The Girl Is Mine

The Girl Is Mine
Ayam penyet



Byan dan Tanaya sedang dalam diperjalanan menuju rumah Tanaya, mereka kini berada ditengah-tengah kemacetan jalanan yang lumayan panjang.


Drtt!


Drtt!


Byan meraih ponsel Tanaya "Amanda," ucapnya menyodorkan benda itu pada Tanaya.


"Halo Man?" Tanaya mengangkat panggilan itu.


"NAYY!!"


"Ahk!" ringis Tanaya ketika Amanda berteriak dari sebrang, ia mengusap telinganya yang panas akibat suara toa Amanda.


"Apaan Man?" tanyanya kesal, Byan yang melihatnya menghela nafas pelan, perempuan memang suka cari gara-gara, tak bisakah berbicara pelan, haruskah seperti monyet dihutan sana yang suka berteriak, eh monyet teriak apa nggak sih?


"Ada orang tadi nelpon gue, lo tau dia ngomong apa?!!" tanya Amanda masih memekik.


"Ngomong apa?" tanya Tanaya dilanda rasa kesal, kemasukan setan kali, batinnya menanggapi tingkat Amanda.


"Kan lo sama Kak Byan dah nyebar kalo kalian pacaran, trus ..., kan gue juga udah beredar lagi dekat sama kak Zean, kata perempuan yang nelpon gue barusan, kita pake pelet, Nay!" Amanda semakin memekik kencang.


"Kirim nomornya."


ucap Byan seketika membuat Amanda berhenti berteriak, Tanaya menoleh bingung, Byan mau apa?


"Lo sama Kak Byan?" tanya Amanda berbisik, namun Byan masih mendengarnya.


"Iya, lo kirim nomor yang nelpon tadi." ucap Tanaya mengikuti ucapan Byan.


"Sumpah Nay! Dia dengar gue teriak-teriak? Dia pasti nyangka gue gila, ya?" tanya Amanda semakin mengecilkan suaranya, namun tetap saja terdengar jelas ditelinga Byan.


"Dari dulu dia juga tau, udah buruan kirim!" titah Tanaya memaksa.


"Yaudah, gue tutup ya, daa Naya."


tut!


"Ini kak," Tanaya menunjukkan layar ponselnya pada Byan.


"Eh, jangan diambil. Mau aku pake dirumah." Tanaya menempelkan ponselnya didada ketika Byan hendak mengambilnya.


"Yaudah kirim ke no aku." ucap Byan membiarkan Tanaya mengambil ponselnya, padahal tadi niatnya masih ingin menahan ponsel Tanaya.


"Udah tuh,"


*


*


*


*


Ranaya menerima ice dream dari Rafa, ie menjilatinya dengan nikmat "Cobalah Raf, ini enak." tawarnya dengan mata berbinar.


"Gigiku sensitif," jawab Rafa tersenyum tipis.


"Tentang kerja sama kita, aku suka gambarmu saat menungguku meeting tadi." Rafa mengalihkan pandangannya ketika melihat mulut Ranaya yang belepotan oleh ice dream.


"Ehm, ya ..., aku sedikit berbakat." Ranaya terkekeh.


"Tidak sedang bercanda Raf?" tanya Ranaya tak percaya.


"Bisa aku meminta kertas tadi?"


"Emm, baiklah." Ranaya mengeluarkan kertas yang ia lipat dari dalam tasnya, ia menyodorkannya pada Rafa dan diterima oleh pemuda yang ia taksir itu.


"Aku akan senang jika kita juga mencoba bekerja sama dibidang ini, soal pekerjaan lamamu, bisa resign saja?" tanya Rafa tanpa pertimbangan.


"Sebenarnya aku memang sedikit mengeluh dengan pekerjaanku ditempat itu, selain jarak yang jauh dari adikku, aku juga kesusahan akan tugasku yang selalu berpindah tempat, apalagi dulu aku masih belum punya kendaraan," terang Ranaya tak lupa melahap ice cream yang perlahan tandas.


