
"Kak Ranaya." kaget Tanaya ketika mendapati kakaknya berada dirumah.
"Dari mana kamu?!" tanya Ranaya dengan tatapan tajam, terlebih pada Byan.
"Kamu siapa?!" tanyanya pada Byan yang hanya tersenyum remeh.
"Saya pacarnya." jawab Byan membuat Ranaya membola.
"Kamu udah pacaran?" tanya Ranaya menatap Tanaya semakin tajam.
"Kak, aku ...," Tanaya tak punya jawaban.
"Tanaya, kamu boleh pacaran, kakak gak akan larang, tapi masalahnya jam berapa ini, tidur dimana kamu semalam?" tanya Ranaya membuat Tanaya ketakutan dan akhirnya buntu.
"Ini udah pagi, dan kalian baru pulang." Ranaya semakin membuat Tanaya panik, Byan hanya diam, terlihat santai tanpa beban.
"Kakak mau kerja sama dengan Kak Rafa gak?" tanya Byan membuat wajah Ranaya berubah seketika, Ranaya tampak padam dan memasang wajah bingung.
"Kamu kenal Rafa?" tanya Ranaya penasaran, Tanaya sampai kaget pasalnya Ranaya mendorongnya untuk menyingkir dari hadapannya.
"Oh ya kak, semalam Tanaya tidur di apart saya, itu dikarenakan kami pulang kemalaman karna macet, takut ganggu tetangga disini, tapi tenang, kami pisah ranjang kok, kakak bisa liat CCTV- nya kalo gak percaya." terang Byan membuat Tanaya menghela nafas lega.
"Yaudah, gak papa. Soal Alrafa, gimana?" tanya Ranaya tampak ramah, perempuan itu memberikan senyum manisnya pada Byan.
"Dia teman kakak laki-laki saya, dia sedang butuh kawan bisnis untuk usahanya." terang Byan membuat Ranaya kegirangan.
"Boleh bantu saya?" tanya Ranaya tampak berharap.
"Nanti aku hubungin kalo ada kabar baru, boleh minta nomor kakak?" tanya Byan membalas senyuman Ranaya, dengan cepat Ranaya menyodorkan ponselnya agar Byan dapat menyalinnya.
"Baiklah kak, aku akan urus semuanya, Tanaya, cepatlah bersiap-siap, nanti kita telat." ucap Byan menatap Tanaya yang masih dilanda kebingungan.
"Bentar." ucap Tanaya masuk kedalam rumahnya dengan ragu, sungguh ia merasa aneh dengan kakaknya sekarang.
"Kamu tunggu didalam ya." Ranaya membuka pintu lebar-lebar, membiarkan Byan masuk kedalam.
*
*
*
*
"Dia naksir lo kayaknya." Byan tampak berbicara ditelepon, pemuda itu sedang diparkiran sekolah, menunggu Tanaya keluar dari kelasnya, ini sudah jam pulang.
"Bagus deh, ini terlihat lebih mudah." jawab dari sebrang.
"Itu nomornya gue kirim, selamat beraksi om." ucap Byan terkekeh.
"Makasih Yan, makin sayang sama anak pak Galang."
"Anjing!"
Tut!
"Sial!" umpat Byan mematikan sambungan telepon.
"Kakak marah sama siapa?" tanya Tanaya melirik ponsel Byan.
"Langsung masuk mobil, gue masih nunggu seseorang." ketus Byan memasukkan ponselnya kedalam saku.
"Kalo gak ikhlas, biar aku jalan aja," ucap Tanaya memilih untuk berjalan kaki, ia tak mau jadi beban.
"Jangan bertingkah Tanaya, gue bilang masuk ya masuk." tekan Byan membuat langkah Tanaya berhenti.
"Kalo kakak marah, yaudah aku pergi." Tanaya kembali melanjutkan langkahnya, ia merasa ucapan Byan barusan hanyalah hiasan agar tidak terlalu nampak menyuruh ia pergi.
"Tanaya putri Utami!"
Tanaya membalikkan badannya, ia sebentar dibuat bingung pasalnya Byan ternyata tau nama lengkapnya, bahkan ia sendiri hampir lupa nama lengkapnya.
"Kak Byan tau ---"
"Cepat masuk Tanaya, masuk!" sela Byan menarik kasar tangan Tanaya membawa gadis itu masuk ke mobilnya, ia mendorong kasar agar Tanaya cepat-cepat masuk ke mobil.
"Hay By!"
Byan menoleh, tepat waktu, orang yang ia tunggu-tunggu akhirnya tiba juga, ia menatap datar pemuda itu saat tersenyum ramah padanya.
"Byan aja, gak usah By - By an segala Riko!" dinginnya meraba sakunya.
"Iya bee." ledek laki-laki itu tersenyum puas, senang rasanya mengganggu manusia satu ini.
"Lu mau gue tampol?" tanya Byan menatap Ruko tajam.
"Ini lima juta. Lo jaga adek gue, stay dekat rumah gue jam tujuh, ikutin mereka yang katanya kepasar malam, kasih tau gue kalo darurat." Byan menyodorkan amplop yang diambil Riko dengan senyuman.
"Senang bekerja sama dengan bos." Riko menerima uang itu dan segera berlalu.
Byan segera masuk ke mobilnya, Tanaya menatapnya curiga "Kakak suap dia atas dasar apa?" tanya Tanaya.
