
"Kamu sekarang benar-benar anak ayah yang dewasa." Galang duduk disamping Byan, kini mereka tengah berada di restoran yang Byan tidak ketahui namanya, raganya memang disini, namun hati dan fikirannya melayang-layang diatas genteng rumah Tanaya, mungkin.
Byan sedikit bergeser, menjauh dari Galang yang akhirnya melepas tangannya dari baju Byan.
"Senyum Byan, ini hari bahagia kamu." ucap Sarah membuat Feby tersenyum tertahan.
"Lebih tepatnya hari bahagia kalian, dan hari penderitaan Byan." Byan membenarkan ucapan Sarah menurut sisi pandangnya.
"Byan ..., jaga bicaramu. Tidak lucu jika penyakit mama kambuh disini." peringat Farel dingin.
"Lebih baik diam, tidak bisakah matamu lihat,kau tidak dianggap Farel. Lihat saja, aku melangkahimu." Byan tersenyum sinis.
"Maaf, saya terlambat om, Tante."
Byan berusaha tidak berekspresi, ia menatap seorang lelaki seumuran Farel yang duduk dihadapannya.
"Apa ini jodohku? Gak mungkin ini orangtuanya jodohku, apa ...?" Byan tak melanjutkan suara hatinya.
"Lo gay?"
Galang dan Sarah terkejut, Feby dan laki-laki asing itu juga, hanya Farel yang terlihat biasa dengan ucapan Byan barusan.
"Hai Byan, saya Febry." laki-laki yang mengaku bernama Febry itu mengulurkan tangannya.
"Namamu sama persis dengan ***** di kelas pacar saya." kasar Byan membalas uluran tangan laki-laki itu.
"Ternyata kamu benar-benar jujur, aku suka." puji Febry tersenyum manis.
"Lo suka. Oke, biar gue kasih tau, cari cermin sana, lihat mata lo yang mirip Kukang itu, juga rambut lo yang kayak dikasih sambal belacan, muka lo juga bolong-bolong, cih ..., jelek sekali." Byan berdecih sembari membuang wajahnya.
Gadis yang sedari menguping pertemuan perjodohan itu, tertawa tertahan, Byan benar-benar tampak kesal, itu sesuai rencananya.
"Kata-kata adikku jauh lebih buruk dari ucapanmu, kalian sefrekuensi." timpal Febry masih tampak santai.
"Lo siapanya jodoh anjingg gue itu?"
"Astaga Kak Byan." Feby menutup bibirnya rapat-rapat, Byan benar-benar terpancing dan tak lagi punya sopan santun.
"Saya kakaknya, sebentar, dia akan datang."
Byan tersenyum sinis, ia meraih ponselnya dan mengangkat kakinya keatas meja, Galang menggelengkan kepalanya, jadi ini seorang Byan jika keinginannya tak sesuai realita.
"Ayank ...,"
Terdengar suara perempuan ditelinga Byan, ia mendongak menatap gadis yang duduk disamping Febry.
"Hallo semua."
Byan mendongak menatap Rafa dan Ranaya yang berjalan berdampingan, kini meja itu sudah dipenuhi oleh kehadiran mereka semua, mereka semua tampak bersukacita, terkecuali Byan yang masih berada diombang-ambing kebingungan.
"Byan, yang papah maksud jodoh kamu, ya Tanaya." ungkap Galang membuat Byan melotot kaget.
"HAPPY BIRTHDAY!"
Pekik semua orang dengan ria, untungnya ruangan itu memang ruangan VIP yang sudah dipesan khusus untuk pertemuan mereka.
"Happy birthday kak Byan monyet." ~Tanaya Putri Utami.
"Happy birthday anak papah."
~Galang Ardiansyah.
"Panjang umur sehat selalu putra kecil Bunda,"
~Sarah Hazeela.
"Semoga duluan kamu yang mati dari saya."
~Farel Ardianta.
"Berikan restumu untuk aku dan Reno kak."
~Febyana Herlita.
"Aku kembali dan sadar atas kesalahanku pada kedua adikku, oleh karenanya kuserahkan Tanaya padamu, gantikan kasih sayang yang seharusnya ia dapatkan dari aku, selamat ulang tahun, Byan."
~Febry.
"Copy kata-kata Kak Febry, jangan kasih kendor malam pertama. Etss! Pernikahannya masih lama ya! Happy birthday!!"
~Ranaya Amelia.
"Selamat bro, makin pendek umur. Setelah ini kita jadi saudara, Tanaya istri kamu, Ranaya istri aku."
~Alrafa
Akhir yang bahagia untuk mereka yang terpilih, hal itu tentu tak luput dari masalah, selamat beraktifitas dan salam hangat dari author, sampai berjumpa dijudul baru selanjutnya.