
"Lo mau apa dari gue Byan, gak usah pake ikat-ikat segala." protes Tanaya ketika Byan melilit tubuhnya menyatu dikursi dengan tali.
"Tali ini gak akan gue lepas kalo lo menolak permintaan gue." tutur Byan sembari terus melilit Tanaya dengan ketat.
"Permintaan? Bukannya lo suka maksa ya?" tanya Tanaya bingung.
"Masalahnya gue butuh sandiwara dari lo." lanjut Byan menerangkan.
"Dengar! Besok lo harus jadi pacar gue." ungkap Byan dari arah belakang kursi.
"Buat?" tanya Tanaya merasa aneh, permintaan macam apa itu.
"Mau buat orang gerah." jawab Byan berpindah berdiri dihadapan Tanaya.
"Ya lo' kan bisa cari cewe lain yang lebih berkelas, dan yang masih perawan." balas Tanaya sedikit perih untuk kata-kata terakhirnya.
"Gue bisa aja nyebarin video itu Tanaya, gue juga bisa nyakitin kakak lo yang gak seberapa itu, tapi sekarang gue butuhnya persetujuan dari elo. Tali ini cukup menjelaskan kalo lo harus jawab 'iya' ...," ucap Byan membuat Tanaya terdiam cukup lama.
"Gue gak mau! Cukup ya selama ini gue selalu digosipin yang enggak-enggak sama mereka, cukup gue disindir terang-terangan, cukup gue dilabrak dan dipermalukan di sekolah!" latah Tanaya menekan setiap kata-katanya.
"Siapa yang lakuin itu?" tanya Byan menarik kursi untuk duduk dihadapan Tanaya.
"Gue gak tau, dari kakak kelas ada, dari yang sebaya juga ada. Bahkan dari adik OSIS juga ada." jawab Tanaya mengalihkan pandangannya.
"Tunjuk besok siapa-siapa aja orangnya," ucap Byan bersandar dikursinya.
"Lo mau mereka diapain terserah deh." lanjut Byan menghembuskan nafasnya.
"Lo fikir gue kayak elo, sorry ya kita gak sedarah." Tanaya memutar bola matanya.
"Jangan sampai lo jadi orang selanjutnya yang bibirnya gue bakar ya!" ancam Byan berdiri tegak.
"Lo p-pernah bakar bibir orang sebelumnya?" tanya Tanaya gugup.
"Sekarang balik ke pertanyaan sebelumnya, lo mau jadi pacar jadi-jadian gue apa enggak. Gue gak bakal maksa, lo juga berhak memilih." ujar Byan tersenyum tipis.
"Gue ..., gak ..., mau!" tolak Tanaya mentah-mentah.
"Okay, gue mandi dulu, nanti pas balik kasih tau gue kalo ada perubahan." Byan berujar santai, ia berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Tanaya yang masih terikat.
"Gue gak akan mau jadi pacar dia, udah cukup masalah yang menimpa gue selama ini gara-gara foto MOS itu." batin Tanaya tetap menolak.
Sekitar sepuluh menit, Byan keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk di pinggangnya, Tanaya tidak melihatnya, karna posisinya membelakangi Byan.
"Ada perubahan nona?" tanya Byan sembari memakai bajunya.
"Byan, please ..., lepasin gue, gue gak akan mau." Tanaya menyandarkan kepalanya sembari menghembuskan nafas gusar.
"Lo bebas dengan jawaban menolak, buang jauh-jauh fikiran semacam itu Tanaya, sampai lo jadi tengkorak pun gue gak akan bebasin lo!" Buah kini sudah siap dengan pakaiannya, ia mengambil jaket kemudian kunci serta ponsel yang ia taruh diatas kasur.
"Gue main dulu, ntar gue balik lagi buat nanya lo mau apa nggak." tutur Byan berjalan kearah pintu, mematikan lampu kemudian menutup pintu dari luar.
"Byan, ini gelap! Byan gue gak bisa liat apa-apa! Byan lepasin gue!" teriak Tanaya membuat Byan kembali masuk dengan tergesa-gesa.
"Suara lo sampai keluar, bisa bahaya kalo ada yang dengar." Byan menajamkan tatapannya pada Tanaya.
"Sampai keluar ya?" tanya Tanaya pelan, Byan pun tak bisa mendengarnya.
"Tolong! Tolong! Saya disekap! Tolong!!!" teriak Tanaya sekencang-kencangnya, Byan yang mendengar itu sontak berlari dan membekap mulut Tanaya kuat.
"Sial." umpat Byan melihat sekeliling, adakah sesuatu yang bisa membuat Tanaya diam.
