
"Kak, rasanya perut aku kosong, ini udah mau satu bulan, tapi gak ada tanda apa-apa." keluh Tanaya saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Byan memang mengajak Tanaya kembali periksa, ini adalah jalan supaya ia bisa membuat seolah Tanaya keguguran.
"Lo diem, gue bukan dokter." ketusnya membuat Tanaya terdiam.
Mereka akhirnya sampai dirumah sakit, Byan langsung berjalan menuju ruangan yang telah dijanjikan bertemu dengan sang dokter, Tanaya mengekor dari belakang.
Setelah diperiksa, dokter itu segera melayangkan beberapa pertanyaan.
"Kamu banyak fikiran?" tanya dokter itu bertanya pada Tanaya.
Tanaya menggeleng, ia berbohong.
"Kamu keguguran, ini disebabkan oleh stres berlebihan, apa yang membebani fikiranmu?" tanya dokter itu membuat Tanaya kicep, ia ketahuan berbohong.
"Keguguran?" kaget Byan membola, ekspresi itu cukup meyakinkan Tanaya, gadis itu tampak ketakutan namun terlihat ringan, rasanya bercampur aduk mendengar hilangnya calon bayi dalam perutnya.
"Aku udah bunuh seorang anak yang gak berdosa yang bahkan belum jadi." renung Tanaya membatin, sungguh ia merasa sangat bersalah.
Dokter itu mengangguk menjawab pertanyaan Byan "Kenapa kamu takut? Bukankah kamu akan lebih baik jika dia tidak ada?" tanya dang dokter beralih pada Tanaya.
"Bisa kita pulang sekarang, Kak?" Tanaya mencoba mengacuhkan pertanyaan sang dokter, bahkan ia sendiri tak bisa menjawab.
*
*
*
*
Byan hanya diam ketika Tanaya tampak cemas, terlihat dari gerak geriknya yang sama sekali tak bisa diam duduk di kursi.
"Bagus dong bayinya mati." akhirnya Byan angkat suara.
"Diam Kak Byan, jangan ikut campur!" bentak Tanaya yang entah mendapat keberanian dari mana.
Byan hanya memaklumi itu, ia akan membiarkan Tanaya meratapi kebodohannya, meratapi kepergian seseorang yang jelas tidak pernah ada.
"Makasih tadi udah beresin apart gue." ucap Byan yang sedetik kemudian terbelalak, tiba-tiba ia mengucapkan terimakasih pada Tanaya, itu diluar kesadarannya.
"Kakak diam dulu, iya sama-sama." kesal Tanaya menatap malas pada Byan yang terus mengganggunya.
"Malam ini tidur di apart gue."
Tanaya gantian membola, ia melirik Byan yang fokus pada jalanan "kakak bercanda?" tanya Tanaya berharap Byan menjawabnya iya.
"Gue gak terima penolakan Tanaya, ingat ..., lo udah janji, jangan buat gue hilang kesabaran." peringat Byan sebelum Tanaya menolak.
"Tapi kak, itu gak baik."
"Atau mau kakak lo yang gantiin?" tutur Byan membuat Tanaya menghela nafas panjang, ia tak perduli, ia mau Tanaya tidur di apartemennya.
"Tapi aku tidur di lantai aja."
"Tapi gue mau seranjang." Byan kembali berkeras, ia tak akan menerima negoisasi.
"Kak, it---"
"Kita pernah seranjang Tanaya!" potong Byan kali ini menoleh pada Tanaya, suaranya yang keras membuat Tanaya terkejut, kini perempuan itu hanya diam dan memilih tak melanjutkan perdebatan, toh ia juga yang akan kalah.
"Maafin adikmu yang kotor ini kak Nay." batin Tanaya mengingat pesan kakaknya ketika hendak meninggalkannya di Malang untuk pergi bekerja.
'Sekolah yang bener, jangan macam-macam. Kakak bakal perjuangin pendidikan kamu sampai kuliah.'
Tanaya memejamkan matanya, baru saja lima menit berlalu, tampak Tanaya sudah terlelap sekali.
Ketika sudah sampai, Byan memilih menggendong Tanaya, dari pada membangunkan Tanaya dan membuat kembali perdebatan diantara mereka.