"Lo gak perlu tau." ketus Byan menjawab.
"Aku udah rekam ya kak, jadi kakak mau jujur atau enggak?!" ancam Tanaya menunjukkan ponselnya.
Byan menghela nafas panjang, ia meraba ponselnya disaku, mengotak atiknya dan kemudian ia tersenyum puas "yah, ponsel kamu mati," ucap Byan pura-pura terkejut.
"Eh, kok bisa mati sih, padahal tadi masih tujuh puluh dua persen!" Tanaya mengetuk-ngetuk ponselnya, berharap benda itu hidup kembali.
"Ingat Tanaya, udah gue sadap."
Tanaya membola, ia lupa, ia benar-benar lupa!
"Tadi nakal ya, nge-stalking akun cowok. Lo gatel juga ya, masih ingat' kan lo udah rusak?" tanya Byan menatap tajam pada Tanaya.
"Emangnya kenapa, lagian kita gak punya hubungan apa-apa ..., selain karna kakak perkosa aku." jawab Tanaya membuat Byan menggeram.
"Lo mau mati?" Byan menarik rambut Tanaya, sungguh Tanaya sangat terkejut sekaligus kesakitan, ia tak menyangka Byan ternyata kasar luar dalam, menyakiti perasaan, mental bahkan fisik.
"Kak Byan, tolong lepasin." pinta Tanaya berusaha tidak menangis, ia tidak mau terlihat cengeng.
"Ingat ya, hari ini, ditanggal ini! Didetik ini! Lo milik gue, lo pacar gue! Lo masa depan gue ..., Tanaya!" Byan masih menarik rambut Tanaya, gadis itu tampak mengenaskan, ia hanya menutup matanya rapat-rapat, tak berani melawan, bahkan menyentuh tangan Byan pun tidak, ia hafal sekali jika disentuh, maka akan semakin kuat.
"Paham?!" tanya Byan semakin menarik rambut Tanaya kuat.
"Iya kak Byan, aku punya kakak, aku pacar kakak." Isak Tanaya tak lagi tahan dengan air matanya, rasanya sakit, sangat sakit, rambutnya rasanya hampir mau copot semua.
Byan akhirnya melepaskan jambakannya, ia tersadar bahwa ia terlalu berlebihan, ia terlalu kasar pada Tanaya, hatinya tergerak ketika mendengar Isak tangis Tanaya yang sebisa mungkin Tanaya tahan untuk tidak menimbulkan suara.
"Maaf Tanaya." Byan mengelus rambut Tanaya yang baru saja ia tarik.
"Maaf," lirihnya mengusap wajah Tanaya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih mengelus bahkan sesekali meniup rambut Tanaya.
"Gue gak sadar." ucap Byan merasa sangat bersalah.
"Berarti hiks, pacarannya gak jadi?" tanya Tanaya dengan mata masih berbanjir buliran air mata.
"Aku menyimpan sebuah rasa padamu Tanaya, kamu berhasil merebut hati batu ini. Kamu orang pertama yang berhasil memecahkan kegumpalan ini," terang Byan membuat Tanaya tercengang.
"Kakak suka ..., aku?" tanya Tanaya tak percaya.
"Lebih dari itu, jika sudah umurnya, bahkan aku siap menikahimu, menjadikanmu perempuan paling bahagia diantara keluargamu, jika diantara semua perempuan, mungkin aku tak sanggup." Byan terkekeh sendiri dengan ucapannya.
"Aku mau kamu jadi pacarku, mau?" tanya Byan menutup mulut Tanaya yang hendak bicara.
"Pilihanmu hanya dua, antara 'iya' atau 'aku terima.' tutur Byan yang dibalas gelengan oleh Tanaya.
"Itu tidak ada dipilihan." ucap Byan datar.
"Ahk! Lepasin dulu tangan kakak." Tanaya mendorong tangan Byan agar menjauh dari bibirnya.
"Yaudah, apa?" tanya Byan mengelus tangannya yang terbanting kuat.
"Tapi kakak kasar." protes Tanaya berharap Byan mengatakan akan mencoba berubah.
"Jangan berani membantah perintah dari gue, emm maksudnya aku, kalo kamu bantah, aku akan tetap kasar, kalau kamu kayak tadi ..., nge-stalking akun cowok, aku lebih kasar, terlebih kalo kamu dekat sama laki-laki manapun, termasuk ayahku!" terang Byan panjang lebar, ia tak akan merubah sifatnya.
"Intinya aku gak mau sakit hati, kalo kamu pergi lari dari aku, aku gak akan perduli kalo kamu gak punya tangan dan gak punya kaki, gak masalah punya istri cacat."
Tanaya meneguk ludahnya kasar, resikonya tampak lebih besar dari yang ia duga.
"Lupakan, kamu gak perlu jawab, pokoknya sekarang kamu milik Byan Albyansah. Satu lagi, un follow semua yang kamu follow di Instagram, lakukan cepat sebelum aku menghapus akun kamu juga!"
Tanaya tidak menjawab, ia segera membuka ponselnya, melakukan secara kilat perintah Byan barusan, Byan segera melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan sekolah yang benar-benar sudah sepi.
.
.
.
.
.
Typo bertebaran, harap bijak dalam membaca.