The Girl Is Mine

The Girl Is Mine
"Mau dibanting?"



"Gue dengar lo punya pacar."


Byan membalikkan badannya, ia mengendus kala akhirnya menemukan Farel, saudaranya ditengah keramaian.


"Gimana keadaan Jakarta, masih indah setelah kak Arum pergi?" ?" tanya Byan sedikit terkekeh, berbalik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Farel.


"Lo bisa suka perempuan? Kata Ayah lo sukanya sama Zean," balas Farel yang kini tersenyum mengejek.


"Gue masih mending, karna itu fitnah, dari pada elo yang sok romantis dibawah hujan tapi malah masuk lobang."


Farel memasang wajah datar, kenapa candaan Byan selalu mengarah pada masa lalunya, ia sedang berusaha melupakan itu semua.


"Pacar lo perempuan' kan? Kenalin ke gue." Farel segera melangkah mendahului Byan, ia melirik arlojinya dan semakin mempercepat langkah.


"Lo fikir gue mau ngenalin lo sama Tanaya, mungkin aja setelah ditinggal Kak Arum lo jadi tukang nikung." batin Byan mengikuti Farel dengan langkah santai.


Mereka berdua memasuki mobil, Farel mengambil kursi kemudi, ditengah perjalanan mereka hanya diam, Byan sibuk dengan ponselnya sementara Farel fokus pada jalanan.


"Serius, Kak Arum kabur kemana?" tanya Byan ketika Farel memarkirkan mobil Byan digarasi rumahnya.


"Jawa timur." jawab Farel datar.


"Eh, bukannya kita di Jawa Timur juga ya?" tanya Byan sembari turun dari mobil.


"Jawa timur luas Byan, dia di Blitar." jawab Farel melirik Byan malas, begitulah Byan jika awal berjumpa, banyak berbicara, namun ketika beberapa saat kemudian, Byan menjadi dingin bahkan tak meresponnya jika diajak bicara.


"Ini kalo mau ketemu Feby, jangan kasih dia keluar, dia dalam proses hukuman." Byan melempar kunci dan ditangkap oleh Farel dengan satu tangan, Byan sedikit berlari memasuki rumah besar itu.


Byan segera berlari ke kamarnya, ia membuka pintu dan langsung melihat pemandangan dimana Tanaya terlelap diatas sofa dengan posisi duduk.


Byan segera mengunci kamarnya, ia menghampiri Tanaya dengan senyum dibibirnya, duduk disamping Tanaya dan memperhatikan perempuan itu lebih dekat.


"Aneh rasanya jika sekarang kamu adalah pacar seorang Byan." gumam Byan tersenyum tipis.


"Udah lama aku gak pernah suka sama seseorang, terakhir kali waktu SMP kelas dua, aku menyukai gadis cantik yang begitu manis, tapi ternyata dia punya banyak pacar dan selalu memberi kenikmatan pada masing-masing pacarnya." batin Byan memutar fikirannya kembali pada masa-masa sekolah menengah pertama.


"Kamu bukan gadis seperti itu, bukan?" tanyanya menelusuri setiap inci wajah Tanaya.


"Harus mencari tau siapa yang pernah menjadi pacarmu, termasuk laki-laki dengan nama Dean itu!" Byan memalingkan wajahnya, ia kembali bangkit dan keluar dari kamar.


Sengaja membiarkan Tanaya disana agar gadis itu tidak sadar bahwa ia tadi sempat masuk.


Byan melihat pintu kamar Feby yang terbuka lebar, ia berharap Farel tak lupa dengan pesannya, jangan bilang ia lupa mengunci kamar dan membiarkan Feby untuk kabur.


"Kak Byan ngurung aku Kak, aku gak ada ngapa-ngapain, dia cuma ngarang cerita."


Byan membulatkan matanya, Feby sedang mencoba mengadu yang tidak-tidak pada Farel.


"Mungkin dia mau minta yang aneh-aneh sama Kak Tanaya makanya jadiin alasan sembarangan biar bisa ngurung aku."


Byan semakin membulatkan matanya, ia segera masuk dengan wajah dingin, ketika melihat kehadirannya, Feby langsung kaget dan segera bangkit berdiri.


"Apa tadi kamu bilang?" tanya Byan melayangkan tatapan tajam pada Feby.


"Coba jelaskan apa alasan kamu ngurung dia?" Farel ikut berdiri ketika Byan mencoba mendekati Feby.


"Mau kakak kurung digudang, Feby?" tanya Byan mengacuhkan Farel.


"Ayah pernah bilang, kakak berhak atas apapun dirumah ini, termasuk menghajar kamu kalo memang kamu salah!"