"Rasanya gak salah kamu aku nikmati dengan nyata." batin Byan dengan fikiran iblisnya.
"Ingat pesan mama, jangan ambil mahkota perempuan!" tekannya mencoba positif, ia menyelimuti Tanaya dan ikut berbaring disampingnya, ia masih menjaga jarak dengan menaruh guling diantara mereka.
Namun karena ucapan ibunya selalu terngiang-ngiang di kepalanya, ia memilih untuk tidur disofa, tak tega rasanya membuat Tanaya kembali terbebani dengan apa yang terjadi kali ini, sudah banyak ia membuka Tanaya terluka, bahkan hancur dan tak punya harapan.
Ting!
Ting!
Ting!
Tanaya terganggu oleh suara dentingan, ia mengucek dan segera membuka matanya, ia langsung tertuju pada Byan yang terlelap disofa, seutas senyum terbit dibibirnya, ternyata Byan tak sebrengsek yang ia kira semalam.
Tanaya meraih ponselnya, ia melihat spam chat dari Amanda.
Amanda💙
[Lo keluar ya keluar aja]
[Jangan keluarin gue juga bangsat]
[Zean gak larang gue kok semalam]
Tanaya mengepalkan tangannya, meninju pelan ponselnya kala geram dengan Amanda.
\[Anak Victor, diam lo\]
\[Lo gak ngerti apa-apa.\]
[Nama bapak gue!]
\[Rese🖕\]
[Nay, kenapa lu keluarin gue?]
\[Kak Byan yang nyuruh, protes
sana sama Kak Byan\]
[Rese tuh cowok]
\[Gue screenshot ni\]
[Bangsat🖕]
Tanaya terkekeh, ia hendak membalas pesan itu lagi, namun ia tak sadar ternyata Byan sudah ada dihadapannya, pemuda itu merampas ponselnya serta membaca chat dari Amanda.
"Kak Byan, itu privasi." Tanaya mencoba mengambil ponselnya kembali.
"Kapan gue larang Amanda?" tanya Byan menatap datar Tanaya.
"Dia gak boleh ikut, lagian dia sendiri yang bilang, kalo aku gak ikut, dia juga gak akan ikut." jawab Tanaya dengan raut wajah kesal.
"Yaudah, balikin kak. Kakak gak bisa jaga privasi aku?" kesal Tanaya berdiri diatas kasur ketika Byan meninggikan ponselnya.
"Duduk!" Byan menarik tangan Tanaya kuat hingga gadis itu terbanting kuat, untung jatuhnya diatas kasur.
"Privasi lo bilang?" tanya Byan menatap tajam pada Tanaya yang kebingungan, ia hanya mengangguk ragu.
"Aku bakal nyadap ponsel kamu, jadi penggunaan ponsel kamu, semua aku yang atur! Akun akun sosial media kamu juga aku yang pegang!" Byan tampak marah dan emosi, ia berjalan kearah sofa, duduk disana dan membuka laptopnya yang terletak di meja.
"Kak Byan, jangan dong." pinta Tanaya turun dari atas kasur.
"Kembali naik! Jangan berani menginjak lantai atau kakimu kupotong nanti!" ancam Byan berhasil membuat Tanaya ketakutan, gadis itu tampak kembali melompat keatas kasur.
Byan mulai mengerjakan tugasnya, ia menyadap ponsel Tanaya, jadi apapun yang dibuka Tanaya setelah ini, akan terlihat diponselnya dan juga laptopnya, ia juga memegang semua akun Tanaya, bahkan bisa membatasi waktu penggunaan ponsel Tanaya, kini ponsel Tanaya sepenuhnya terbuka untuk Byan.
"Kamu punya aku Tanaya, aku gak akan biarin kamu lepas." batin Byan sembari menutup laptopnya.
"Ambil." Byan melempar ponsel Tanaya diatas kasur, ia berjalan kearah kamar mandi, ia harus segera bergegas, karena sebentar lagi ia harus mengantar Tanaya pulang.
"Jangan beranjak!" peringat Byan sebelum benar-benar masuk ke kamar mandi.
Tanaya menjulurkan lidahnya, meluapkan kekesalannya pada Byan, kenapa ponselnya ikut tertekan batin, ia' kan jadi kasihan.
"Dasar bencong!"