
Byan tengah menikmati tidurnya, padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan kurang, ia lupa memasang alarm.
Drtt! Drttt! Drtt!
"Arggh!" Byan menggaruk kepalanya kesal, ia mengucek kedua matanya dan langsung mengubah posisi menjadi duduk, ia meraih ponselnya yang berada di ujung kasur.
Alrafa
"Ya, apa?!" ngegas Byan kesal.
"Maaf, apa gurumu sudah datang?" tanya Rafa dari sebrang. Byan menatap jam dinding yang membuat ia melotot seketika.
"Astaga, aku tutup telfonnya, aku harus mandi!" ucap Byan melempar ponselnya, ia segera mengesot untuk turun dari kasurnya.
"Byan, dengarkan aku dulu, ini penting mengenai Tanaya dan juga kakaknya!"
Byan menghentikan langkahnya, ia kembali naik ke kasur dan mengambil ponselnya serta mendekatkannya ke telinganya.
"Sepenting apa, aku sudah terlambat menjemput Tanaya!" jawab Byan cukup penasaran.
"Lupakan dia, pasti pacarmu itu sudah berangkat sendiri. Dengarkan aku, kedua perempuan itu punya saudara laki-laki tertua."
Byan menaikkan sebelah alisnya, dari mana Rafa tau, tapi itu cukup masuk akal secara ia belum meneliti Tanaya sampai keseluk belum keluarganya.
"Kau tau apa yang lebih mengejutkan?"
"Apa! Sial, lo kenapa ganti bahasa! Kau, kau, kau! Cepat ceritakan!" umpat Byan tak sabaran.
"Saudara laki-laki ini tidak mereka akui, itu disebabkan karena laki-laki ini terus hendak menjual Ranaya dan Tanaya, sejauh yang aku telusuri, laki-laki itu tidak pernah berhasil, tapi tidak tau kebenarannya."
Byan menjatuhkan ponselnya, Tanaya masih suci' kan? Bukannya tak menerima Tanaya, ia akan tetap mempertahankan Tanaya, tapi bukankah rasa bahagia itu berkurang ketika tahu pasangan kita sudah duluan dilihat orang lain.
"Apa dia memang saudara kandung Tanaya dan kakaknya?" tanya Byan kembali meraih ponselnya.
"Entahlah, sebaiknya tanya langsung pacar lo itu, gue belum cocok nanyain hal kek gitu sama Ranaya."
tut!
Byan memutuskannya secara sepihak, mungkin disebrang Rafa tengah mengumpat sekarang, Byan segera tergesa menuju kamar mandi, segera membersihkan tubuhnya dan siap untuk pergi ke sekolah.
"Belum berangkat Byan?" tanya Farel yang menikmati pizza diruang tamu.
"Menurut mata lo?" tanya Byan jelas tak sopan.
Dilain sisi Tanaya terus mengirim sumpah serapah untuk Byan, demi apapun ia kesal sekali dengan pemuda yang statusnya adalah pacarnya.
Ia harus menanggung malu berdiri dihadapan bendera dan menghormat dibawah panasnya sinar matahari pagi, ia dihukum kala datang terlambat ke sekolah dan itu semua karena Byan yang katanya akan menjemput tapi tak kunjung sampai dirumahnya.
Akhirnya apa, ia kesusahan mencari taxi, jalan kaki juga pasti akan lebih parah dan lebih lama sampai, ia fikir dengan taxi ia akan selamat, nyatanya ia tetap terlambat kala terjebak macet dijalan.
Beberapa orang berbisik sembari menatapnya yang terus terpanggang sinar matahari.
"Astaga sayang!" pekik Byan yang melihat Tanaya dari kejauhan, ia segera berlari mendekatinya, membalikkan tubuh Tanaya agar menghadap ia sepenuhnya.
"Kak Byan," kaget Tanaya sedikit mendongak, tubuh kekar Byan jelas lebih tinggi darinya.
"Maafin aku Nay, aku telat bangun. Kamu sih gak hubungin aku." protes Byan tanpa dosa.
"Kak Byan manusia durjana ...! Hp aku dicuri Tuyul semalam," Tanaya kembali membalikkan tubuhnya menghadap bendera, muak melihat wajah Byan yang sok suci.
Byan menepuk jidatnya, ia lupa ponsel Tanaya ada padanya, ia kini memindahkan tubuhnya untuk berpindah kehadapan Tanaya.
"Mending cabut Kak, nanti dilihat guru mapel aku yang ada hukuman aku ditambah." ketus Tanaya melirik kesal pada Byan.
Mendengar penuturan Tanaya, bukannya pergi Byan malah menarik tangan Tanaya dan menyeretnya kasar, meski memberontak Byan tetap membawa Tanaya yang kini berada dipintu kelas X IPA².
"Maaf Bu, dia telat diakibatkan oleh saya yang terlambat menjemputnya, ban mobil saya pecah dijalan tadi Bu," jelas Byan ketika guru itu melihat kearah mereka.
"Byan, ibu tidak menerima alasan," jawab guru itu tampak jengah, ia dibuat emosi oleh siswa-siswi kelas tersebut karena sangat berisik dan tidak mendengarkannya.
"Kalo tidak boleh masuk boleh saya membawanya, ke UKS, dia tadi sudah oleng dan hampir pingsan Bu,"
Tanaya membola, Byan berbohong lagi, ia hendak protes tapi Byan dengan sigap memasukkan permen karet masih dengan bungkusnya kedalam mulutnya.
"Baiklah Tanaya, ibu mempertimbangkan ucapan Byan, tapi kau tetap tidak boleh mengikuti pelajaran, ibu akan mengganti absenmu menjadi izin, kau boleh istirahat." terang guru itu membuat Tanaya tersenyum lebar.
"Baik Bu," ucap Tanaya sedikit menunduk.
Byan kembali menariknya kuat, bahkan hampir membuat ia terpeleset, Byan memang benar membawa Tanaya ke UKS.
"Aku gak sakit Kak Byan," protes Tanaya ketika ia dihempas pelan oleh Byan di kursi yang ada didalam UKS.
"Kenapa menyembunyikan saudara laki-lakimu?"