"Gue gak bisa biarin lo pingsan, lo harus ngerasain penderitaan dan ruang untuk mengubah keputusan." batin Byan ketika melihat obat tidur diatas nakas.
"Byan berlari membiarkan Tanaya kembali berteriak, dengan sigap Byan kembali dan membekap mulut Tanaya hingga teriakan Tanaya menghilang.
"Lo benar-benar nyusahin ya." omel Byan melakban bibir Tanaya hingga Tanaya tak dapat lagi bersuara.
"Okay, selamat tinggal nona." ucap Byan meninggalkan Tanaya, tak lupa mematikan lampu membuat Tanaya ketakutan setengah mati, Tanaya benar-benar tak bisa melihat apa-apa, hal itu membuat ia menangis.
Baginya, ruangan ini adalah awal mula penderitaannya, mulai dari kesuciannya yang direnggut, dijadikan pembantu, bahkan kini menjadi tempat ia disekap.
Sekuat pukul sepuluh, Byan kembali ke apartemennya, ia menghidupkan lampu dan melihat Tanaya yang masih terjaga, dengan mata sembab gadis itu tetap membuka matanya lebar-lebar.
"Wahh, wajahmu seperti dicakar anjing." ledek Byan terkekeh.
"Liat, gue bawa makanan enak. Lo mau?" tanya Byan menunjukkan kotak yang ia bawa.
Tanaya tidak menjawab, ia hanya diam memandang Byan yang tersenyum manis.
Byan membuka lakban dibibir Tanaya lembut "lo lapar' kan? Gue suapin ya." ucap Byan mengambil sesendok nasi kemulut Tanaya.
"Lo udah mau?" tanya Byan menarik kembali sendoknya, padahal Tanaya telah membuka mulutnya.
Tanaya menggeleng, ia hanya diam ketika melihat Byan menutup kembali kotak berisi nasi itu, ia begitu lapar dan haus, namun ia tak bisa setuju dengan permintaan Byan.
"Nasinya gue buang aja." Byan bangkit berdiri.
"Jangan Byan, gue lapar." cicit Tanaya pelan.
"Lo makan..., itu sama artinya lo setuju dengan permintaan gue," ujar Byan kembali duduk dihadapan Tanaya.
"Kenapa lo kejam banget, lo sebenarnya punya hati gak sih? Padahal mama sama adik lo baik, kenapa lo kayak gini jadinya? kayak anak pungut." celoteh Tanaya sembarangan.
"Gue dicetaknya kasar, makanya kayak gini." terang Byan tak kalah sembarangan.
"Gue bisa bertanggungjawab atas gangguan dari siswa-siswi lain disekolah kita. Lo bakal aman tanpa gangguan apapun Tanaya, jadi lo gak usah khawatir. gue cuma butuh sandiwara kalo lo memang pacar gue." terang Byan memasang mimik serius.
"Gue mau pulang Byan, ini udah malam, dicap apa gue nanti berduaan sama laki-laki yang belum menjadi suami gue." pinta Tanaya tidak menjawab penuturan Byan.
"Lo gak sopan ya manggil nama gue, lo tau sendiri gue kakak kelas lo." Byan mendatarkan wajahnya.
"Maaf kak Byan, tapi aku mau pulang." ucap Tanaya memejamkan matanya, ia lelah dengan semua ini, ia ingin bergerak bebas.
"Gue bakal sebarin video itu Tanaya, gue gak main-main." ancam Byan mengambil ponselnya dari dalam saku, Tanaya yang melihat itu menjadi panik.
"Jangan Byan! Eh- Jangan kak Byan! Aku minta tolong ...," Tanaya berusaha menghampiri Byan yang berjalan menjauh darinya.
"Lo liat?" Byan menunjukkan ponselnya, video dengan gambar awal Byan menindihnya membuat Tanaya menggeleng cepat.
"Jangan, please." pintanya memelas.
Byan tampak tak perduli, ia kembali pada ponselnya "Bentar masih loading." ucapnya membuat Tanaya semakin ketakutan, ditambah Byan menunjukkan ponselnya yang tampak mengunggah namun terhalang karna jaringan.
"Iya kak Byan, aku mau! Aku mau jadi pacar kakak." ucap Tanaya menyetujui permintaan Byan.
Byan yang mendengar itu tersenyum miring, ia membatalkan unggahan itu, sebenarnya tadi ia mematikan sambungan datanya, untuk itu alasan videonya tidak terunggah, ditambah video itu hanya adegan tindihan saja, tidak sampai melucuti Tanaya.