersenyum lebar, bahagia sekali rasanya Tanaya ikut bergabung, ia menyayangkan dirinya yang kini sudah kelas XII, jika masih kelas XI, akan banyak momen yang akan mereka lalui.


"Bisa, bentar ya." Nina menulis nama Tanaya pada kertas yang ia bawa.


"Makasih kak."


*


*


*


*


Byan, Zean, Revan dan Afdi tengah berjalan menuju ruang ganti, mereka baru saja selesai pelajaran olahraga, terlihat dahi mereka yang masih bercucuran keringat serta baju mereka yang basah.


"Lo liat aksi gue, kasih tau rating gue berapa dalam ngerayu cewek." ujar Byan menyingkirkan tangan Zean dari pundaknya dan segera berjalan menghampiri Tanaya yang tengah membawa beberapa buku.


Byan kini menghadang jalan Tanaya, berdiri dihadapan perempuan itu yang kini tengah mendongak.


Tanaya hanya memasang wajah malas, ia tampak menghela nafas pelan, menatap bosan pada Byan yang hanya memandanginya.


"Cium gue Tanaya." tiba-tiba Byan berucap membuat Tanaya tercengang.


"Lo gila kali ya, gue nyium elo? Heh, lo memang stres apa sakit jiwa? Dulu pas lo bayi minum teh manis kali ya, bukannya ASI!" celoteh Tanaya yang jelas menolak keras.


"Coba lo ulangi semua apa yang lo bilang barusan." wajah Byan berubah dingin, tatapannya tampak tajam dan mematikan.


Tanaya berubah gugup, ia berjalan mundur saat tatapan Byan sangat menusuk.


Melihat Tanaya mundur, Byan ikut maju, terjadilah aksi mundur dan maju hingga perempuan itu akhirnya mentok didinding, Byan menaruh tangan kanannya dinding, tatapannya tak bergeser dari mata Tanaya.


"Kalo lo gak bisa, sekarang juga ..., gue bakal sebarin video itu!" ancam Byan membuat Tanaya tercengang, apa katanya barusan, apa Byan benar-benar marah.


"Baiklah, akan gue ulangi, hmm maksudnya akan aku ulangi." Tanaya berdehem mengatur suaranya.


"Lo stres, maksudnya lo gila, lo juga stres, lo sakit jiwa nyuruh gue nyium elo. Udah, gue tadi bilang itu." Tanaya menatap Byan sebentar kemudian langsung mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Tadi gak gitu Tanaya!" Byan mencengkeram lengan Tanaya.


"Ya tapi bagian itu ada semua." bantah Tanaya tak mau kalah.


"Lo bisa ingat dan ulangi secara sempurna atau lo bisa cium pipi gue sekarang?" tanya Byan sepertinya membuat pilihan.


"Kalo lo gak bisa melakukan keduanya, maka video ini ..., akan gue sebarin." Byan menunjukkan ponselnya yang layarnya mati, namun cukup jelas ancaman apa yang dimaksud Byan.


"Yaudah, gue milih ngulangin kata-kata gue, maksudnya aku, ahk!" kesal Tanaya.


"Lo gila, lo stres kak Byan, lo sakit jiwa, emm lo pokoknya gila, udah itu." Tanaya berlagak sok, ia berusaha santai saat mata Byan tetap dingin menatapnya.


"Oke, berarti lo milih video ini tersebar." Byan membuka ponselnya, namun tangan Tanaya langsung merebut ponsel itu.


"Kak Byan, stop mengancam aku dengan video ini. Kakak tau ini sebuah harga diri! Seharusnya kak Byan gak mainin ini untuk segala situasi!" Tanaya menatap Byan bengis, sungguh ia sedikit resah setiap permintaan Byan berakhir ancaman.


"Jadi pilihan lo, apa?"


Tanaya membulatkan matanya, sungguh bebal manusia satu ini "gue bakal cium elo, tapi janji gak Ngancam gue seminggu aja, gimana?" Tanaya merapikan rambutnya yang diterpa angin.


"Dua hari." Byan masih saja dingin.


"Empat hari, plisss ...?" tawar Tanaya tampak memohon.


"Yaudah," Byan melepaskan tangannya dari dinding, ia berdiri tegak dihadapan Tanaya, menunjuk pipi kanannya dengan jari telunjuknya.


Tanaya menghela nafas panjang, ia menatap pipi Byan kemudian bola mata pemuda dihadapannya itu.


Plak!


"Bye!" Tanaya berlari sekuat tenaga, tak lupa ia menampar kuat pipi Byan sampai pemuda itu terlihat sangat terkejut, ia memegang pipinya dan menatap sekeliling, ia melihat teman-temannya yang sedang menertawainya.


Byan beralih pada Tanaya yang kini sudah hilang ditelan belokan "kita liat aja nanti." Byan tersenyum miring.


Byan menghampiri sahabatnya yang masih saja menertawainya.


"Ratingnya 0 dari 1." singgung Revan kembali tertawa.


"Sabar bro, lo memang ganteng kok, dia aja yang seleranya om om." lanjut Afdi menepuk punggung Byan.


"Gue congkel juga hidung bapak lo!"