"Tapi aku tak yakin bisa mendapatkan pekerjaan lain jika kerja sama kita gagal atau bahkan bubar." lanjutnya menunduk, ini kesempatan yang bagus untuk semakin dekat dengan Rafa, tapi ia tak yakin bisa menghidupi ia dan adiknya karna kerja sama mereka tak ada kepastian berjaya dan bersifat tetap.


"Ranaya, percayalah pada sesuatu yang pantas untuk dipercayai." balas Rafa memilih ikut duduk disamping Ranaya, pasalnya ia lelah juga hanya berdiri saja.


"Beri aku waktu, mau minta keputusan Tanaya." Ranaya bangkit berdiri "ayo pulang." ajaknya dengan semangat, Rafa mendengus, baru saja ia duduk.


Keduanya menuju mobil Rafa yang terparkir, perlahan mobil itu meninggalkan area taman dan segera menuju jalan pulang.


Tak berselang lama, akhirnya mereka sudah sampai dirumah Ranaya, keduanya turun bersamaan, diwaktu yang sama, terlihat mobil Byan yang baru saja berhenti didepan rumah itu juga, tampak Byan turun dan membukakan pintu untuk Tanaya.


"Ahk, adegan itu tertinggal, tapi tadi dia memang langsung keluar." batin Rafa merasa sial.


"Kakak baru sampai?" tanya Tanaya menghampiri Rafa dan kakaknya, Byan menatap Rafa tajam pasalnya Tanaya meninggalkannya begitu saja, tapi kenapa Rafa yang ditatap begitu?


"Kapan balik ke Jakarta ..., emm Kak?" tanya Byan merasa cangggung, aneh, padahal kemarin ia cukup dekat bahkan bersikap sok angkuh dihadapan Ranaya.


"Belum tau, oh ya Tanaya, kakak mau bicara soal Jakarta dan pekerjaan kakak." ucap Ranaya beralih dari Byan.


"Hmmm, masih lama. Gue mau Tanaya tidur dirumah gue." keluh Byan mengeluh dalam batin.


"Ini, Rafa teman kakak, dia meminta kakak bekerja sama dengannya dan meminta kakak resign dari pekerjaan kakak yang ada di Jakarta, bagiamana menurutmu?" tanya Ranaya meminta pendapat.


"Tapi kakak bukan tukang tipu' kan?" tanya Tanaya hingga Rafa membulatkan matanya.


"Hus! Gak sopan." tegur Ranaya melotot, ia jadi tak enak karena lontaran pertanyaan gila dari adiknya.


"Hmmm, maaf. Tapi terserah kakak, apa yang menurut kakak baik. Tapi pacar kakak yang ada disana, kakak sudah bertanya padanya?"


Rafa menatap Ranaya kaget, jadi perempuan yang ia sukai ini sudah punya pacar? Ini lebih sulit dari yang ia duga.


"Yang kemarin itu?" tanya Tanaya saat kakaknya tidak menyahut.


"Itu hanya teman kencan, kami tidak cocok, ditambah dia sudah menghilang. Kakak hanya coba-coba dan ternyata dia penipu, dia berani sekali meminta jatah!" bisik Ranaya saat sampai pada kalimat terakhirnya.


"Astaga," Tanaya menutup mulutnya.


"Aku pulang, kamu masuk, besok aku jemput." Byan memasang wajah datar, rasanya kehadirannya sudah tak ada gunanya, ia memilih pulang duluan.


Rafa menatap punggung Byan yang masuk kedalam mobil, sadar bahwa ia perempuan sendiri ia juga ikut pamit pulang.


"Astaga Kak Byan!" pekik Tanaya menepuk jidatnya.


"Apa Tanaya?" tanya Ranaya khawatir, ia menghampiri adiknya yang masih berdiri diambang pintu.


"Dia nyuri ponsel aku dari dalam tas!" teriak Tanaya cemberut, ia menghentakkan kakinya kesal, kenapa diambil lagi, bukankah tadi Byan sudah mengembalikannya.


"Kamu mau kakak ubah jadi ayam penyet?"