
SMA Sinar Purnama
Sekolah itu tampak ramai kali ini, dikarenakan seluruh siswa-siswinya telah kembali bersekolah, sekolah itu kembali aktif seperti biasa, namun belum memulai pembelajaran karena masih dalam proses PLTS.
"Jika sampai jam dua belas kalian tidak menemukan dan melaksanakan syarat, maka siap-siap mendapat hukuman dan akan dipersulit untuk masuk ke SMA ini!" tegas Eman di depan barisan siswa PLTS.
"Sebenarnya ini PLTS atau apa sih, parah banget." Tanaya menghembuskan nafas gusar.
"Baiklah, kalian kami dipersilahkan bubar." lanjut Eman membubarkan barisan.
Tanaya yang masih belum punya teman hanya bisa berjalan sendirian menyusuri luasnya sekolah itu, ia bahkan tau tahu nama yang ia dapat ini kelas berapa dan seperti apa wujudnya, tapi ia percaya, jika ia bertanya pasti ia akan mudah mendapatkannya.
"Permisi kak, cowok yang namanya Byan Albyansah kelas berapa yaa?" tanya Tanaya pada rombongan kakak kelas yang melewatinya.
"Lo dapat nama dia?" tanya salah satu dari mereka.
"Sumpah, gue gak tau lo terselamatkan atau nggak." gumam salah satu dari mereka pelan.
"Gak tau dek, gak kenal." jawab salah satu dari mereka langsung meninggalkan Tanaya.
"Kok gak lo kasih tau?"
"Gue gak mau Byan tau kalo gue yang ngasih tau nama dia.".
"Lo bener, jangan sampai kita bersangkutan dengan pemuda itu."
"Kayaknya dia perempuan baik-baik, tapi kenapa nasibnya enggak yaa."
Tanaya menggigit bibirnya khawatir, apa yang ia dengar barusan sungguh berbanding balik dengan penuturan salah satu kakak OSIS yang menukar nama ini dengannya.
Eman duduk di kantin bersama para sahabatnya, ia sengaja menunggu di tempat ramai itu supaya orang menyaksikan ia akan dicium oleh Tanaya, nanti.
"Kak Jery ya?" tanya seorang perempuan menghampiri meja Eman.
Perempuan itu mengangguk, 'lumayan nih' batin Jery bahagia, perempuan yang mendapatkan namanya ini lumayan cantik bahkan bohai, walaupun hanya sekedar cium pipi, yang penting ia bisa mengenal gadis cantik dihadapannya dan mungkin akan menjadi sasaran berikutnya.
"Mana sih dia, sesusah itu apa dia nyari gue, atau gak tau kalo nama gue Eman, tapi semalam dia dah nyebut nama gue. Ah gue tau, mungkin dia lagi ngulur waktu atau nyiapin diri biar gak gugup pas minta cium gue." batin Eman berteriak bahagia, rasanya ia tak sabar mencicipi bibir Tanaya di pipinya.
Di lain sisi, Tanaya terus mencoba keras mencari pemuda dengan nama Byan Albyansah, namun tak ada yang mengenal pemuda itu, tapi setiap ia menanyakan nama Byan, ia selalu mendapatkan tatapan terkejut dari yang ia tanya, membuat perasaannya semakin aneh pada pemuda yang satu ini.
"Kayaknya gue harus buat tak-tik supaya mereka ngasih tau, sebaiknya gue tanya sama yang cowok aja deh." semangat Tanaya membatin.
"Mungkin cowok ini ganteng banget, jadi mereka gak rela kalo aku nyium dia." ucapnya positif thinking.
Tanaya menghampiri sekumpulan laki-laki yang duduk di kantin ujung, Eman yang melihat dari jauh menahan ekspresi senyumnya sebisa mungkin, ia tak boleh kebablasan.
"Maaf kak, boleh nanya?" tanya Tanaya sopan.
"Dapat siapa dek, cantik amat." puji dari salah satu mereka + bertanya.
"Byan Albyansah, kakak tau?"
"Waduh, mampus." ucap mereka membulatkan matanya.
"Gak tau." ucap mereka bersamaan.
"Duh, padahal disuruh panggilin dia, ayahnya nunggu di depan." sungut Tanaya berpura-pura.
"Ouh, ayahnya nunggu di depan ya?" tanya dari salah satu mereka lagi. Tanaya hanya mengangguk lemah.
"Dia paling ujung di sebelah sana, yang pakai dasi." ucap salah satu dari mereka berbisik.
Tanaya mengikuti tangan pemuda itu yang mengarah pada meja yang dihuni beberapa pemuda tampan yang tampaknya pemuda-pemuda nakal. terlihat dari baju yang keluar, tindik ditelinga, rambut acak-acakan serta tanpa memakai dasi, namun salah satunya memakai dasi namun tetap saja terlihat berantakan.
"Makasih ya kak," Tanaya tersenyum dan bersyukur akhirnya mendapatkan pemuda yang sedari tadi ia cari dengan susah payah.