
"Enak' kan cuci mata?"
Tanaya mengangguk sembari tersenyum, ia fokus menatap pemuda yang tadi Amanda ambil gambarnya secara diam-diam.
"Dia senyum! Dia senyum. Anjj! Ganteng batt!" Amanda memekik tertahan, Tanaya ikut tersenyum melihat pemuda itu tampak tersenyum manis sehingga memperlihatkan gingsulnya.
"Diantara temennya, gantengan dia." puji Tanaya tersenyum tipis.
"Awwhh ...!"
Amanda meringis kesakitan, ia melirik seseorang yang menarik telinganya kuat, dan orang itu tak lain adalah Zean.
"Mau mati?" tanya Zean melepas tangannya dari telinga Amanda yang langsung memerah.
"Eh, Tanaya mana?"
Amanda menatap sekeliling, akhirnya ia mendapati Tanaya yang berada di kejauhan, tampak Byan menyeret Tanaya dengan kasar, juga tersirat kemarahan diwajah pemuda itu.
"Kayaknya gue salah ngajak dia liat cogan." gumamnya kasihan dengan Tanaya yang mendapat perlakuan kasar.
"Kamu dihukum!" Zean juga kini menarik tangan Amanda tanpa adanya kekasaran, pasalnya tak ada pemberontakan seperti yang dilakukan Tanaya hingga membuat Byan menjadi sangat kasar.
"Maaf Kak, iya, aku salah." Tanaya menundukkan kepalanya.
"Nay, apa wajah ini masih kurang? Atau kamunya aja yang gak bersyukur?" tanya Byan tersulut emosi.
"Gimana perasaan kamu kalo aku khusus datang ke taman dan liat-liat perempuan seksi yang berlalu lalang?!"
"Maaf Kak! Ini' kan bawaan PMS." Tanaya mengelak.
"Ouh, jadi tiap kamu PMS, aku harus menyediakan laki-laki tampan yang banyak, gitu?!"
Tanaya menggeleng, ini semua tidak benar, tadi itu hanya bercanda, ia tak benar-benar menikmati.
"Diam, jangan bicara!"
Byan segera keluar dari mobilnya, Tanaya terkejut ketika Byan membanting pintu mobil itu dengan sangat kencang.
"Maafin aku Kak, aku yang ngajak dia tadi." Amanda memberanikan diri mengangkat suara.
"Kalo marah pelampiasannya jangan seolah mau cari yang baru, kami juga laki-laki punya kemauan yang sama, kami juga bisa melakukannya, tapi rasanya itu salah, jangan diulangi lagi, okay?" Zean mengelus rambut Amanda, ia tahu apa yang Amanda lakukan tadi hanyalah sebuah pelampiasan.
Amanda mengangguk, ia sungguh menyesal sekarang.
"Sayang ...?!"
Amanda mendorong pinggang Zean, ia menatap nanar ponselnya yang dilempar begitu saja oleh Zean.
"Licin." ucap Zean santai.
"Lu balik aja, kita masih mau nongkrong." Revan menepuk pundak Byan.
"Tapi g---"
Revan melotot tajam pada Afdi yang mampu membuat pemuda itu langsung kicep, Afdi tersadar bahwa itu kode supaya Byan pulang berdua dan menyelesaikan masalahnya dengan Tanaya secara pribadi saja.
"Ntar nebeng mobil gue dah." timpal Amanda semangat.
Byan menganggukkan kepalanya, ia hanya diam hingga akhirnya masuk ke dalam mobil dan segera pergi dari sana.
"Harusnya lo gak biarin mereka pulang berdua," Zean angkat suara.
"Byan itu emosian, gak ada yang tau kalo dia berbuat kasar." lanjutnya menatap kosong.
"Ya terus mau sampai kapan Tanaya dibantuin?" tanya Amanda sedikit mendongak.
"Kamu diem, gak usah caper. Masuk mobil sana!" ketus Zean menatap Amanda tajam.
"Apaan sih, tiba-tiba berubah." Amanda berjalan kearah mobilnya dengan kesal.
_____________________________
Tanaya menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya tanpa menimbulkan suara, ia menoleh pada Byan yang menatap lurus ke depan.
"Aku turun," ucapnya hendak membuka pintu mobil.
"Buka kuncinya Kak." lanjut Tanaya ketika pintu mobil itu tak bisa dibuka.
"Buka sendiri, jangan manja."
Tanaya mendelik, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, menatap heran pada Byan yang masih setia menatap lurus ke depan.
"Kakak masih mau ngomong?" tanya Tanaya kembali bersandar.
"Kita bisa menikah besok kalo kamu mau, sebenarnya tempatnya udah aku desain dari minggu lalu, jadi tinggal persetujuan kamu aja."