Feby menunduk, hanya ibunya yang bisa menyelamatkannya, sebenarnya kedua kakaknya ini tidak ada bedanya, jika nanti Farel tau ia yang salah, pasti ia akan semakin dihajar, tapi ibunya, selalu membelanya untuk hal apapun, kecuali ayahnya juga ikut turun tangan, jika seperti itu, makanya ibunya juga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Feby minta maaf Kak, Feby siap dikurung lagi." lirih Feby tak berani menatap mata Byan.


"Feby! Apa kamu tadi berbohong?" suara berat Farel berhasil mengejutkan Feby, Byan yang melihatnya memilih pergi, biar Farel yang melanjutkannya, memang adiknya ini tidak bisa diatur, berani sekali berbicara serta menuduhnya yang tidak-tidak.


Byan mengurungkan niatnya yang hendak turun tangga, ia kembali berbalik dan menghampiri kamarnya, ia membuka pintu dan mendapati Tanaya yang dengan wajah khas bangun tidur.


"Aku mau pulang." ucap Tanaya dengan suara serak.


"Tidur disini aja, aku mau bicara penting, bersangkutan dengan Dean. Dean' kan namanya?" tanya Byan masuk dan menutup pintu kamarnya.


"Aku gak mau tidur disini, aku mau pulang, soal Dean, aku gak mau bahas dia." jawab Tanaya dengan kesal.


"Ponsel aku juga, balikin." Tanaya menghiraukan tatapan dingin Byan, ia benar-benar ingin pulang, ditambah kakaknya sedang ada dirumah, jarang kakaknya itu bisa pulang ke Malang, ia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Ranaya.


"Kamu mau aku kasar?" tanya Byan bersandar pada pintu.


"Kak Byan gak akan marah kalo kita bahas Dean, kak Byan juga gak bakal macam-macam' kan sama dia?" tanya Tanaya tak ada pilihan untuk menolak, sebaiknya ia memastikan saja bahwa akhir dari permintaan Byan bukanlah sebuah petaka.


"Mantan kamu berapa?"


"Bilang iya dulu kan Byan!" kesal Tanaya menatap sinis.


"Iya,"


Tanaya menghela nafas panjang, kurang meyakinkan tapi terserah, yang penting ia bisa pulang.


"Mantan aku ada ..., satu. Cuma Dean." jawab Tanaya melipat tangannya.


"Cuma Dean?"


Tanaya mengangguk mantap, ia memang cuma pacaran sekali, itupun cuma main-main, karena mereka dekat jadi Dean meminta untuk pacaran, agar ada sebuah ikatan dan tidak saling meninggalkan.


Tapi saat dalam hubungan, keduanya mencoba untuk saling romantis, walau berakhir adu mulut hingga ujian semester tiba, dan mereka memilih untuk putus agar tidak mengganggu dan fokus pada ujian.


"Iya Kak Byan, tapi cuma main-main. Karna kamu dulu akrab banget, kata Dean, takut aku pergi, jadi dia bilang gimana kalo kamu pacaran, yaudah deh, aku terima." terang Tanaya mendekati Byan, memegang gagang pintu dan hendak membukanya.


"Tidur dirumah aku, Tanaya." dingin Byan yang mengetahui niat Tanaya.


"Berdua dikamar Feby." lanjut Byan.


"Nanti aja kalo Kak Ranaya udah pulang ke Jakarta, aku mau senang-senang dulu sama dia." Tanaya mengerucutkan bibirnya.


"Aku gak punya simpati untuk kamu, jadi keputusan aku gak berubah, kita pulang bentar ke rumah kamu buat ambil baju dan seragam sama perlengkapan sekolah lainnya." Byan menggenggam tangan Tanaya dan membawanya keluar kamar.


"Eh, itu siapa kak Byan?" tanya Tanaya menatap Farel yang baru keluar dari kamar Feby.


"Sial, kenapa lupa?!" Byan menutup mata Tanaya kasar, menatap Farel dengan tajam.


"Pacar lo?" tanya Farel menunjuk Tanaya.


"Ini punya gue!" tekan Byan dengan ketus, ia memapah Tanaya menuruni anak tangga, meski Tanaya terus minta dilepas dan melayangkan seribu pertanyaan, Byan hanya diam dan terus membawa Tanaya keluar dari rumah.


"Aku antar kamu pulang, tidur dirumah aku lain kali aja." ucap Byan melepaskan tangannya dari mata Tanaya, tampak mata Tanaya berbinar-binar karena bahagia dengan keputusan Byan.


"Kamu imut deh," pujinya tersenyum lebar.


"Mau dibanting?"


*


*


*


*


Jejak sukarela